adsense

May 05, 2020

Shuhaib bin Sinan Jual Beli yang Menguntungkan_LELAKI-LELAKI DI SEKITAR ROSULULLOH (Bagian ke 13)

Terima kasih Semoga bermanfaat Dan menjadi ladang pahala


Ia dilahirkan dalam buaian kemewahan. Ayahnya menjadi hakim dan walikota Ubullah yang berada di bawah kekuasaan Kisra. Mereka adalah orang-orang Arab yang pindah ke Iraq, jauh sebelum Islam datang. Di istananya yang terletak di pinggir sungai Eufrat yang berbatasan dengan Jazirah dan Mosul, anak itu hidup dalam keadaan senang dan bahagia.

Suatu ketika, negeri itu menjadi sasaran orang-orang Romawi yang datang menyerbu dan menawan sejumlah penduduk, termasuk Shuhaib bin Sinan. Ia dijual oleh saudagar-saudagar budak belian dan perkelanaannya yang panjang berakhir di Mekkah, yakni setelah menghabiskan masa kanak-kanak dan permulaan masa remajanya di negeri Romawi, hingga lidah dan dialeknya telah menjadi lidah dan dialek Romawi.

Majikannya tertarik oleh kecerdasan, keuletan, dan kejujurannya, hingga Shuhaib dimerdekakannya. Majikannya memberikan kesempatan kepadanya untuk dapat berniaga bersamanya.

Nah, sekarang mari kita dengarkan cerita rekannya yang bernama. Ammar bin Yasir, yang menuturkan peristiwa yang terjadi suatu hari, “Aku berjumpa dengan Shuhaib bin Sinan di muka pintu rumah Al-Arqam, yakni ketika Rasulullah sedang berada di dalamnya.

"Hendak ke mana kamu?" tanyaku kepadanya. "Kamu sendiri hendak ke mana?" jawabnya.

"Aku hendak menjumpai Muhammad untuk mendengarkan apa yang dia katakan."

"Aku juga menginginkan itu."

Kami pun masuk menemui Rasulullah. Beliau menawarkan Islam kepada kami dan kami menerimanya. Kami tinggal di sana sampai petang hari dan setelah itu kami meninggalkan tempat itu secara sembunyi-sembunyi.

Dengan demikian, Shuhaib telah tahu jalan ke rumah Al-Arqam. Artinya, ia telah mengetahui jalan menuju petunjuk dan cahaya, juga ke arah pengorbanan yang berat dan tebusan yang besar. Jadi, melewati pintu kayu yang memisah bagian dalam rumah Al Arqam dan bagian luarnya, maknanya bukan sekedar melewati ambang pintu semata, melainkan melangkahi batas batas alam secara keseluruhan. Yakni, alam lama dengan segala apa yang diwakilinya baik keagamaan dan akhlak, maupun peraturan yang harus dilangkahinya menuju alam baru dengan segala aspek dan persoalannya.

Melangkahi ambang pintu rumah Al Arqam yang lebarnya tidak lebih dari satu kaki, pada hakikatnya adalah melangkahi bahaya besar yang luas. Jadi, menghampiri rintangan itu (maksud kami keberanian melangkahi ambang pintu itu) berani mendeklarasikan datangnya suatu masa yang penuh dengan tanggung jawab yang tidak enteng. Apalagi bagi fakir miskin, budak belian, dan perantau, memasuki rumah Al-quam berarti suatu pengorbanan yang melampaui kemampuan yang lazim dari manusia.

Sahabat kita Shuhaib adalah anak pendatang atau perantau, sedangkan sahabat yang berjumpa dengannya di ambang pintu rumah tadi --yakni Ammar bin Yasir--;adalah seorang miskin. Tetapi mengapa keduanya berani menghadapi bahaya, dan mengapa mereka bersiap sedia untuk menemuinya?

ltulah dia panggilan iman yang tidak dapat dibendung. Dan itulah dia pengaruh kepribadian Muhammad, yang kesan-kesannya telah mengisi hati banyak orang, baik dengan hidayah maupun kasih sayang. Itulah dia daya pesona dari barang baru yang bersinar cemerlang, yang telah memukau akal pikiran yang muak melihat kebasian barang lama, bosan dengan kesesatan dan kepalsuannya. Di atas semuanya, itulah rahmat dari Allah Ta'ala yang dilimpahkan kepada siapa yang dikehendaki-Nya, serta petunjuk-Nya yang diberikan kepada orang yang kembali dan pasrah kepada Nya.

Shuhaib telah bergabung dengan kamah orang-orang beriman. Bahkan, ia telah membuat tempat yang luas dan tinggi dalam barisan orang-orang yang teraniaya dan tersiksa. Begitu pula dalam barisan para dermawan dan penanggung uang tebusan.

Sebuah riwayat telah menyebutkan bagaimana keadaan sebenarnya yang membuktikan rasa tanggung jawabnya yang besar sebagai seorang Muslim yang telah berbaiat kepada Rasulullah dan bernaung di bawah panji-panji Islam. Dituturkan dalam riwayat itu:

"Tiada suatu perjuangan bersenjata yang diterjuni Rasulullah, kecuali aku pasti menyertainya. Tiada suatu baiat yang dijalaninya, kecuali tentulah aku menghadirinya. Tiada suatu pasukan bersenjata yang dikirimnya, kecuali aku termasuk sebagai anggota rombongannya. Tidak pernah beliau bertempur, baik pada masa masa pertama Islam atau pada masa masa akhir, kecuali aku berada di sebelah kanan atau di sebelah kirinya. Dan kalau ada sesuatu yang dikhawatirkan kaum muslimin di hadapan mereka, pasti aku akan menyerbu paling depan. Demikian pula bila ada yang dicemaskan di belakang mereka, pasti aku akan mundur ke belakang. Aku tidak sudi sama sekali membiarkan Rasulullah berada dalam jangkauan musuh sampai beliau kembali menemui Allah (wafat -peny)."

Suatu gambaran keimanan yang istimewa dan kecintaan yang luar biasa. Shuhaib --semoga Allah meridhainya dan meridhainya semua sahabatnya-- memang layak mendapatkan keunggulan iman ini, sejak ia menerima cahaya Ilahi dan menaruh tangan kanannya di tangan kanan Rasulullah. Mulai saat itu hubungannya dengan dunia dan sesama manusia, bahkan dengan dirinya pribadi mendapatkan corak baru. Jiwanya telah tertempa menjadi keras dan ulet, zuhud, tidak kenal lelah, hingga dengan bekal tersebut ia berhasil mengatasi segala macam peristiwa dan menjinakkan bahaya.

Kami telah menuturkan di bagian sebelumnya bahwa ia selalu menghadapi segala akibat dan risiko dengan keberanian yang luar biasa. Ia tidak pemah mundur dari segala pertempuran atau mengucilkan diri dari bahaya. Kegemarannya dialihkan dari menumpuk keuntungan kepada memikul tanggung jawab. Dari menikmati kehidupan kepada mengarungi bahaya dan mencintai maut.

Hari-hari perjuangannya yang mulia dan cintanya yang luhur itu diawali pada saat hijrahnya. Pada hari itu ia meninggalkan segala emas dan perak, serta kekayaan yang diperolehnya sebagai hasil perniagaan selama beberapa tahun di Mekkah. Semua kekayaan ini, yakni segala yang dimilikinya, dilepaskan dalam sekejap, tanpa berpikir panjang atau mundur maju.

Ketika Rasulullah hendak berhijrah, Shuhaib mengetahuinya, dan menurut rencana ia akan menjadi orang ketiga dalam hijrah tersebut, di samping Rasulullah dan Abu Bakar. Tetapi, orang-orang Quraisy telah mengatur persiapan di malam harinya untuk mencegah hijrah Rasulullah. Shuhaib terjebak dalam salah satu perangkap mereka, hingga terhalang untuk hijrah sementara waktu, sedangkan Rasulullah dan sahabatnya berhasil meloloskan diri atas berkah Allah Ta'ala.

Shuhaib berusaha menolak tuduhan Quraisy dengan jalan bersilat lidah, hingga ketika mereka lengah ia naik ke punggung untanya, lalu dipacunya hewan itu dengan sekencang-kencangnya menuju padang pasir yang luas. Tetapi, Quraisy mengirim pemburu-pemburu mereka untuk menyusulnya dan usaha itu hampir berhasil. Saat Shuhaib melihat dan berhadapan dengan mereka, ia justru mengucapkan, “Wahai orang-orang Quraisy, kalian semua tahu bahwa aku adalah ahli panah yang ulung. Demi Allah, kalian tidak akan berhasil mendekati diriku, sebelum aku melepaskan semua anak panah yang berada di dalam kantong ini, dan setelah itu aku akan menggunakan pedang untuk menebas kalian sampai senjata di tanganku habis semua. Nah, majulah ke sini kalau kalian berani. Tetapi, kalau kalian setuju, saya akan tunjukkan tempat penyimpanan harta bendaku, asal saja kalian membiarkan aku pergi."

Orang-orang Quraisy tertarik oleh tawaran terakhir itu, dan setuju menerima hartanya sebagai imbalan dirinya. Mereka berkata, "Saat engkau datang kepada kami dulu, engkau adalah seorang miskin. Namun, sekarang, hartamu menjadi banyak di tengah-tengah kami hingga melimpah ruah. Dan sekarang, engkau akan pergi dengan membawa jiwa dan harta kekayaanmu?"

Shuhaib akhirnya menunjukkan tempat disembunyikan hartanya, dan sebagai gantinya mereka membiarkannya pergi. Orang-orang Quraisy pun kembali ke Mekkah.

Sungguh aneh sikap orang-orang Quraisy tersebut, sebab mereka langsung saja mempercayai ucapan Shuhaib tanpa bimbang atau bersikap waspada, hingga mereka tidak meminta suatu bukti, bahkan tidak meminta agar ia mengucapkan sumpah. Kenyataan ini menunjukkan tingginya kedudukan Shuhaib di mata mereka, sebagai orang yang jujur dan dapat dipercaya.

Shuhaib melanjutkan perjalanan hijrahnya dengan perasaan bahagia meski hanya seorang diri, hingga akhirnya berhasil menyusul Rasulullah di Quba'. Waktu itu Rasulullah sedang duduk dikelilingi oleh beberapa orang sahabat, dan tanpa diduga sebelumnya Shuhaib datang dan mengucapkan salam. Saat Rasulullah melihatnya, beliau berseru dengan gembira, "Sungguh menguntungkan jual beli Abu Yahya... Betapa menguntungkan jual belinya." Ketika itulah, Allah menurunkan ayatNya yang mulia:

_"Dan di antara manusia ada yang mengorbankan dirinya untuk mencari keridhaan Allah. Dan Allah Maha Penyantun kepada hamba hamba-Nya." (Al-Baqarah: 207)

Memang, Shuhaib telah membeli jiwanya yang beriman itu dengan segala harta kekayaan. Ia mengumpulkan harta kekayaan itu sepanjang masa mudanya, yakni seluruh usia mudanya dikerahkan untuk itu dan kini sedikit pun ia tidak merasa dirinya rugi. Apa artinya harta, emas, perak, dan seluruh dunia ini, asal saja imannya tidak terganggu, hati nuraninya berkuasa dan kemauannya menjadi raja.

Shuhaib sangat disayangi oleh Rasulullah. Di samping kesalehan dan ketakwaannya, ia adalah seorang periang dan humoris. Suatu hari Rasulullah melihat Shuhaib sedang makan kurma dan salah satu matanya bengkak. Rasulullah pun bertanya kepadanya sambil tertawa, “Mengapa engkau memakan kurma, sedangkan sebelah matamu bengkak?" Shuhaib menjawab, “Apa salahnya? Aku memakannya dengan mata yang sebelah lagi."

Di samping itu, Shuhaib adalah seorang pemurah dan dermawan. Tunjangan yang diperolehnya dari Baitul Mal dibelanjakan semuanya di jalan Allah, yakni untuk membantu orang yang kemalangan dan menolong fakir miskin yang sengsara, demi memenuhi dirman Allah Ta'ala:

"Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan." (Al-Insan: 8)

Jiwa kedermawanannya yang sangat besar itu bahkan mengundang peringatan dari Umar, ia kepada Shuhaib, “Aku melihatmu banyak sekali mendermakan makanan hingga melewati batas." Shuhaib menjawab, "Ituu karena aku pemah mendengar Rasulullah bersabda, 'Orang yang terbaik di antara kalian adalah yang suka memberi makanan.' "
Setelah diketahui bahwa kehidupan Shuhaib berlimpah ruah dengan keutamaan dan kebesaran, Umar bin Al-Khatthab memilihnya untuk menjadi imam bagi kaum muslimin dalam shalat mereka. Ini merupakan suatu keistimewaan yang memenuhi hidupnya dengan keakraban dan keagungan.

Ketika Amirul Mukminin ditikam oleh musuh sewaktu melakukan shalat Subuh bersama kaum muslimin, ia tidak lupa menyampaikan pesan dan kata-kata akhirnya kepada para sahabat. “Hendaklah Shuhaib menjadi imam kaum muslimin dalam shalat."

Ketika itu Umar telah memilih enam orang sahabat yang diberi tugas untuk mengurus pemilihan khalifah baru. Dan biasanya, khalifah kaum muslimin menjadi imam dalam shalat shalat mereka. Lantas siapakah yang akan bertindak sebagai imam pada masa transisi antara wafatnya Amirul Mukminin dan terpilihnya khalifah baru itu? Umar tentu saja tidak sembarangan mengambil keputusan, apalagi dalam saat-saat seperti itu, yakni ketika ruhnya yang suci hendak menghadap Allah. Ia akan berpikir seribu kali sebelum menjatuhkan pilihannya. Kalau ia telah memutuskan pilihannya, tentulah tidak ada orang yang lebih beruntung dan memenuhi syarat daripada orang yang dipilihnya itu.

Umar telah memilih Shuhaib. Ia memilihnya untuk menjadi imam bagi kaum muslimin menunggu terpilihnya khalifah baru yang akan melaksanakan kewajiban-kewajibannya. Ketika la memilihnya tentu bukan tidak tahu bahwa lidah Shuhaib adalah lidah asing. Peristiwa ini merupakan kesempurnaan karunia Allah terhadap hamba-Nya yang saleh, Shuhaib bin Sinan.“

No comments: