adsense

bidvertiser

August 21, 2009

TINGKATAN ORANG BERPUASA

Berhubung besok kita akan melaksanakan puasa tahun 1430 H, maka ada baiknya kita mengetahui tingkatan orang berpuasa agar kita bisa mengkur diri kita termasuk tingkat yang mana.

Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya' Ulumuddin membagi puasa dalam tiga tingkatan :

1. Puasanya orang Awam

2. Puasanya orang Khusus

3. Puasanya orang Super Khusus.

PUASANYA ORANG AWAM

Puasanya orang awam adalah puasa yang hanya menahan perut (dari makan dan minum) dan kemaluan dari memperturutkan syahwat.

Rasulullah SAW bersabda,"Berapa banyak orang yang berpuasa, namun tidak didapatkan dari puasanya itu kecuali haus dan lapar." (Hadits Riwayat Turmudzi)

Imam Al-Ghazali berkata : "Berapa banyak orang yang berpuasa, namun ia tidak mendapatkan dari puasanya itu selain lapar dan haus. Sebab, hakikat puasa itu adalah menahan hawanafsu, bukanlah sekedar menahan lapar dan haus. Boleh jadi orang tersebut memandang yang haram, menggunjing dan berdusta. Maka yang demikian itu membatalkan hakikat puasa."

Para Ulama berkata: "Betapa banyak orang yang berpuasa padahal ia berbuka (tidak berpuasa) dan betapa banyak orang yang berbuka padahal ia berpuasa." Yang dimaksud dengan orang yang berbuka tetapi berpuasa ialah menjaga anggota tubuhnya dari perbuatan dosa sementara ia tetap makan dan minum. Sedangkan yang dimaksud denganberpuasa tapi berbuka ialah yang melaparkan perutnya sementara ia melepaskan kendali bagi anggota tubuh yang lain."

PUASANYA ORANG KHUSUS

Yaitu puasanya orang-orang sholeh, yang selain menahan perut dan kemaluan juga menahan semua anggota badan dari berbagai dosa, kesempurnaannya ada 7 perkara.

  1. Menundukkan pandangan dan menahannya dari memandang hal yang dicela dan dibenci, kesetiap hal yang dapat menyibukkan diri dari mengingat AllahSWT.
  2. Menjaga lisan dari membual, dusta, ghibah, perkataan kasar, pertengkaran, perdebatan dan mengendalikannya dengan diam, menyibukkan dengan dzikrullah dan membaca Al-qur'an.

  3. Menahan pendengaran dari mendengarkan setiap hal yang dibenci (makruh) karena setiap hal yang diharamkan perkataannya diharamkan pula mendengarnya.
  4. Menahan berbagai anggota badan lainnya dari berbagai dosa seperti tangan, kaki dari hal-hal yang dibenci, menahan perut dari memakan makanan yang subhat (meragukan) pada saat tidak puasa (berbuka).
  5. Tidak memperbanyak makanan yang halal pada saat berbuka sampai penuh perutnya, karena tidak ada wadah yang dibenci oleh Allah kecuali perut yang penuh dengan makanan halal. Bagaimana puasanya bisa bermanfaat untuk menundukkan musuhnya (setan) dan mengalahkan syahwatnya jikaorang yang berpuasa pada saat berbuka melahap berbagai makanan sebagai pengganti makanan yang tidak dibolehkan memakannya pada siang hari?. Bahkan menjadi tradisi menyimpan dan mengumpulkan makanan sebagai persiapan pada saat berbuka padahal makanan yang tersimpan itu melebihi kapasitas perut kita bahkan mungkin bisa untuk makanan satu minggu, astaghfirullah.

  6. Mengurangi Tidur. Banyak orang yang termakan oleh hadits dhaif (lemah) "bahwa tidurnya orang berpuasa adalah ibadah", padahal telah menjadi kebiasaan Rasulullah SAW, "apabila bulan Ramadhan tiba, beliau melipat alas tidurnya (mengurangi tidur), mengetatkan sarungnya (yakni bersungguh-sungguh dalam ibadah), serta mengajak keluarganya berbuat seperti itu pula"(HR.Bukhari-Muslim)
  7. Cemas dan harap. Hendaklah hatinya dalam keadaan "tergantung" dan "terguncang" antara cemas dan harap karena tidak tahu apakah puasanya diterima dan termasuk golongan yang Muqorrobin atau ditolak sehingga termasuk orang yang dimurkai oleh Allah SWT. Hendaklah hatinya selalu dalam keadaan demikian setiap selesai melakukan kebaikan. Hadits-hadits Rasulullah SAW "Puasa adalah perisai (tabir penghalang dari perbuatan dosa). Maka apabila seseorang dari kamu sedang berpuasa, janganlah ia mengucapkan sesuatu yang keji dan janganlah ia berbuat jahil." (Hadits Riwayat Bukhari - Muslim)
"Lima hal yang dapat membatalkan puasa: berkata dusta, ghibah (menggunjing orang), memfitnah, sumpah dusta dan memandang dengan syahwat." (Hadits Riwayat Al-Azdiy)

"Barangsiapa yang tidak dapat meninggalkan perkataan kotor dan dusta selama berpuasa, maka Allah SWT tidak berhajat kepada puasanya." (HaditsRiwayat Bukhari)

"Orang yang menggunjing dan mendengarkan gunjingan, keduanya bersekutudalam perbuatan dosa." (Hadits Riwayat Ath-Thabrani)

PUASANYA ORANG KHUSUS LEBIH DARI KHUSUS

Yaitu puasa hati dari berbagai keinginan yang rendah danp ikiran-pikiran yang tidak berharga, juga menjaga hati dari selain Allah secara total. Puasa ini akan menjadi "batal" karena pikiran selain Allah (pikiran tentang dunia). Iniadalah puasanya para Nabi dan Rasul Allah SWT.

Nah bagaimana dengan kualitas puasa kita nanti??????

August 18, 2009

Penyakit suka bicara

Ada baiknya kita renungkan bersama cerita di bawah ini dimana pada saat ini sudah terlalu banyak orang yang katanya berilmu tapi sangat suka bicara.
Berkata sebagian salaf,


"Jika Allah Subhanahu wa Ta'ala menginginkan kebaikan bagi seseorang, maka dibukakan baginya amalan dan ditutup baginya pintu perdebatan. Dan jika Allah Subhanahu wa Ta'ala menginginkan keburukan bagi seseorang, maka ditutup baginya amalan dan dibukakan baginya pintu perdebatan."

Sering pula Imam Malik ra mencela seseorang yang memperbanyak omongan dan mudah berfatwa. Beliau ra pernah berkata, "Seseorang diantara mereka berbicara bagaikan unta. Ia gampang menyatakan, 'hal ini begini dan hal itu begitu.'"

Beliau ra juga berkata, "Berbantah-bantahan dalam masalah ilmu dapat mengeraskan hati dan membuahkan kebencian." Bila ditanyakan kepada beliau tentang suatu masalah, beliau sering menjawab, "Aku tidak tahu." Demikian juga Imam Ahmad ra, beliau melakukan seperti apa yang dilakukan oleh Imam Malik ra.

Dan telah diriwayatkan adanya larangan memperbanyak pertanyaan dan mereka-reka persoalan serta menanyakan sesuatu yang belum terjadi, yang bila hal tersebut ditelusuri, maka akan jadi berkepanjangan. Seiring dengan apa yang telah disebutkan diatas, sesungguhnya pada perkataan salaf dan para imam seperti Imam Malik, Imam Syafi'i, Imam Ahmad, Imam Ishaq dan lain-lain, terdapat penegasan terhadap sumber hukum dan dasar-dasar hukum dalam perkataan yang ringkas dan dapat dipahami maksudnya tanpa harus dijelaskan panjang lebar. Dan bahkan perkataan yang panjang lebar dari orang-orang yang mudah bicara dengan akalnya itu, tidak mengandung kebenaran seperti yang terdapat pada perkataan para salaf dan para imam, meskipun perkataan para salaf dan para imam itu ringkas.

Orang-orang salaf yang lebih suka berdiam diri dan tidak mengubris perselisihan dan perdebatan, bukan berarti mereka bodoh dan tidak mampu dalam hal itu, tetapi mereka sengaja berdiam diri karena kapasitas ilmu yang mereka miliki, serta rasa takut mereka kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dan orang-orang yang datang sesudahnya, mereka lebih suka mencari-cari persoalan, bukan karena mereka memiliki kelebihan ilmu dibandingkan orang lain, akan tetapi mereka melakukan hal itu karena rasa senang mereka terhadap bicara dan kurangnya rasa wara'. Seperti yang telah dikatakan oleh Al-Hasan ketika beliau mendengar orang-orang yang suka berselisih,

"Mereka adalah kaum yang sudah bosan beribadah dan menganggap remeh suatu perkataan, serta telah berkurangnya rasa wara' mereka sehingga mereka tidak segan-segan untuk berbicara."

[Disarikan dari Fadhl Al-Ilm As-Salaf 'ala Al-Khalaf, Al-Hafidz Ibn Rajab Al-Hanbaly]