adsense

May 03, 2020

Mush'ab bin Umair_LELAKI-LELAKI DI SEKITAR ROSULULLOH (Bagian ke 1)

Terima kasih Semoga bermanfaat Dan menjadi ladang pahala

Mush'ab bin Umair salah seorang sahabat Muhammad _Shollallohu 'alaihi wa sallam_. Alangkah baiknya bila kita memulai kisah di buku ini dengan dirinya. 

Mush'ab bin Umair adalah seorang remaja Quraisy terkemuka, paling tampan, penuh dengan jiwa dan semangat muda. Sejarawan dan ahli riwayat menjelaskan masa mudanya dengan ungkapan, “Seorang penduduk Mekkah yang mempunyai nama paling harum.” 

Dia lahir dan dibesarkan dalam kesenangan serta tumbuh dalam lingkungannya. Mungkin tidak seorang pun di antara anak-anak muda Mekkah yang beruntung dimanjakan oleh kedua orang tuanya sedemikian rupa sebagaimana Mush'ab bin Umair. 

Mungkinkah anak muda yang serba kecukupan, biasa hidup mewah dan manja, menjadi buah bibir gadis gadis Mekkah, dan menjadi bintang di tempat-tempat pertemuan, akan berubah menjadi pelaku cerita tentang keimanan dan kepahlawanan? 

Demi Allah, kisah Mush'ab bin Umair atau yang dijuluki oleh kaum muslimin dengan sebutan "Mush'ab Yang Baik" adalah kisah yang penuh pesona. Ia merupakan salah satu di antara orang-orang yang ditempa oleh Islam dan dididik oleh Nabi Muhammad. Namun, bagaimana sosok sejatinya? 

Sungguh. kisah hidupnya merupakan suatu kehormatan bagi seluruh umat manusia. 

Suatu hari, anak muda ini mendengar tentang Muhammad Al Amin yang mulai menjadi perhatian bagi penduduk Mekkah; bahwa Muhammad menyatakan dirinya telah diutus oleh Allah sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, sebagai penyeru yang mengajak umat beribadah kepada Allah Yang Maha Esa. 

Saat siang dan malam perhatian penduduk Mekkah tidak lepas dari berita itu. Ketika yang ada hanya perbincangan tentang Rasulullah dan agama yang dibawanya, anak muda yang manja ini paling banyak mendengar berita itu. 

Meskipun usianya masih belia, ia menjadi bunga di setiap tempat pertemuan dan perkumpulan. Setiap pertemuan apa pun, mereka selalu berharap Mush'ab hadir di dalamnya. Penampilannya yang anggun dan otaknya yang cerdas merupakan keistimewaan Ibnu Umair (Anaknya Umair, panggilan untuk Mush'ab bin Umair), yang mampu membuka semua hati dan pintu. 

Mush'ab telah mendengar bahwa Rasulullah bersama pengikutnya sering mengadakan pertemuan di suatu tempat yang jauh dari gangguan dan ancaman orang orang Quraisy. Pertemuan itu dilaksanakan di bukit Shafa di rumah Al-Al Arqam bin Abul Al Arqam. 

Tanpa berpikir panjang dan tanpa seorang pun yang menemani, pada suatu senja ia pergi ke rumah Al-Arqam. Kerinduan dan rasa penasaran telah mendorongnya melakukan itu. Di tempat itulah. Rasulullah bertemu dengan para sahabatnya, untuk membacakan ayat-ayat Al Qur'an kepada mereka dan shalat bersama mereka, menghadap kepada Allah Yang Maha Tinggi lagi Mahakuasa. 

Ketika Mush'ab baru saja duduk, ayat ayat Al Qur'an mulai mengalir dari kalbu Rasulullah bergema melalui kedua bibir beliau, mengalir sampai ke telinga dan meresap ke dalam hati para pendengar. Di senja itu hati Mush'ab telah berubah menjadi hati yang tunduk oleh ayat ayat Al Quran. Keharuan yang ia rasakan hampir hampir saja membuat tubuhnya terangkat dari tempat duduknya. la seolah olah terbang oleh perasaan gembira. Tetapi, Rasulullah mengulurkan tangannya yang penuh kasih sayang dan mengurut dada pemuda yang sedang bergejolak itu. Tiba-tiba, hatinya berubah tenang dan damai, bagai lautan yang dalam. 

Pemuda yang baru saja masuk Islam dan beriman itu tampak telah memiliki hikmah yang luas dan berlipat ganda dari ukuran usianya. Ia mempunyai kepekatan hati yang mampu mengubah jalan sejarah. 

Ibunda Mush'ab, Khannas binti Malik, adalah sosok ibu yang memiliki kekuatan kepribadian yang cemerlang. Pesona pribadinya itu telah membuatnya disegani. Setelah memeluk Islam, tidak ada sosok yang paling membuat Mush'ab khawatir dan takut di muka bumi ini selain ibundanya. 

Seandainya Mekkah, dengan segala patung, tokoh tokoh terhormat, dan padang pasirnya membentuk sebuah formasi yang mengepung dan memusuhinya, Mush'ab akan menganggap itu bukanlah musuh yang berat saat itu. Tetapi, bila musuh itu adalah ibunya. inilah kekhawatiran yang membuatnya gelisah. 

Dia berpikir cepat dan memutuskan untuk menyembunyikan keislamannya, kecuali jika Allah berkehendak lain. Tetapi, ia tetap bolak balik ke Darul Al Arqam dan bermajelis bersama Rasulullah. Dia benar benar merasa tenteram dengan menjadi orang yang beriman dan tetap berupaya menghindari kemurkaan ibunya, yang sampai saat itu tidak tahu sama sekali cerita tentang keislamannya. 

Hanya saja, di Mekkah tiada rahasia yang tersembunyi. Mata dan telinga orang-orang Quraisy ada di setiap tempat mengikuti setiap langkah dan menyusuri setiap jejak. Utsman bin Thalhah melihat Mush'ab ketika memasuki rumah Al Arqam secara diam-diam. Kali lain Utsman melihatnya shalat seperti yang dilakukan oleh Muhammad. Ia pun segera menemui ibu Mush'ab dan melaporkan berita yang dijamin kebenarannya. 

Mush'ab berdiri di hadapan ibu dan keluarganya serta para pembesar Mekkah yang berkumpul di rumahnya. Dengan hati yang benar benar yakin dan mantap. Mush'ab membacakan ayat-ayat Al Qur'an yang 
disampaikan oleh Rasulullah untuk mencuci hati nurani mereka, mengisinya dengan hikmah dan kemuliaan; kejujuran dan ketakwaan. 

Ketika sang ibu hendak membungkam mulut putranya dengan tamparan keras, tangan yang terayun bagai anak panah itu tiba-tiba lunglai dan jatuh terkulai di hadapan cahaya yang membuat wajah yang telah berseri cemerlang itu kian berwibawa dan tenang. Kewibawaannya telah menimbulkan penghormatan dan ketenangannya menumbuhkan kepercayaan. 

Sebagai seorang ibu. ibunda Mush'ab tidak tega memukul 'dan menyakiti putranya. Tetapi pengaruh berhala berhala terhadap dirinya membuat dirinya harus bertindak dengan cara lain. Ia membawa putranya itu ke ruang yang terisolir di dalam rumahnya, lalu mengurungnya di dalam mangan itu dan ditutup rapat rapat. 

Mush'ab tinggal dalam kurungan itu sekian lama hingga beberapa orang di antara kaum muslimin hijrah ke Habasyah (Etiopia). Mendengar berita hijrah ini Mush'ab pun mencari muslihat, dan berhasil mengelabui ibu dan penjaga penjaganya. lalu hijrah ke Habasyah dengan penuh ketaatan. Ia tinggal di sana bersama saudara saudaranya kaum Muhajirin, lalu pulang ke Mekkah. 

Kemudian ia pergi lagi untuk hijrah kedua bersama para sahabat atas titah Rasulullah dan karena taat kepada beliau. Tetapi, di Habasyah maupun di Mekkah tidak ada bedanya bagi Mush'ab. Ujian dan penderitaan yang harus dihadapi Mush'ab kian meningkat tanpa kenal waktu dan tempat. 

Mush'ab telah berhasil membentuk pola kehidupannya dengan format baru sesuai dengan yang dicontohkan oleh sosok pilihan, Muhammad. Dia kini telah sampai pada keyakinan bahwa hidupnya sudah sepantasnya dipersembahkan untuk Penciptanya Yang Mahatinggi, Rabb nya Yang Maha agung. 

Suatu hari ia muncul di hadapan beberapa kaum muslimin yang sedang duduk di sekeliling Rasulullah. Saat memandang Mush'ab, mereka semua menundukkan kepala dan merasa prihatin. Beberapa orang di antara mereka berlinang air mata karena terharu. Hal itu karena mereka melihat Mush'ab memakai jubah usang yang penuh dengan tambalan. Mereka teringat penampilannya sebelum masuk Islam, ketika pakaiannya bagaikan bunga-bunga di taman hijau yang terawat dan menyebarkan bau yang wangi. 

Rasulullah sendiri menatapnya dengan pandangan yang bijaksana. Pandangan yang penuh rasa syukur dan kasih sayang. Kedua bibir beliau menyunggingkan senyuman mulia, seraya bersabda: 

"Aku telah mengetahui Mush'ab ini sebelumnya… Tidak ada pemuda Mekkah yang lebih dimanja oleh orang tuanya seperti dirinya Kemudian ia meninggalkan itu semua karena cinta kepada Allah dan Rasul Nya. " 

Sejak ibunya merasa putus asa untuk mengembalikan Mush'ab kepada agama yang lama, segala fasilitas yang dahulu dinikmatinya dihentikan. Bahkan, ibunya tidak sudi nasinya dimakan orang yang telah mengingkari berhala. Sang ibu tega membiarkannya menanggung derita kemurkaannya. walau itu adalah anak kandungnya sendiri. 

Akhir pertemuan Mush'ab dengan ibunya adalah ketika perempuan itu hendak mengurungnya kembali setelah ia pulang dari Habasyah. Ia pun bersumpah dan menyatakan tekadnya untuk membunuh orang orang yang membantu melaksanakan rencananya. Karena sang ibu telah mengetahui kebulatan tekad putranya yang tidak bisa ditawar lagi, tidak ada jalan lain baginya kecuali melepasnya dengan cucuran air mata, sementara Mush'ab pun tidak kuasa menahan tangis. 

Perpisahan itu menggambarkan kepada kita kegigihan yang luar biasa dari pihak ibu dalam kekafiran, sebaliknya kebulatan tekad sangat kuat dari pihak anak dalam mempertahankan keimanan. Sang ibu mengusinya dari rumah. 

Dia berkata, “Pergilah sesuka hatimu! Aku bukan ibumu lagi.” 

Mush'ab menghampiri ibunya seraya berkata, "Wahai Bunda! Saya ingin menyampaikan nasihat kepada bunda, dan ananda merasa kasihan kepadamu. Saksikanlah bahwa tiada Ilah (yang berhak disembah) selain Allah, dan Muhammad adalah hamba dan utusan Nya." 
Ibunya menjawab dengan penuh emosi dan kesal, "Demi bintang! Sekali-kali aku takkan masuk ke dalam agamamu itu. Otakku bisa jadi rusak, dan akalku akan melemah.” 

Mush'ab kini meninggalkan kemewahan dan kesenangan yang dinikmatinya selama ini, dan memilih hidup miskin dan sengsara. Pemuda berpenampilan mewah dan wangi itu kini telah menjadi seorang melarat dengan pakaiannya yang kasar dan usang. Satu hari ia adakalanya makan dan beberapa hari menderita lapar. Tetapi, jiwanya yang telah dihiasi dengan akidah yang suci dan memancar oleh cahaya Ilahi. telah mengubah dirinya menjadi seorang manusia yang dihormati, penuh wibawa dan disegani. 

Suatu saat Rasulullah memilih Mush'ab untuk melakukan tugas yang paling agung saat itu. Ia menjadi utusan Rasulullah ke Madinah untuk mengajarkan agama kepada orang orang Anshar yang telah beriman dan berbaiat kepada Rasulullah g di bukit Aqabah, mengajak orang-orang yang lain agar menganut agama Allah dan mempersiapkan Madinah untuk hijrah yang agung. 

Ketika itu sebenarnya masih banyak tokoh yang lebih tua di kalangan sahabat, lebih berpengaruh, dan lebih dekat hubungan kekeluargaannya dengan Rasulullah daripada Mush'ab. Tetapi, Rasulullah g menjatuhkan pilihannya kepada "Mush'ab Yang Baik”. Beliau menyadari sepenuhnya bahwa beliau telah memikulkan tugas yang besar di pundak pemuda itu, dan menyerahkan nasib agama Islam kepadanya di Madinah, yang tidak lama lagi akan menjadi Darul Hijrah, pusat para dai dan dakwah, dan markas para pengemban misi Islam dan prajurit perang. 

Mush'ab memikul amanat itu dengan bekal kearifan pikir dan kemuliaan akhlak yang dikaruniakan Allah kepadanya. Kezuhudan, kejujuran, dan kesungguhan hatinya telah berhasil melunakkan dan menawan hati penduduk Madinah hingga mereka berduyun duyun masuk Islam. 

Pada saat awal tiba di Madinah, yang menganut agama Islam di sana hanya dua belas orang, yang telah berbaiat di bukit Aqabah. Tetapi, beberapa bulan kemudian, banyak orang bersedia memenuhi panggilan Allah dan Rasul Nya. 

Pada musim haji berikutnya setelah tahun Perjanjian Aqabah, kaum muslimin Madinah mengirim utusan yang mewakili mereka menemui Nabi. Jumlah mereka adalah tujuh puluh mukmin laki laki dan perempuan. Mereka berangkat dipimpin oleh guru mereka, yang tidak lain adalah orang yang diutus oleh Nabi kepada mereka, yaitu “Mush'ab Yang Baik". 

Dengan kesopanan dan kebaikan yang ditunjukkan, Mush'ab bin Umair telah menjadi bukti bahwa Rasulullah tahu bagaimana memilih orang yang tepat. Ia memahami tugas dengan sepenuhnya, dan mampu menempatkan diri pada batas-batas yang telah ditetapkan. Ia sadar bahwa tugasnya adalah menyeru kepada agama Allah, menyampaikan berita gembira tentang agama Nya yang mengajak manusia menuju hidayah Allah. membimbing mereka ke jalan yang lurus. Tugasnya hanyalah menyampaikan agama Allah seperti tugas Rasulullah yang diimaninya. 

Di Madinah Mush'ab tinggal sebagai tamu di rumah As'ad bin Zurarah. Ia bersama As’ad mengunjungi kabilah kabilah, rumah-rumah dan tempat pertemuan, untuk membacakan ayat ayat Kitab Suci Rabbnya. yang telah ia ketahui. Mereka berdua menyampaikan kalimat Allah “bahwa Allah adalah Ilah Yang Maha Esa" secara hati hati. 

Mush'ab pernah menghadapi beberapa peristiwa yang mengancam keselamatan diri dan sahabatnya yang nyaris celaka jika tanpa kecerdasan akal dan kebesaran jiwanya. Suatu hari, ketika ia sedang memberikan petuah kepada orang-orang. tiba tiba disergap oleh Usaid binAl Hudhair, pemimpin kabilah Abdul Asyhal di Madinah. Usaid menodong Mush'ab dengan belati yang terhunus. 

Dia sangat murka dan sakit hati menyaksikan Mush'ab yang datang untuk menyelewengkan kaumnya dari agama mereka, membujuk mereka agar meninggalkan tuhan tuhan mereka, dan menceritakan Allah Yang Maha Esa yang belum pernah mereka ketahui sebelum itu. 'Tuhan-tuhan yang selama ini mereka kenal bisa dilihat dengan jelas terpajang di tempatnya dan bila seseorang berkepentingan, ia tahu di mana tempat tuhannya. Dia bisa langsung menghadap tuhannya untuk memaparkan kesulitan serta menyampaikan permohonan. Demikianlah yang tergambar dan terbayang dalam pikiran suku Abdul Asyhal. Berbeda dengan Rabb Muhammad yang sedang didakwahkan oleh utusan yang datang kepada mereka itu; tiada seorang pun yang mengetahui tempatNya atau melihat-Nya. 

Saat kaum muslimin yang sedang duduk bersama Mush'ab melihat kedatangan Usaid bin Al Hudhair dengan membawa kemurkaan bagaikan api yang berkobar, mereka pun merasa khawatir. Tetapi, "Mush'ab Yang Baik" tetap tenang, percaya diri, dan menunjukkan kegembiraan. 

Bagaikan singa hendak menerkam, Usaid berdiri di depan Mush'ab dan As'ad bin Zuxarah, seraya berkata. “Apa maksud kalian datang ke kampung kami? Apakah kalian hendak membodohi orang-orang yang lemah di antara kami? Tinggalkan segera tempat ini, jika kalian tidak ingin mati!"

(Bersambung ke bagian 2)

No comments: