adsense

May 04, 2020

Abu Dzar Al-Ghifari_LELAKI-LELAKI DI SEKITAR ROSULULLOH (Bagian ke 5)

Terima kasih Semoga bermanfaat Dan menjadi ladang pahala

Abu Dzar Al-Ghifari datang ke Mekkah dengan semangat kegembiraan meski badan terasa sangat letih. Memang benar, sulitnya perjalanan dan panasnya udara padang pasir membuat tubuhnya sakit dan lelah, tetapi tujuan yang hendak dicapainya mampu meringankan penderitaan dan membangkitkan semangat dan kegembiraan dalam jiwa.

Ia memasuki kota sambil menyamar. Ia tampak seperti orang yang hendak melakukan tawaf mengelilingi berhala-berhala besar di Ka'bah, atau seorang musafir yang tersesat dalam perjalanan, atau lebih tepat orang yang telah menempuh perjalanan sangat jauh yang memerlukan istirahat dan menambah perbekalan.

Seandainya orang-orang Mekkah mengetahui bahwa kedatangannya itu untuk menemui dan mendengar keterangan Nabi Muhammad, mereka pasti membunuhnya. Namun ia tidak peduli meski harus dibunuh, asal saja itu dilaksanakan setelah dirinya melintasi padang pasir luas dan dapat menjumpai laki-laki yang dicarinya dan menyatakan beriman kepadanya. Mereka boleh membunuhnya tetapi setelah ia merasa lega dengan kebenaran dan dakwah yang diberikan oleh Nabi Muhammad.

Ia terus melangkah sambil memasang telinga. Setiap mendengar perbincangan tentang Nabi Muhammad, ia mendekat dan menyimak dengan hati-hati, dan dari cerita yang didapat di sana-sini, ia mendapati petunjuk yang bisa mengantarkannya ke tempat persembunyian Nabi Muhammad dan mempertemukannya dengan beliau.

Suatu pagi ia pergi ke tempat tersebut dan mendapati Nabi Muhammad sedang duduk seorang diri. Ia mendekati beliau dan berkata, "Selamat pagi, wahai kawan sebangsa."

Beliau menjawab, "Keselamatan untukmu. wahai sahabat." "Bacakanlah kepadaku syair Anda," kata Abu Dzar.

“Itu bukanlah syair yang dapat disenandungkan, melainkan Al-Qur'an yang mulia!" jawab Rasulullah.

"Bacakanlah kalau begitu!" kata Abu Dzar.

Rasulullah pun membacakan Al-Qur'an, sedangkan Abu Dzar mendengarkan dengan penuh perhatian, hingga tidak berselang lama ia pun berseru, "Aku bersaksi bahwa tiada Ilah (yang berhak disembah) selain Allah dan aku juga bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah."

"Dari manakah asalmu, saudara sebangsa?" tanya Rasulullah. "Dari Ghifar,” jawabnya.

Terbukalah senyum lebar di kedua bibir Rasulullah, sementara wajahnya diliputi rasa kagum dan takjub. Abu Dzar juga tersenyum, karena ia mengetahui apa yang tersimpan di balik rasa kagum Rasulullah saat mendengar bahwa orang yang telah mengaku Islam di hadapannya secara terus terang itu, seorang laki-laki dari Bani Ghifar.

Ghifar adalah suatu kabilah yang tidak mengenal siapa sasarannya ketika membegal di jalanan. Orang-orang Ghifar sangat terkenal sebagai biang keladi perampokan ilegal. Mereka adalah sahabat malam dan kegelapan. Celakalah orang yang kesasar atau jatuh ke tangan orang-orang Ghifar dalam perjalanan malam. Namun hari ini salah seorang dari mereka datang untuk menyatakan keislaman saat Islam baru saja lahir.

Sungguh, sulit dipercaya seorang dari Bani Ghifar sengaja datang untuk masuk Islam saat itu. Abu Dzar menuturkan sendiri kisah keislamannya tersebut, "Rasulullah pun menatap tajam seolah ingin mendapatkan kepastian dari keheranan beliau karena tahu bagaimana tabiat orang-orang Ghifar. Kemudian beliau bersabda, 'Sesungguhnya Allah memberikan petunjuk kepada siapa yang dikehendaki Nya'.”

Menang benar, Allah menganugerahkan petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Abu Dzar ialah salah seorang yang dikehendaki Allah beroleh petunjuk dan orang yang dipilih Nya untuk mendapat kebaikan.

Abu Dzar memang seorang yang tajam pengamatannya tentang kebenaran. Menurut riwayat, ia termasuk salah seorang yang menentang pemujaan berhala pada zaman jahiliah, dan mempunyai kepercayaan terhadap ketuhanan dan keimanan kepada Rabb Yang Maha Besar lagi Maha Pencipta. ltu terbukti ketika ia baru saja mendengar pengutusan seorang Nabi yang mencela berhala serta pemuja-pemujanya dan menyeru kepada Allah Yang Maha Esa lagi Mahaperkasa, ia pun menyiapkan bekal dan segera mengayunkan langkahnya.

Abu Dzar telah masuk Islam tanpa ditunda-tunda lagi. Urutannya di kalangan kaum muslimin adalah yang kelima atau keenam. Jadi ia telah memeluk Islam itu pada hari-hari pertama, bahkan pada saat saat pertama agama Islam, hingga keislamannya termasuk dalam barisan terdepan.

Ketika ia masuk islam Rasulullah masih menyampaikan dakwahnya secara berbisik-bisik dari satu orang ke orang lain. Beliau membisikkan dakwah itu kepada Abu Dzar begitu pun kepada lima orang lainnya yang telah beriman kepadanya. Bagi Abu Dzar, tidak ada yang dapat dilakukannya sekarang selain memendam keimanan itu dalam dada, lalu meninggalkan Mekkah secara diam-diam dan kembali kepada kaumnya.

Namun, Abu Dzar yang nama aslinya adalah Jundub bin Junadah adalah seorang yang "radikal" dan “revolusioner." Menentang kebatilan telah menjadi watak dan tabiatnya di mana pun ia berada. Dan sekarang kebatilan itu berada di hadapannya serta disaksikannya dengan kedua matanya sendiri. Kebatilan dalam wujud batu-batu yang disusun dan dibentuk oleh para pemujanya; disembah oleh orang orang dengan menundukkan kepala dan merendahkan akal mereka. Manusia memanggilnya dengan seruan, "Inilah kami, kami datang demi mengikuti titahmu."

Abu Dzar tahu bahwa Rasulullah memilih cara bisik-bisik pada masa itu, tetapi mau tidak mau harus ada suatu teriakan keras yang akan dikumandangkan jiwa pemberontak ulung ini sebelum ia pergi.

Baru saja masuk Islam, ia telah mengajukan pertanyaan kepada Rasulullah. "Wahai Rasulullah, apa yangharus saya kerjakan menurutmu?"

Beliau menjawab, “Kembalilah kepada kaummu sampai ada perintahku nanti!”

Namun, Abu Dzar menyahut, “Demi Dzat yang jiwaku dl Tangan Nya, aku tidak akan kembali sebelum meneriakkan Islam di dalam masjid!”

Bukankah telah saya katakan kepada Anda? Abu Dzar berjiwa “radikal" dan “revolusioner"! Apakah pada saat alam baru terbuka secara gamblang, yang jelas terlukis pada pribadi Rasulullah yang diimaninya, serta dakwah yang uraiannya disampaikan dengan lisannya; apakah pada saat seperti itu ia mampu kembali kepada keluarganya dalam keadaan membisu seribu bahasa? Sungguh, hal itu di luar kemampuannya!

Abu Dzar pergi menuju Al-Masjld Al-Haram dan berteriak dengan sekeras-kerasnya, "Aku bersaksi bahwa tiada Ilah (yang berhak disembah) selain Allah dan aku juga bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah." Inilah teriakan pertama tentang agama Islam yang menentang kesombongan orang-orang Quraisy dan memekakkan telinga mereka.

Teriakan itu diserukan oleh seorang perantau asing, yang tidak mempunyai pelindung, sanak keluarga maupun pembela di Mekkah. Sebagai akibatnya, ia mendapat perlakuan dari mereka yang sebetulnya bisa dipastikan itu akan ia terima. Orang-orang musyrik mengepung dan memukulnya hingga roboh.

Berita mengenai peristiwa yang dialami Abu Dzar itu akhirnya sampai juga kepada paman Nabi, Abbas. Dia segera mendatangi tempat terjadinya peristiwa tersebut, namun ia merasa tidak dapat melepaskan Abu Dzar dari cengkeraman mereka, kecuali dengan menggunakan pendekatan persuasif. Dia pun berkata kepada mereka. "Wahai kaum Quraisy, kalian semua adalah bangsa pedagang yang mau tidak mau akan lewat di kampung Bani Ghifar. Orang ini salah seorang warganya. Dia bisa memobilisasi kaumnya untuk merampok kafilah-kafilah dagang kalian nanti!"

Mereka pun menyadari hal itu, lalu pergi meninggalkannya. Tetapi, Abu Dzar yang baru saja mengenyam manisnya penderitaan dalam membela agama Allah itu tidak ingin meninggalkan Mekkah sebelum berhasil memperoleh tambahan dari darma baktinya. Dia pun membuktikan itu pada hari berikutnya atau bahkan pada hari yang sama. Dia melihat dua orang wanita sedang tawaf mengelilingi berhala-berhala Usaf dan Nailah sambil memohon kepadanya. Abu Dzar segera berdiri menghadangnya, lalu di hadapan mereka berhala-berhala itu dihina dan direndahkan olehnya.

Kedua wanita itu berteriak keras, hingga orang-orang gempar dan berdatangan laksana belalang. Sejurus kemudian, mereka menghujani Abu Dzar dengan pukulan hingga tidak sadarkan diri. Ketika ia siuman, tidak ada kata yang ia ucapkan selain, “Bahwa tiada Ilah (yang berhak disembah) selain Allah, dan bahwa Muhammad itu utusan Allah."

Rasulullah menyadari bagaimana watak dan tabiat murid barunya yang baru datang itu. Beliau memahami keberaniannya yang menakjubkan dalam melawan kebatilan. Hanya saja, saatnya belum tiba, sehingga beliau mengulangi perintah agar dia pulang, hingga ketika ia telah mendengar Islam telah didakwahkan secara terang-terangan. ia dapat kembali dan turut mengambil bagian dalam percaturan dan aneka peristiwanya.

Abu Dzar kembali menemui keluarga serta kaumnya dan menceritakan kepada mereka tentang nabi yang baru diutus Allah, yang menyeru agar mengabdi kepada Allah Yang Maha Esa dan membimbing mereka supaya berakhlak mulia. Satu demi satu kaumnya masuk Islam. Bahkan usahanya tidak terbatas pada kaumnya semata, tetapi dilanjutkannya pada suku lain, yaitu suku Aslam. Ia memancarkan cahaya Islam di tengah-tengah mereka.

Hari-hari berlalu mengikuti peredaran masa. Rasulullah pun hijrah ke Madinah dan menetap di sana bersama kaum muslimin. Suatu hari satu barisan panjang yang terdiri atas para pengendara dan pejalan kaki menuju pinggiran kota meninggalkan kepulan debu di belakang mereka. Kalau bukan karena bunyi suara takbir mereka yang gemuruh, orang yang melihat pasti akan menyangka mereka itu adalah iring-iringan tentara musyrikin.

Rombongan besar itu semakin dekat, lalu memasuki Madinah dan langkah mereka mengarah ke masjid dan tempat kediaman Rasulullah. Ternyata rombongan itu tiada lain dari kabilah kabilah Ghifar dan Aslam yang dikerahkan semuanya oleh Abu Dzar, baik laki-laki, perempuan, orang tua, remaja, maupun anak-anak.

Kali ini, Rasulullah semakin takjub dan kagum. Belum lama berselang, beliau takjub oleh seorang laki-laki dari Ghifar yang menyatakan keislaman di hadapan beliau. Ketakjuban beliau itu ditunjukkan dengan bersabda, “Sesungguhnya Allah memberikan hidayah kepada siapa yang dikehendaki-Nya.”

Nah, kini yang datang itu adalah seluruh warga Ghifar yang menyatakan keislaman mereka, setelah beberapa tahun lamanya mereka menganut agama itu; sejak mereka diberi hidayah Allah di tangan Abu Dzar. Suku Aslam juga ikut bersama mereka. Kini, raksasa garong dan komplotan setan telah beralih rupa menjadi pembesar kebajikan dan pendukung kebenaran. Benar, bahwa Allah memberikan petunjuk kepada siapa yang dikehendaki Nya.

Rasulullah melayangkan pandangannya kepada wajah-wajah yang berseri-seri, pandangan yang diliputi rasa haru dan cinta kasih. Sambil menoleh kepada suku Ghifar, beliau bersabda:
”Suku Ghlfar telah diampuni oleh Allah"
Kemudian sambil menghadap kepada suku Aslam, beliau juga bersabda:
"Suku Aslam telah diselamatkan oleh Allah. "

Untuk Abu Dzar, mubaligh ulung yang berjiwa bebas dan bercita-cita mulia itu apakah Rasulullah tidak akan menyampaikan ucapan istimewa kepadanya? Tentu saja, ganjarannya tidak terhingga, serta ucapan kepadanya dipenuhi berkah!

Bintang tertinggi tentu akan disematkan di dadanya, begitu pun riwayat hidupnya akan penuh dengan medali. Keturunan demi keturunan serta generasi demi generasi akan berlalu pergi, tetapi manusia akan selalu mengulang-ulang apa yang disabdakan oleh Rasulullah mengenai Abu Dzar ini. “ Tidak ada lagi di muka bumi dan di bawah naungan langit orang yang lebih jujur ucapannya daripada Abu Dzar. "

Seperti disebutkan sebelumnya, Rasulullah menyadari bagaimana watak dan tabiat murid barunya yang baru datang waktu itu. Beliau memahami keberaniannya yang menakjubkan dalam melawan kebatilan. Hanya saja saatnya belum tiba, sehingga beliau memerintahkan agar dia pulang ke kaumnya. Dan kini, ketika ia telah mendengar Islam telah didakwahkan secara terang-terangan, ia kembali dan turut mengambil bagian dalam percaturan dan aneka peristiwanya di Madinah.

Kali ini beliau menyatakan tidak ada orang yang lebih benar daripada ucapan Abu Dzar. Sungguh, Rasulullah bagai telah membaca masa depan sahabatnya itu, dan menyimpulkan semuanya pada kalimat tersebut. Kebenaran yang disertai keberanian; itulah prinsip hidup Abu Dzar secara keseluruhan! Benar batinnya, benar pula lahirnya. Benar akidahnya, benar pula ucapannya.

Dalam kehidupan selanjutnya, Abu Dzar memang menjalani hidupnya secara jujur. Ia tidak menipu dirinya sendiri maupun orang lain. Ia tidak akan membiarkan seorang pun menyimpangkan dirinya dari kebenaran. Kebenarannya itu bukanlah keutamaan yang bisu, karena bagi Abu Dzar, kebenaran yang bisu bukanlah kebenaran.

Yang dikatakan benar adalah menyatakan secara terbuka dan terus terang, yakni menyatakan yang hak dan menentang yang batil, mendukung yang benar dan memberantas yang salah. Benar itu ialah loyalitas total terhadap yang haq, mengemukakannya secara berani, dan melaksanakannya secara terpuji.

Dengan penglihatan yang tajam, bagai menembus ke alam gaib yang jauh tidak terjangkau atau samudra yang tidak terselami, Rasulullah menampakkan segala kesusahan yang akan dialami oleh Abu Dzar sebagai konsekuensi dari kejujuran dan ketegasannya. Karena itu, Rasulullah selalu berpesan kepadanya agar melatih diri dengan kesabaran dan tidak terburu nafsu.

Suatu hari Rasulullah mengemukakan kepadanya pertanyaan, “Wahai Abu Dzar, bagaimana pendapatmu bila menjumpai para pembesar yang mengambil barang upeti untuk diri mereka pribadi?”

Abu Dzar menjawab, “Demi Dzat yang telah mengutusmu dengan kebenaran, aku akan menebas mereka dengan pedangku!"

Beliau bersabda kepadanya, "Maukah kamu bila aku memberikan jalan yang lebih baik daripada itu? Yaitu, bersabar sampai kamu menemuiku.”

Tahukah Anda, mengapa Rasulullah mengajukan pertanyaan seperti itu? Mengapa pertanyaannya berkaitan dengan urusan pembesar dan harta? Karena, itulah persoalan pokok yang nantinya akan dihadapi oleh Abu Dzar dalam kehidupan selanjutnya. Itulah permasalahan dirinya dengan masyarakat dan masa depan yang harus dipecahkannya.

Rasulullah telah mengetahui hal itu, dan itulah sebabnya beliau mengajukan pertanyaan demikian. Beliau bermaksud membekalinya dengan nasihat yang amat berharga, "Bersabarlah sampai kamu menemuiku".

Dalam kehidupan selanjutnya, Abu Dzar memang selalu ingat wasiat gurunya (yakni Rosululloh). Ia tidak pernah menggunakan pedang untuk menghadapi para pembesar yang mengambil kekayaan dari harta rakyat, tetapi ia juga tidak pernah tinggal diam walau sesaat untuk mengingatkan mereka dengan cara lain. Hal itu karena Rasulullah hanya melarangnya menggunakan senjata untuk menebas leher mereka, tetapi tidak melarangnya menggunakan lidah yang tajam demi membela kebenaran. Wasiat itu pun dilaksanakannya.

Masa Rasulullah berlalu dan kemudian disusul oleh masa Abu Bakar, kemudian masa Umar. Pada masa kedua khalifah ini, godaan
hidup dan unsur-unsur fitnah pemecah belah masih dapat dijinakkan sebaik-baiknya, hingga nafsu angkara yang haus dahaga tidak beroleh angin atau mendapatkan jalan. Ketika itu tidak terdapat penyelewengan-penyelewengan yang akan mengakibatkan Abu Dzar bangkit menentang dengan suaranya yang lantang dan kecamannya yang pedas.

Keharusan hidup sederhana, menjauhi kemewahan, dan menegakkan keadilan telah lama berlaku pada pemerintahan Amirul Mukminin Umar, bagi setiap pejabat dan pembesar Islam. Begitu pun bagi para hartawan di mana mereka berada, telah diterapkan disiplin ketat yang hampir tidak terpikul oleh kemampuan manusia. Tiada seorang pun di antara pejabatnya, baik di Iraq, Syria, San'a, atau di negeri yang jauh letaknya sekalipun, yang memakan makanan mahal dan tidak terjangkau oleh rakyat biasa, kecuali selang beberapa hari berita itu akan sampai kepada Umar. Pejabat yang bersangkutan pun akan dipanggil menghadap Khalifah di Madinah untuk menjalani pemeriksaan ketat.

Abu Dzar merasa tenang dengan suasana seperti itu. Hatinya tenteram dan damai selama Al Faruq (julukan Umar bin Khathab) yang agung masih menjabat sebagai Amirul Mukminin. Selama Abu Dzar dalam kehidupannya tidak diganggu oleh kepincangan-kepincangan seperti penumpukan harta dan penyalahgunaan kekuasaan karena Umar bin Al-Khatthab memang memberlakukan pengawasan yang ketat terhadap pihak penguasa dan pembagian yang merata terhadap harta, maka selama itu pula Abu Dzar merasa puas dan lega. Dengan demikian, ia dapat memusatkan perhatiannya dalam beribadat kepada Rabbnya dan berjihad di jalan Nya, tanpa sedikit pun hendak berdiam diri jika melihat kesalahan-kesalahan di sana-sini, yang ketika itu memang jarang terjadi.

Namun, setelah khalifah besar yang sangat adil dan paling mengagumkan di antara tokoh kemanusiaan itu wafat rasanya ada celah yang jauh. Baru saja Umar wafat. langsung timbul gejala yang tidak terelakkan dan tidak terbendung oleh tenaga manusia. Saat itu ajaran Islam meluas ke berbagai pelosok dunia dan menumbuhkan kemakmuran hidup. Orang yang tidak dapat menahan godaan dunia banyak yang terjerumus ke dalam kemewahan yang melebihi batas. Abu Dzar melihat bahaya ini.

Panji-panji kepentingan pribadi hampir saja menyeret orang-orang yang tugasnya sehari-hari menegakkan kalimat Allah. Dunia, dengan daya tarik serta tipu muslihatnya yang mempesona hampir memperdayai orang orang yang mengemban risalah untuk mempergunakannya sebagai wadah untuk menyemai dan menanamkan kebajikan. Harta yang dijadikan Allah sebagai “budak" yang harus tunduk kepada manusia, justru cenderung berubah rupa menjadi tuan yang mengendalikan manusia. Ujian ini telah menimpa sebagian sahabat Nabi Muhammad di mana beliau sendiri pada waktu wafat, baju besinya sedang tergadai, sementara tumpukan upeti dan harta rampasan perang bertumpuk di bawah telapak kaki beliau.

Hasil kekayaan bumi yang sengaja dilimpahkan oleh Allah bagi semua umat manusia dengan menjadikan mereka mempunyai hak yang sama, hampir berubah menjadi suatu keistimewaan dan hak monopoli bagi mereka yang terbenam dalam kemewahan. Jabatan yang merupakan amanah untuk dipertanggung jwabkan kelak di hadapan pengadilan ilahi, kini beralih menjadi alat untuk merebut kekuasaan, kekayaan, dan kemewahan yang menghancurkan.:

Abu Dzar melihat semua kesenjangan itu. Ia tidak perlu mencari siapakah yang memikul kewajiban itu atau penanggung jawabnya, namun langsung menghunus pedang, mengacungkannya ke udara dan mengayunkannya. Kemudian ia bangkit berdiri dan menantang masyarakat yang telah menyimpang dari ajaran Islam dengan pedangnya yang tidak pernah tumpul itu. Tetapi, secepat itu pula, hatinya teringat wasiat yang telah disampaikan Rasulullah kepadanya dulu. Dia pun memasukkan kembali pedang itu ke dalam sarungnya, karena tidak sepantasnya ia mengacungkannya ke wajah seorang Muslim. Dalam hal ini Allah berfirman:

"Dan tidak patut bagi seorang yang beriman membunuh seorang yang beriman (yang lain), kecuali karena tersalah (tidak sengaja)." (QS. An-Nisa': 92)

Bukankah dulu Rasulullah telah menyatakan di hadapan para sahabatnya bahwa di bawah langit ini takkan ada orang yang lebih benar ucapannya daripada Abu Dzar? Orang yang memiliki kemampuan mengolah kata-kata tepat dan jitu, tidak memerlukan lagi senjata lainnya. Satu kalimat yang diucapkannya akan lebih tajam dan banyak hasilnya daripada pedang walau sepenuh bumi.

Dengan senjata kebenarannya, ia akan pergi untuk menjumpai para pembesar dan kaum hartawan, atau kepada dunia manusia yang cenderung menumpuk kekayaan yang membahayakan agama, yakni agama yang sengaja datang untuk memberikan bimbingan dan bukan untuk memungut upeti, sebab kenabian bukan suatu kerajaan. Agama menjadi rahmat dan karunia, bukan azab dan kesengsaraan. Agama mengajarkan kerendahan hati, bukan kesombongan diri. Agama menanamkan persamaan bukan pengkastaan; kesahajaan bukan keserakahan; kesederhanaan bukan keborosan; kedamaian dan kebijaksanaan dalam menghadapi hidup bukan kelalaian dan kerakusan dalam mengejarnya.

Akhirnya, Abu Dzar pergi menjumpai mereka semua, dan biarlah Allah menjadi hakim antara dirinya dan mereka, karena Dialah sebaik-baik hakim. Abu Dzar mendatangi pusat-pusat kekuasaan dan gudang harta, dan dengan lisannya yang tajam dan benar, ia mengubah sikap mental mereka satu per satu. Dalam beberapa hari saja tidak ubahnya ia telah menjadi panji-panji yang di bawahnya bernaung rakyat banyak dan golongan pekerja, bahkan sampai di negeri yang jauh yang penduduknya selama itu belum pemah melihatnya.

Nama Abu Dzar, bahkan walau baru namanya saja yang terdengar bagaikan terbang ke setiap wilayah Islam, dan menimbulkan rasa takut dan ngeri di hati pihak penguasa dan golongan berharta yang berlaku curang.

Seandainya sosok berjiwa revolusioner yang mulia ini hendak mengambil suatu panji bagi diri pribadi dan gerakannya. semboyan yang akan terukir di panji-panji itu tiada lain adalah seterika dengan baranya yang merah menyala. Sebab semboyan yang selalu diulang-ulangnya setiap waktu dan tempat, dan yang selalu diingat oleh jiwa dari dirinya bagai sebuah lagu perjuangan, ialah kalimat ini:

"Beritakanlah kepada para penumpuk harta, yang menumpuk emas dan perak, mereka akan diseterlka dengan seterika api neraka, yang menyeterika kening dan pinggang mereka pada hari kiamat."

Setiap ia mendaki bukit, menurunilembah, memasuki kota, dan setiap la berhadapan dengan seorang pembesar, selalu kalimat itu yang menjadi buah lisannya. Begitu pula setiap orang melihatnya datang berkunjung, mereka akan menyambutnya dengan ucapan, "Beritakanlah kepada para penumpuk harta dengan seterika dari neraka!"

Kalimat ini benar-benar telah menjadi panji bagi misinya. Ia memang telah mendedikasikan hidupnya untuk itu, ketika ia melihat kekayaan telah dimonopoli; saat jabatan disalahgunakan untuk memupuk kekuatan dan mengais keuntungan; dan kala cinta dunia telah merajalela dan hampir saja melumuri keutamaan dan kesalehan, kesungguhan dan keikhlasan yang telah dicapai pada tahun-tahun kerasulan.

Poros utama kekuasaan dan gudang raksasa kekayaan yang menjadi sasaran pertama Abu Dzar adalah Syria, wilayah Islam paling subur, paling banyak hasil bumi, dan paling kaya dengan upetinya.

Di sana tanah tanah luas, gedung-gedung tinggi, dan harta berlimpah telah menggoda sebagian pemikul dakwah yang masih tersisa. Karena itulah, Abu Dzar harus cepat mengatasinya, sebelum hal itu berlarut-larut; sebelum pertolongan datang terlambat hingga nasi telah menjadi bubur.

Pemimpin perlawanan terhadap segala bentuk kemewahan ini pun segera bangkit dan secepat kilat berangkat ke Syria. Saat berita keberangkatannya didengar oleh rakyat jelata, mereka pun menyambut kedatangannya dengan semangat menyala penuh kerinduan, dan mengikuti ke mana perginya. “Bicaralah, wahai Abu Dzar! Bicaralah, wahai sahabat Rasulullah!" pinta mereka.

Abu Dzar melepaskan pandangan menyelidik ke arah orang-orang yang berkerumun. Dilihatnya kebanyakan mereka adalah orang-orang miskin yang dalam kebutuhan. Kemudian, pandangannya beralih ke arah tempat-tempat ketinggian yang tidak jauh letaknya dari sana. Tampak olehnya gedung-gedung dan kemewahan yang berlebihan. Ia pun menyeru kepada orang-orang yang berkumpul di sekelilingnya, “Saya heran melihat orang yang tidak punya makanan di rumahnya, mengapa ia tidak mendatangi orang-orang itu dengan menghunus pedangnya?"

Tetapi, Abu Dzar segera teringat wasiat Rasulullah yang menyuruhnya memilih jalan kesabaran daripada jalan pemberontakan; menggunakan kata-kata tandas daripada senjata pedang yang ganas. Dia pun meninggalkan bahasa bahasa perang dan kembali menggunakan bahasa yang logis dan persuasif.

_*(Bersambung)*_

No comments: