adsense

bidvertiser

May 14, 2016

KOMUNIS DI YUGOSLAVIA

Komunis di Yugoslavia muncul bersamaan dengan gerakan komunis lainnya di eropa yang muncul pada masa pasca Perang Dunia I. Gerakan Komunis di Yugoslavia atau dikenal sebagai Liga Komunis Yugoslavia dibentuk pada tahun 1919 dan mulai eksis pasca kongres di Vukovar tahun 1920. Pada tahun 1937, Partai Komunis Yugoslavia dipimpin oleh seorang figur kharismatis yang merupakan seorang perwira berpangkat Sersan Mayor dan sempat terlibat dalam perang saudara Rusia sebagai bagian dari Legiun Bolshevik Yugoslavia yang bernama Josif Broz Tito(1892-1980)

Partai ini sebelumnya sempat dilarang pada tahun 1921 dan larangan ini tidak dicabut hingga kerajaan dibubarkan pasca PD II. Namun aktivitas illegal tetap mereka jalankan bahkan pada tahun 1929 sempat terjadi pemberontakan bersenjata. Gerakan Komunis Yugoslavia kembali bergerak ketika Pasukan Koalisi Poros(Jerman-Italia-Hungaria-Bulgaria) menyerang dan menduduki Yugoslavia pada tanggal 12 Juli 1941.
Kelompok Liga Komunis Yugoslavia mulai membuat sebuah gerakan perlawanan yang dikenal sebagai Partisan Yugoslavia dengan membawa slogan Brotherhood and Unity. Bahkan di bulan Desember 1941 bersamaan dengan serangan Jerman ke Uni Soviet, Kelompok Partisan mulai membentuk sayap militer dengan nama Brigade Proletariat ke-1. Gerakan ini dipimpin langsung oleh Josif Broz Tito. Segera setelah dibentuk sayap militer resmi, pasukan Partisan mulai mencoba melakukan pemberontakan melawan pasukan Axis dan pasukan kolaborator Axis yang terdiri dari orang-orang local Kroasia, Serbia dan Bosnia dibawah paying dua negara boneka Kroasia yang dipimpin oleh Ante Pavelic dan Serbia dibawah pimpinan Milan Nedic.

Namun dalam usaha perlawanannya ia juga mendapatkan seteru yang berat yaitu kelompok gerilyawan Chetnik yang merupakan tentara gerilya yang sangat loyal kepada Kerajaan Yugoslavia. Kelompok gerilyawan ini terdiri dari sejumlah prajurit kerajaan, Jenderal-jenderal Kerajaan dan bangsawan-bangsawan serta berbagai macam orang penting Yugoslavia lainnya. Dan gerakan ini dipimpin langsung oleh Kolonel Draza Milhailovich. Kelak kelompok gerilyawan ini akhirnya bergabung dengan koalisi Axis untuk menghancurkan Partisan. Selama kurang lebih 4 tahun, Pasukan Partisan berperang tanpa adanya bantuan dari manapun baik dari Sekutu Barat maupun Uni Soviet. Banyak logistic dan persenjataan Partisan adalah hasil dari pelucutan terutama dari Tentara Italia.

 Dengan dukungan rakyat yang melimpah ruah dari seluruh rakyat Yugoslavia, Pasukan Partisan  terus berusaha mendesak koalisi Poros pada tahun 1943. Usaha mereka semakin diperlancar dengan menyerahnya Italia kepada sekutu pada bulan Juli  sehingga menyebabkan pasukan Tito mendapat pasokan penuh peralatan perang dari tentara Italia yang menyerah bahkan di saat yang bersamaan pasukan Italia yang berjumlah 20.000 orang dari 60.000 orang menyatakan bergabung dengan Partisan sedangkan sisanya menghabiskan waktu sebagai tawanan.

Pada 14 September 1944, pasukan Partisan melancarkan serangan menuju Serbia dengan tujuan merebut kota Belgrade. Kondisi koalisi Axis kacau balau. Rumania mundur dari peperangan pasca kudeta yang dilancarkan pada bulan Agustus 1944 oleh Raja Michael. Kemudian, disusul oleh Bulgaria yang mundur pada tanggal 10 September bahkan menyatakan perang terhadap koalisi Axis dan membantu Tito untuk menahan laju mundur pasukan Axis di Yunani. Sedangkan Partisan semakin berada di atas angin apalagi sejak mendapat bantuan berupa dukungan angkatan udara dari Inggris yang dilabeli nama Balkan Air Force(BAF).
Pada tahun 1945, Pasukan Partisan melakukan offensive besar dan terakhir terhadap sisa-sisa pasukan Axis yang terdiri dari pasukan Jerman dan pasukan kolaborator local Serbia dan Kroasia serta sisa-sisa milisi loyalist Chetnik dan milisi fasis Kroasia, Ustase. Offensive ini berakhir dalam pertempuran Poljana pada tanggal 14-15 Mei 1945. Pasca pertempuran ini, banyak kolaborasionis meminta perlindungan ke pasukan Sekutu barat namun sayangnya mereka bukan dilindungi malah dikembalikan ke negaranya dimana sebagian besar dari mereka dieksekusi di Bleiburg yang dikenal sebagai  The Bleiburg Massacre.

Pasca PD II sebuah pemerintahan Koalisi pemerintahan Yugoslavia pada tanggal 8 Mei 1945 di Belgrade yang melibatkan unsur kerajaan yang dipegang oleh Raja Peter II yang saat itu masih berada di London dengan unsur-unsur sosialis komunis yang dipimpin oleh Josif Broz Tito. Namun, pada tanggal 29 November, sebagai akibat dari referendum masyarakat Yugoslavia yang menginginkan terbentuknya sebuah Republik, akhirnya raja Peter II turun dari tahtanya berdasarkan ketentuan perundang-undangan baru di Yugoslavia.
Pada tanggal 31 Januari 1946 dibuatlah sebuah konstitusi baru sebagai awal dari berdirinya Republik Federasi Sosialis Yugoslavia dengan presiden pertama Ivan Ribar(1945-1953) dan perdana menteri pertama, Josip Broz Tito. Bentuk negara Yugoslavia, adalah Republik Federal yang terdiri dari 6 negara (Serbia, Bosnia-Herzegovina, Montenegro, Kroasia, Slovenia, Macedonia) dua buah provinsi yang otonom di wilayah Republik Sosialis Serbia yaitu Kosovo dan Vojvodina.

Yugoslavia dalam pentas politik internasional pasca PD II adalah sebuah negara Komunis yang loyal dan kuat kedua di eropa setelah Stalin. Yugoslavia sempat membangun hubungan yang baik dengan negara-negara sekutu barat sejak Inggris menurunkan bantuannya tahun 1944. Namun semenjak mengetahui maksud sekutu barat untuk menguasai Balkan, akhirnya Yugoslavia mengalihkan haluan politiknya lebih mendekat Uni Soviet yang saat itu dipimpin oleh Joseph Stalin.

Namun masa-masa kedekatan Yugoslavia dan Uni Soviet ini tidaklah lama setelah begitu Moskow mencurigai keinginan Yugoslavia untuk memperluas pengaruh di Balkan. Sehingga Stalin meminta dengan tegas agar Yugoslavia tunduk kepada Moskow apalagi Tito memutuskan untuk menciptakan sebuah sistem Komunis dengan manajemen mandiri dari seluruh pekerja Yugoslavia serta Konsep Komunisnya yang cenderung pada nasionalisme dan persatuan Yugoslavia.

Pada tahun 1948 ketegangan antara Stalin dengan Tito semakin menguat bahkan tersiar kabar bahwa tentara merah ingin menginvasi Yugoslavia. Namun Tito tetap bertahan dari semua serangan diplomatis dari Moskow.  Dengan kematian Stalin tahun 1953, Tito secara tidak langsung memenangkan pertaruangan diplomatis ini. Kemudian pada tahun 1956, Yugoslavia membangun hubungan dengan Uni Soviet secara perlahan ketika pada saat itu terjadi proses De-Stalinisasi.

Pada tanggal 1 September 1961, Yugoslavia menjadi negara pemrakarsa dan menjadi negara tuan rumah bagi Konferensi Gerakan Non-Blok Pertama. Josif Broz Tito menjadi salah satu penggerak GNB disamping Soekarno(Indonesia), Jawaharlal Nehru(India),Gamal Abdul Nasser(Mesir), Kwame Nkrumah(Ghana)
Pada tahun 1963, Yugosalvia muncul dengan nama baru yaitu Republik Federasi Sosialis Yugoslavia .  Yugoslavia menjadi negara komunis satu-satunya yang memperbolehkan keberadaan perusahaan swasta serta memperbolehkan adanya berbagai bentuk ekspresi keagamaan. Bahkan sejak tanggal 1 Januari 1967, Yugoslavia menjadi negara komunis pertama dan satu-satunya yang memperbolehkan wisatawan asing dari berbagai negara masuk ke perbatasan negaranya dan menghapus kebijakan Visa.

Pada tahun 1974, Yugoslavia memperkenalkan sebuah konstitusi Federal terbaru yang memberikan  otonomi khusus bagi negara-negara republic sosialis di Yugoslavia untuk mengatur kepentingan domestiknya masing-masing. Dampak dari Konstitusi baru ini adalah meningkatnya tensi persaingan antar etnis di Yugoslavia. Pada tahun 1978, Masyarakat Krosia melakukan demonstrasi yang terkenal dengan sebutan Zagreb  Spring.

Pada tanggal 8 Mei 1980, sebuah awan gelap mulai menyelimuti sinar kejayaan Yugoslavia ketika sang pendiri sekaligus kepala negaranya, Josip Broz Tito meninggal dunia. Posisi Tito sebagai Presiden diganti oleh Lazar Kolisevski sedangkan posisi Tito sebagai ketua Liga Komunis Yugoslavia digantikan oleh Stepan Doronjski. Sistem pemerintahan yang berlaku pasca kematian Tito adalah sistem kepresidenan kolektif.

Namun Kematian Tito ini ternyata menandai akhir dari masa kejayaan Yugoslavia, Sejak saat itu Yugoslavia terjebak dalam inflasi yang terus meroket hingga 400% pada tahun 1987. Selain itu tensi ketegangan antar etnis dalam Yugoslavia semakin meningkat tajam. Bahkan Yugoslavia terjebak dalam pinjaman luar negeri yang diberikan IMF ditambah lagi dengan sikap politik Amerika Serikat yang akhirnya tidak mengirim bantuan lagi pasca kebijakan Glasnost-Perestroikanya Mikhail Gorbachev.

Keruntuhan komunis di eropa timur tahun 1989-1990 serta bubarnya Uni Soviet pada tahun 1991 membawa akibat paralel bagi Yugoslavia. Dengan semangat nasionalisme etnis beserta permusuhan historisnya dalam lingkungan Yugoslavia berujung pada usaha separatisme dari republik-republik dalam federasi Yugoslavia. Yang pertama kali memerdekakan diri adalah Slovenia pada 25 Juni 1991. Kemerdekaan Slovenia ini direspon pemerintah federal dengan mengirim Tentara Federal Yugoslavia untuk menginvasi Slovenia dalam perang 10 hari. Tentara Federal akhirnya kalah dan terpakasa mengakui Slovenia sebagai negara merdeka.
Sikap ini diikuti dengan baik oleh tetangganya Kroasia yang akhirnya segera mengumumkan kemerdekaannya pada bulan Oktober 1991. 

Tindakan Kroasia juga akhirnya mendapat balasan yang sama dari pemerintah Federal. Bahkan belakangan ini, dengan semakin menguatnya posisi etnis Serbia dalam kepresidenan federal Yugoslavia yang dipimpin oleh Slobodan Milosevic, maka telah disusun sebuah format negara Yugoslavia baru dalam konsep yang sangat rasis yang dikenal dengan konsep, Serbia Raya. Untuk menggolkan konsep ini, dalam invasinya ke Kroasia, Pemerintah Yugoslavia yang didominasi orang Serbia ini, mendorong etnis Serbia di Kroasia untuk memberontak dan membuat sebuah negara yang bernama Republik Krajina pimpinan Milan Marctic. Perang kemerdekaan Kroasia ini berlangsung hingga tahun 1995.

Mengikuti beberapa negara Yugoslavia yang memisahkan diri, Bosnia-Herzegovina memutuskan untuk menyatakan kemerdekaannya pada tanggal 6 April 1992 setelah melalui sebuah referendum 53% penduduknya memilih untuk merdeka. Maka seperti Kroasia dan Slovenia, Bosnia-Herzegovina seolah sedang mengantri untuk menerima angkara murka dari Belgrade. Menggunakan taktik yang sama seperti masa invasi di Kroasia, mereka menggunakan orang-orang Serbia di Bosnia untuk mempermudah peperangan ini. Bahkan etnis Serbia-Bosnia membangun sebuah negara khusus bernama Srebrenica pimpinan Radovan Karadzic.
Bosnia yang saat itu kekuatannya hanya bertumpu pada kelompok-kelompok pasukan paramiliter dan pertahanan sipilnya saja. Sedangkan yang dilawan adalah sebuah tentara resmi federal lengkap dengan alusistanya serta pasukan paramiliter Serbia-Bosnia pimpinan Ratko Mladic. Karena kurangnya persenjataan, maka pasukan Serbia(Federal Yugoslavia) sukses mengalahkan mereka. Dampak dari perang ini sangat mengerikan sebagai akibat dari program etnic cleansing oleh etnis Serbia terhadap etnis Bosnia dalam rangka terciptanya Serbia Raya. Banyak sekali rakyat Bosnia yang dibunuh, disiksa bahkan diperkosa.

Kondisi ini semakin diperparah dengan kurangnya dukungan internasional serta munculnya tamu tak diundang dari utara yaitu Kroasia. Ternyata sebelum berperang Kroasia-Serbia telah mengadakan perjanjian terkait pembagian daerah antara Kroasia dengan Serbia . Apalagi pemerintah Kroasia mempunyai kepentingan terkait dengan keberadaan etnis Kroasia di Bosnia yang dipimpin oleh Mate Boban. Namun seiring dengan perbedaan kepentingan, akhirnya perjanjian kesepakatan ini berakhir dan Pasukan Kroasia akhirnya berbalik menyerang pasukan Serbia dan membantu pasukan Bosnia membebaskan tanah airnya.



Kasus perang Bosnia ini diakhiri dengan perjanjian Dayton pada 14 Desember 1995  dan keterlibatan NATO dan PBB dalam kasus ini. Yugoslavia pasca perang akhirnya hanya terdiri dari 2 negara ; Serbia dan Montenegro, serta 2 daerah otonom; Vojvodina dan Kosovo. Pada tahun 2005 nama Yugoslavia resmi berganti menjadi Serbia-Montenegro. Pada tahun 2006,akhirnya Montenegro memisahkan diri dan merdeka disusul dengan Kosovo tahun 2008.

Sumber:arifnurcahyo-janisary.blogspot.co.id
Post a Comment