adsense

May 05, 2020

Abdullah bin Mas'ud Orang Pertama yang Mengumandangkan Al-Qur'an dengan Suara Merdu_LELAKI-LELAKI DI SEKITAR ROSULULLOH (Bagian ke 19)

Terima kasih Semoga bermanfaat Dan menjadi ladang pahala

Sebelum Rasulullah masuk ke rumah Al Arqam, Abdullah bin Mas'ud telah beriman kepadanya dan merupakan orang keenam yang masuk Islam dan mengikuti Rasulullah. Dengan demikian, ia termasuk golongan pertama yang masuk Islam. Awal pertemuannya dengan Rasulullah diceritakan olehnya sebagai berikut:

"Ketika itu saya masih remaja, menggembalakan kambing kepunyaan Uqbah bin Abu Mu'ith. Tiba-tiba, Nabi datang bersama Abu Bakar. Beliau bertanya, “Nak, apakah kamu punya susu untuk minuman kami?"

“Aku ini orang kepercayaan. Aku tidak dapat memberikan minuman kepada kalian," jawabku.

Nabi bersabda, "Apakah engkau mempunyai kambing betina mandul yang belum pernah dikawini oleh pejantan?"

Aku menjawab, “Ada," maka aku pun mengajak mereka berdua ke tempat kambing tersebut.

Kambing itu diikat kakinya oleh Nabi lalu diusap susunya sambil memohon kepada Allah. Tiba-tiba susu itu berisi banyak. Kemudian Abu Bakar mengambilkan sebuah batu cembung yang digunakan Nabi untuk menampung perahan susu.

Setelah itu, Abu Bakar pun minum, dan saya pun tidak ketinggalan. Lalu Nabi bersabda kepada susu, "Kempislah!" dan susu itu pun menjadi kempis.

Setelah peristiwa itu saya datang menjumpai Nabi. Aku berkata, “Ajarkanlah kepadaku kata-kata tersebut."

Nabi bersabda, "Engkau akan menjadi seorang anak yang terpelajar."

Alangkah heran dan takjubnya Ibnu Mas'ud ketika menyaksikan seorang hamba Allah yang saleh dan utusan-Nya yang dipercaya memohon kepada Rabb-nya, sambil mengusap susu hewan yang belum pernah berisi selama ini, tiba-tiba mengeluarkan karunia dan rezeki dari Allah berupa susu murni yang enak untuk diminum.

Saat itu ia belum menyadari bahwa peristiwa yang disaksikan itu hanyalah merupakan mukjizat paling ringan dan belum menggemparkan, dan bahwa tidak berapa lama lagi dari Rasulullah yang mulia ini akan disaksikannya mukjizat yang akan mengguncangkan dunia dan memenuhinya dengan petunjuk serta cahaya. Saat itu juga belum diketahuinya, bahwa dirinya sendiri yang ketika itu masih seorang remaja yang lemah lagi miskin, yang menerima upah sebagai penggembala kambing milik Uqbah bin Abu Mu'ith, dan akan muncul sebagai salah satu dari mukjizat ini, yang setelah ditempa oleh islam menjadi seorang beriman, akan mengalahkan kesombongan orang-orang Quraisy dan menaklukkan kesewenangan para pemukanya.

Dirinya, yang selama ini tidak berani lewat di hadapan salah seorang pembesar Quraisy kecuali dengan menundukkan kepala dan langkah tergesa-gesa karena takut, suatu saat nanti setelah masuk Islam, tampil di depan majelis para bangsawan di sisi Ka'bah, sementara semua pemimpin dan pemuka Quraisy duduk berkumpul, lalu berdiri di hadapan mereka dan mengumandangkan suaranya yang merdu dan membangkitkan perhatian, berisikan wahyu Ilahi, Al-Qur'an yang mulia:

"Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

(Allah) Yang Maha Pengasih. Yang telah mengajarkan Al-Qur'an. Dia menciptakan manusia, mengajarnya pandai berbicara. Matahari dan bulan beredar menurut perhitungan, dan tetumbuhan dan pepohonan, keduanya tunduk (kepada-Nya)." (QS. Ar-Rahman: 1-6)

Ia terus membaca, sementara para pemuka Quraisy terpesona. Seolah-olah tidak percaya akan pandangan mata dan pendengaran telinga mereka. Tidak pernah terlintas dalam pikiran mereka bahwa orang yang menantang kekuasaan dan kesombongan mereka, tidak lebih dari seorang upahan di antara mereka, dan penggembala kambing dari salah seorang bangsawan Quraisy. Dialah Abdullah bin Mas'ud, seorang miskin yang tidak diperhitungkan sebelumnya.

Marilah kita dengar keterangan dari saksi mata yang akan melukiskan peristiwa yang sangat menarik dan menakjubkan itu. Orang itu tiada lain adalah Az-Zubair. Ia menuturkan, "Orang pertama yang membaca Al-Qur'an di Mekkah setelah Rasulullah ialah Abdullah bin Mas'ud. Suatu hari para sahabat Rasulullah berkumpul. Mereka berkata, ”Demi Allah, orang-orang Quraisy belum mendengar sedikit pun Al-Qur'an ini dibaca dengan suara keras di hadapan mereka. Nah, siapa di antara kita yang bersedia memperdengarkannya kepada mereka?

Ibnu Mas'ud berkata, 'Saya.'

Mereka menanggapi, ‘Kami khawatir akan keselamatan dirimu. Yang kami inginkan ialah seorang laki-laki yang mempunyai kerabat, yang akan membelanya dari orang-orang itu jika mereka bermaksud jahat.”

'Biarkanlah saya, Allah pasti membela,' kata lbnu Mas'ud.

Dia pun mendatangi kaum Quraisy pada waktu Dhuha, yakni ketika mereka sedang berada di balai pertemuannya. la berdiri di panggung lalu membaca basmalah dan dengan mengeraskan suaranya, ia membaca:

"(Allah) Yang Maha Pengasih. Yang telah mengajarkan Al-Qur’an." (Ar-Rahman: 1-2)

Ia meneruskan bacaan tersebut sambil menghadap kepada mereka. Mereka memperhatikannya sembari bertanya kepada sesama teman duduk, 'Apa yang dibaca oleh anak Ummu Abdin itu? Sungguh, yang dibacanya itu ialah yang dibaca oleh Muhammad?

Mereka bangkit mendatangi dan memukulinya, sedangkan Ibnu Mas'ud meneruskan bacaannya sampai batas yang dikehendaki Allah.

Setelah itu dengan muka dan tubuh yang babak-belur ia kembali kepada para sahabat.

'Inilah yang kami khawatirkan terhadap dirimu,' kata mereka.

lbnu Mas'ud berkata, 'Sekarang ini tidak ada yang lebih mudah bagiku daripada menghadapi musuh-musuh Allah itu. Seandainya kalian menghendaki, aku akan mendatangi mereka lagi dan berbuat hal yang sama esok hari.'

Mereka berkata, ‘Cukup itu saja. Kamu telah membacakan kepada mereka sesuatu yang tabu bagi mereka.'

Ternyata benar, pada saat Ibnu Mas'ud tercengang melihat susu kambing tiba-tiba berisi sebelum waktunya, belum menyadari bahwa ia bersama rekan-rekan senasib dari golongan miskin akan menjadi salah satu mukjizat besar dari Rasulullah, yakni ketika mereka bangkit memanggul panji-panji Allah dan menguasai dengannya sinar matahari. Ia tidak menyadari bahwa saat itu telah dekat. Ternyata, secepat itu hari datang dan waktu telah menjelang, anak remaja buruh miskin dan terlunta-lunta tiba-tiba menjadi suatu mukjizat di antara berbagai mukjizat Rasulullah.

Dalam kesibukan dan perpacuan hidup, tiadalah ia akan menjadi tumpuan mata. Bahkan, di daerah yang jauh dari kesibukan pun juga tidak, tidak ada tempat baginya di kalangan hartawan, begitu pula di dalam lingkungan ksatria yang gagah perkasa, atau dalam deretan orang-orang yang berpengaruh.

Dalam soal harta, ia tidak punya apa-apa. Tentang perawakan, ia kecil dan kurus. Dalam soal pengaruh, derajatnya jauh di bawah. Tetapi, sebagai ganti dari kemiskinannya itu, Islam telah memberinya bagian yang melimpah dan perolehan yang cukup dari perbendaharaan Kisra dan simpanan Kaisar. Sebagai imbalan dari tubuh yang kurus dan jasmani yang lemah, Allah menganugerahkan kemauan baja yang dapat menundukkan kekuatan dahsyat dan ikut mengambil bagian dalam mengubah jalan sejarah. Untuk mengimbangi nasibnya yang terlunta-lunta, Islam telah melimpahinya ilmu pengetahuan, kemuliaan serta ketetapan, yang menampilkannya sebagai salah seorang tokoh terkemuka dalam sejarah kemanusiaan.

Sungguh, tidak meleset kiranya pandangan masa depan oleh Rasulullah ketika beliau mengatakan kepadanya, “Kamu akan menjadi seorang pemuda terpelajar." Ia telah diberi pelajaran oleh Rabbnya hingga menjadi fakih atau ahli hukum ummat Muhammad, dan tulang punggung para penghafal Al-Qur'an yang mulia.

Mengenai dirinya ia pernah mengatakan, "Saya telah menghafal 70 surat Al Qur'an yang kudengar langsung dari Rasulullah dan tiada seorang pun yang menyaingiku dalam hal ini."

Allah Memberinya Anugerah atas keberaniannya mempertaruhkan nyawa dalam mengumandangkan Al Qur'an secara terang-terangan dan menyebarluaskannya di segenap pelosok Mekkah di saat siksaan dan penindasan merajalela. Buktinya Allah menganugerahkan kepadanya bakat istimewa dalam membawakan bacaan Al Qur'an dan kemampuan luar biasa dalam memahami arti dan maksudnya.

Rasulullah telah memberi wasiat kepada para sahabat agar mengambil Ibnu Mas'ud sebagai teladan. Beliau bersabda, "Berpegang teguhlah kepada ilmu yang diberikan oleh Ibnu Ummi Abdin." Beliau juga mewasiatkan agar mencontoh bacaannya, dan mempelajari cara membaca Al Qur'an darinya, seperti sabda beliau, “Barang siapa yang ingin mendengar Al-Qur'an tepat seperti diturunkan, hendaklah ia mendengarkannya dari Ibnu Ummi Abdin. Barang siapa yang ingin membaca Al-Qur'an tepat seperti diturunkan, hendaklah ia membacanya seperti bacaan Ibnu Ummi Abdin."

Sejak lama, Rasulullah menyukai bacaan Al-Qur'an dari lisan Ibnu Mas'ud. Suatu hari ia memanggilnya dan bersabda, “Bacakanlah kepadaku, wahai Abdullah!"

Ibnu Mas'ud menjawab, "Pantaskah bila saya membacakannya kepada Anda, wahai Rasulullah?"

Rasulullah menjawab, "Saya ingin mendengarnya dari lisan orang lain." Maka Ibnu Mas'ud pun membacakan untuk Rasulullah dimulai dari surat An-Nisa' sampai pada firman Allah Ta'ala:

"Dan bagaimanakah (keadaan orang kafir nanti), jika Kami mendatangkan seorang saksi (Rasul) dari setiap umat dan Kami mendatangkan engkau (Muhammad) sebagai saksi atas mereka. Pada hari itu, orang yang kafir dan orang yang mendurhakai Rasul (Muhammad), berharap sekiranya mereka diratakan dengan tanah (dikubur atau hancur luluh menjadi tanah), padahal mereka tidak dapat menyembunyikan sesuatu kejadian apapun dari Allah." (QS. An-Nisa': 41-42)

Rasulullah tidak dapat manahan tangisnya. Air mata beliau menetes dan memberi isyarat kepada Ibnu Mas'ud dengan tangan agar menghentikan bacaan, sembari bersabda, “Cukup, berhentilah, wahai Ibnu Mas'ud!"

Suatu ketika Ibnu Mas'ud menyebut-nyebut karunia Allah yang dianugerahkan kepadanya, dengan mengatakan, “Tidak suatu pun dari Al Qur'an itu yang diturunkan, kecuali aku mengetahui pada peristiwa apa itu diturunkan. Tidak seorang pun yang lebih mengetahui tentang Kitab Allah daripada diriku. Sekiranya aku tahu ada seseorang yang dapat dicapai dengan berkendaraan unta dan ia lebih tahu tentang Kitab Allah daripada diriku, aku pasti akan menemuinya. Tetapi, aku bukanlah yang terbaik di antara kalian."

Keistimewaan Ibnu Mas'ud ini telah diakui oleh para sahabat. Amirul Mukminin Umar berkata mengenai dirinya, "Sungguh, ilmunya tentang fikih sangat luas.“ Abu Musa Al-Asy'ari mengatakan, “Jangan tanyakan kepada kami sesuatu masalah, selama orang ini berada di antara kalian.”

Bukan hanya keunggulannya dalam Al-Qur'an dan ilmu fikih saja yang patut dapat pujian, melainkan juga keunggulannya dalam kesalehan dan ketakwaan. Hudzaifah menuturkan tentang dirinya, “Aku tidak melihat seorang pun yang lebih mirip dengan Rasulullah, baik dalam cara hidup, perilaku, dan ketenangan jiwa, daripada Ibnu Mas'ud. Semua sahabat Rasulullah yang terkenal mengetahui bahwa Ibnu Ummi Abdin adalah sosok yang paling dekat kepada Allah."

Suatu hari sejumlah sahabat berkumpul bersama Ali, lalu mereka berkata kepadanya. “Wahai Amirul Mukminin, kami tidak melihat orang yang lebih berbudi pekerti, lebih lemah-lembut dalam mengajar, lebih baik pergaulannya, dan lebih saleh daripada Abdullah bin Mas'ud."

Ali menjawab, “Saya minta kalian bersaksi kepada Allah, apakah ini betul-betul tulus dari hati kalian?"

Mereka menjawab, “Benar.”

Ali berkata lagi, “Ya Allah, saya mohon Engkau menjadi saksinya, bahwa saya berpendapat mengenai dirinya seperti apa yang mereka katakan itu, atau lebih baik lagi. Ibnu Mas'ud telah membaca Al-Qur'an, lalu menghalalkan barang yang halal dan mengharamkan barang yang haram. Ia adalah orang yang ahli dalam soal keagamaan dan luas ilmunya tentang sunnah.”

Suatu ketika para sahabat memperbincangkan sosok Abdullah bin Mas'ud. Mereka berkata, "Sungguh, saat kita terhalang, ia diberi restu; ketika kita bepergian, ia tinggal bersama Rasulullah." Maksud mereka ialah bahwa Abdullah beruntung mendapat kesempatan berdekatan dengan Rasulullah yang merupakan keuntungan yang jarang didapat oleh orang lain. Ia lebih sering masuk ke rumah Rasulullah dan menjadi teman duduk beliau. Selain itu, ibnu Mas'ud merupakan orang yang dipercaya oleh Rasulullah untuk menyampaikan keluhan dan mempercayakan rahasia, hingga ia diberi gelar “Sahabat Kegelapan (Pemegang Rahasia)".

Abu Musa Al-Asy'ari mengatakan, “Setiap saya melihat Rasulullah, lbnu Mas'ud pasti berada di sisinya.” Ini terjadi karena Rasulullah sangat menyayanginya, terutama kesalehan dan kecerdasannya, di samping kebesaran jiwanya, hingga Rasulullah pernah bersabda mengenai dirinya, "Seandainya saya hendak mengangkat seseorang sebagai amir tanpa musyawarah dengan kaum muslimin, tentulah yang saya angkat itu Ibnu Ummi Abdin."

Sebelumnya, kami telah menyebutkan wasiat Rasulullah kepada para sahabatnya, “Berpegang teguhlah kepada ilmu Ibnu Ummi Abdin!" Rasa sayang dan kepercayaan dari Rasulullah terhadap dirinya yang sangat besar memungkinkannya untuk bergaul rapat dengan beliau, hingga ia mendapatkan hak yang tidak diberikan kepada orang lain. Rasulullah bersabda kepadanya, "Saya izinkan kamu bebas dari tabir."

Ini merupakan lampu hijau bagi lbnu Mas'ud untuk masuk rumah Rasulullah dan pintunya senantiasa terbuka baginya, siang dan malam. Inilah yang pernah dikatakan oleh para sahabat, “Ia diberi izin saat kita terhalang dan tinggal bersama Rasulullah ketika kita bepergian." Ibnu Mas'ud memang layak memperoleh keistimewaan ini. Sebab, walaupun kebebasan seperti itu akan memberikan keuntungan bagi Ibnu Mas'ud, pada kenyataannya ia justru bertambah khusyuk, hormat, dan santun.

Mungkin gambaran yang melukiskan akhlaknya secara tepat adalah sikapnya ketika menyampaikan hadits dari Rasulullah setelah beliau wafat. Walaupun ia jarang menyampaikan hadits dari Rasulullah, kita lihat setiap ia menggerakkan kedua bibirnya untuk mengatakan, "Saya mendengar Rasulullah menyampaikan hadits dan bersabda" tubuhnya gemetar hebat, dan ia tampak gugup dan gelisah. Sebab, ia merasa khawatir bila lupa, sehingga salah menaruh kata di tempat yang lain.

Marilah kita dengarkan rekan-rekannya menceritakan kenyataan ini. Amr bin Maimun menuturkan, “Saya bolak-balik ke rumah Abdullah bin Mas'ud dalam setahun lamanya. Dan selama itu tidak pernah saya dengar ia menyampaikan hadits dari Rasulullah, kecuali sebuah hadits yang disampaikannya suatu hari. Dari mulutnya mengalir ucapan, 'Rasulullah bersabda'. Tiba-tiba, ia terlihat gelisah hingga tampak keringat bercucuran dari keningnya. Kemudian ia mengulangi kata-kata tadi, 'Kira-kira seperti itulah yang disabdakan oleh Rasulullah.”

Alqamah bln Qais mengatakan, “Biasanya Abdullah bin Mas'ud berpidato setiap hari Kamis sore menyampaikan hadits. Saya tidak pernah mendengarnya mengucapkan, 'Rasulullah telah bersabda', kecuali satu kali saja. Saat itu saya lihat ia berpegangan pada tongkat, dan tongkatnya itu pun bergetar."

Masruq juga mengisahkan tentang Abdullah ini, “Suatu hari Ibnu Mas'ud menyampaikan sebuah hadits. Ia berkata, 'Saya mendengar Rasulullah...’ Tiba-tiba, tubuhnya gemetar, dan pakaiannya bergetar pula. Kemudian, ia berkata, “Atau kira-kira demikian atau kira-kira seperti itulah."

Itulah tingkat ketelitian, penghormatan, dan penghargaannya kepada Rasulullah. Ini merupakan bukti kecerdasannya yang selanjutnya menjadi bukti ketakwaannya. Orang yang lebih banyak bergaul dengan Rasulullah, penilaiannya terhadap kemuliaan Rasulullah lebih tepat. Itulah sebabnya adab sopan santunnya terhadap Rasulullah ketika beliau hidup, begitu pun kenangan kepada beliau setelah wafatnya, merupakan adab sopan santun satu-satunya dan tidak ada duanya.

Ibnu Mas'ud tidak ingin berpisah dari Rasulullah baik ketika beliau mukim maupun sedang bepergian. la telah turut mengambil bagian dalam setiap peperangan. Dan peranannya dalam Perang Badar meninggalkan kenangan yang tidak dapat dilupakan, yakni robohnya Abu Jahal oleh tebasan pedang kaum muslimin pada hari yang agung itu.

Para khalifah dan sahabat Rasulullah mengakui kedudukan lbnu Mas'ud ini, hingga ia diangkat oleh Amirul Mukminin Umar sebagai pengelola Baitul Mal di Kufah. Umar berpesan kepada penduduk Kufah ketika pengutusan Ibnu Mas'ud ke sana, “Demi Allah yang tiada Ilah yang berhak disembah selain Dia, sungguh saya lebih mementingkan kalian daripada diriku. Karena itulah ambillah dan pelajarilah ilmu darinya."

Penduduk Kufah mencintai Ibnu Mas'ud karena mendapatkannya adalah anugerah yang belum pernah diperoleh orang-orang sebelumnya, atau belum ada orang yang setaraf dengannya. Sungguh, kebulatan penduduk Kufah untuk mencintai seseorang merupakan suatu hal yang mirip dengan mukjizat. Karena mereka biasanya suka menentang dan memberontak. Mereka tidak tahan menghadapi hidangan yang serupa dan tidak mampu hidup selalu dalam aman dan tenteram. Karena kecintaan mereka kepadanya sedemikian rupa, sampai-sampai mereka mengerumuni dan mendesaknya ketika ia hendak diberhentikan oleh Khalifah Utsman dari jabatannya. Mereka berkata, "Tetaplah Anda tinggal bersama kami di sini dan jangan pergi, dan kami bersedia membela Anda dari malapetaka yang akan menimpa Anda."

Tetapi, dengan kalimat yang menggambarkan kebesaran jiwa dan ketakwaannya, Ibnu Mas'ud menjawab, “Saya harus taat kepadanya, dan di belakang hari akan timbul peristiwa-peristiwa dan fitnah, dan saya tidak ingin menjadi orang yang mula-mula membukakan pintunya.”

Pendirian mulia dan terpuji ini mengungkapkan kepada kita hubungan Ibnu Mas'ud dengan Khalifah Utsman. Di antara mereka telah terjadi perdebatan dan perselisihan yang makin lama makin sengit, hingga gaji dan tunjangan pensiunnya tidak diberikan dari Baitul Mal. Walau demikian, tidak sepatah kata pun yang tidak baik keluar dari mulutnya mengenai Utsman. Bahkan ia berdiri sebagai pembela dan memperingatkan rakyat ketika ia melihat persekongkolan pada masa Utsman itu telah meningkat menjadi suatu pemberontakan.

Ketika ia mendengar berita tentang percobaan untuk membunuh Khalifah Utsman itu, keluarlah dari lisannya ucapan yang terkenal. "Bila mereka membunuhnya, tidak ada lagi orang sebanding dengannya yang akan mereka angkat sebagai khalifah.” Berkaitan dengan hal ini, di antara rekan-rekan Ibnu Mas'ud ada yang berkata, “Saya tidak pernah mendengar Ibnu Mas'ud mengeluarkan cercaan satu kata pun terhadap Utsman."

Allah telah menganugerahkan hikmah kepada Ibnu Mas’ud sebagaimana telah memberi sifat takwa kepadanya. Ia memiliki kemampuan untuk melihat jauh ke dasar yang dalam, dan mengungkapkannya secara menarik dan tepat. Marilah kita dengar ucapannya yang menggambarkan kesimpulan hidup yang istimewa dari Umar dengan kata-kata singkat tapi padat dan menakjubkan, “Islamnya merupakan suatu kemenangan, hijrahnya merupakan pertolongan, dan pemerintahannya merupakan kerahmatan."

Tentang relativitas masa yang dikenal pada zaman sekarang, ia mengatakan, "Bagi Rabb kalian tiada siang dan malam. Cahaya langit dan bumi itu bersumber dari cahayanya."

Ia juga berbicara tentang pekerja dan betapa pentingnya mengangkat taraf budaya kaum pekerja ini, ia mengatakan, "Saya sangat benci melihat seorang iaki-laki yang menganggur dan tidak ada usaha untuk kepentingan dunia, dan tidak pula untuk kepentingan akhirat."

Di antara kata-katanya yang paling komprehensif ialah:

"Sebaik-baik kekayaan ialah kaya hati
Sebaik-baik perbekalan ialah takwa
Seburuk-buruk kebutaan ialah buta hati
Sebesar-besar kejahatan ialah berdusta Sejelek-jelek pekerjaan ialah memungut riba Seburuk-buruk makanan ialah memakan harta anak yatim
Siapa yang memaafkan orang, Allah akan memaafkannya
Siapa yang mengampuni orang lain, Allah akan mengampuninya."

Itulah gambaran singkat Abdullah bin Mas'ud, sahabat Rasulullah. Itulah kilasan dari suatu kehidupan besar dan perkasa yang dilalui oleh pelakunya di jalan Allah, Rasul, dan agama-Nya. Itulah dia laki-laki yang ukuran tubuhnya seumpama tubuh burung merpati. Tubuhnya kurus dan pendek, hingga tinggi badannya tidak jauh berbeda dengan orang yang sedang duduk. Kedua betisnya kecil dan tidak berdaging, yang terlihat ketika ia memanjat pohon untuk mengambil dahan pohon araq (siwak) untuk digunakan sebagai sikat Rasulullah, Para sahabat menertawakannya ketika melihat kedua betisnya itu. Rasulullah bersabda. “Kalian menertawakan betis Ibnu Mas'ud yang di sisi Allah lebih berat timbangannya dari Gunung Uhud.”

Itulah dia orang yang berasal dari keluarga miskin, buruh upahan, kurus, dan tidak diperhitungkan, tetapi keyakinan dan keimanannya telah menjadikannya salah seorang imam di antara imam-imam kebaikan, petunjuk, dan cahaya. Ia telah dikaruniai taufik dan nikmat oleh Allah yang menyebabkan dirinya termasuk dalam golongan "Sepuluh orang sahabat Rasul yang lebih dahulu masuk Islam", yakni orang orang yang saat masih hidup sudah mendapatkan berita gembira meraih ridha Allah dan surga-Nya.

Ia telah terjun dalam setiap perjuangan yang berakhir dengan kemenangan pada masa Rasulullah. Ia tidak pernah absen, begitu pula pada masa para khalifah sepeninggal beliau. Ia turut menyaksikan dua buah imperium dunia membukakan pintunya dengan tunduk dan patuh untuk dimasuki panji-panji Islam dan ajarannya.

lbnu Mas'ud juga masih hidup ketika jabatan-jabatan terbuka luas dan menunggu orang-orang Islam yang mau mendudukinya, begitu pula harta yang tidak terkira banyaknya bertumpuk-tumpuk di hadapan mereka. Namun, tidak satu pun yang dapat mengusik dan membuat lbnu Mas'ud lupa dari janji yang telah diikrarkannya kepada Allah dan RasulNya, atau merintanginya dari garis hidup dan ketekunan ibadat yang diliputi rasa khusyuk dan tawadhu. Di antara keinginan dan cita-cita hidup yang ada, tidak satu pun di antaranya yang menarik hatinya kecuali satu saja yang selalu dirindukan, menjadi buah bibir dan senandungnya, dan selalu berada dalam angan-angan untuk mendapatkannya.

Mari kita simak kata-katanya sendiri menceritakan hal itu kepada kita, "Aku bangun di tengah malam, ketika itu aku mengikuti Rasulullah di Perang Tabuk. Tampak olehku nyala api di arah pinggir perkemahan, lalu aku mendekat untuk melihatnya. Ternyata, itu adalah Rasulullah bersama Abu Bakar dan Umar. Mereka sedang menggali kuburan untuk Abdullah Dzul Bijadain Al Muzanni yang ternyata telah wafat. Rasulullah berada di dalam lubang kubur itu, sementara Abu Bakar dan Umar mengulurkan jenazah kepadanya. Rasulullah bersabda,

'Ulurkanlah lebih dekat kepadaku saudara kalian itu!’ Lalu mereka mengulurkan kepada beliau. Ketika jenazah telah diletakkan di liang lahat beliau berdoa, 'Ya Allah, aku telah ridha kepadanya, maka ridhailah pula ia oleh-Mu!' Alangkah bahagianya seandainya akulah yang jadi pemilik liang kubur itu."

Itulah dia satu-satunya cita-cita yang diharapkan dan dianganangankan semasa hidupnya. Sebagaimana Anda ketahui, ia tidak pernah mencari kesempatan untuk mendapatkan kemuliaan, kekayaan, pengaruh, atau jabatan yang selalu dikejar-kejar dan diperebutkan orang. Hal ini semata-mata karena cita-citanya adalah cita-cita seorang tokoh yang berhati mulia, berjiwa besar, dan berkeyakinan teguh. Seorang tokoh yang mendapat petunjuk dari Allah, mendapatkan gemblengan dari Rasulullah, dan memperoleh tuntutan dari Al Qur'an.”

No comments: