adsense

bidvertiser

May 11, 2016

KISAH KOMUNIS DI NEGARA RUSIA

Sering sekali rasanya kita mendengar dan membaca banyak tentang Komunis. Darimanakah kalian mengetahui tentang Komunis? Banyak sekali masyarakat di seluruh dunia termasuk di negara kita Indonesia mendengar kata Komunis ini baik melalui buku-buku pelajaran sekolah, ensiklopedia, internet hingga video atau acara-acara documenter.  Bagi kalangan masyarakat biasa, Komunis sering dipandang sebagai ideologi yang buruk, kacau, tidak masuk akal dan penyebab kebangkrutan negara  hingga muncul anggapan bahwa Komunis adalah bagian dari sebuah barbarious behavior berdasarkan kepada kekejaman yang mereka lakukan terhadap rakyat yang tidak berdosa.

Namun sudahkah kita mengetahui pengertian Komunis ini dan bagaimanakah pergerakan Komunis yang terjadi di negara-negara PAHAM KOMUNISME? Apa latar belakang kemunculannya? Alangkah baiknya kita mengulas mengenai sebuah pertanyaan dasar sebelum kita lanjut mengenai pembahasan gerakan komunis di negara-negara Slavia : Apakah pengertian dari Komunis itu sendiri?

Komunis berasal  dari bahasa latin Communis yang berarti Berbagai atau  Milik Bersama.  Komunis dapat diartikan dalam berbagai macam. Bisa diartikan sebagai  sebuah usaha untuk menciptakan masyarakat bebas yang tidak terikat oleh sekat-sekat pembagian kelas social, ada yang mengartikan sebagai  ideologi alternatif untuk membendung arus kapitalisme dunia, ada pula yang mengartikannya sebagai sebuah ideologi yang mengedepankan kolektivitas dimana dalam sebuah negara Komunis haram hukumnya untuk kepemilikan pribadi serta mengedepankan sistem kepemilikan Kolektif.

Ide mengenai pemikiran Komunis ini muncul dari dua orang filsuf materialis terkenal dari Jerman yaitu : Karl Marx dan Friedrich Engels yang saat itu telah mengekspresikan ide-ide Komunisnya melalui buku Das Kapital (1863), The Communist Manifesto(1848), The Dialectics  of Nature(1883). Ide-ide pemikiran Komunis ini kelak semakin berkembang dan diimplementasikan untuk pertama kalinya di sebuah negara yang merupakan bagian dari keluarga besar etnis Slavia, Rusia pada akhir abad 19.


KOMUNIS DI RUSIA
Rusia pada abad ke-19 merupakan sebuah Kekaisaran besar yang menguasai seluruh Tanah Eurasia bahkan sempat mencapai Alaska sebelum akhirnya dibeli Amerika Serikat pada tahun 1867. Kekaisaran Rusia juga pada masa itu merupakan salah satu kekuatan besar eropa yang setara dengan Jerman, Austro-Hungaria, Inggris, Perancis dan Turki Ottoman. Namun, disamping posisinya sebagai kekuatan besar eropa dan dunia, Rusia ternyata merupakan sebuah batu karang absolutisme ditengah derasnya arus demokratisasi dan reformasi yang saat itu melanda banyak negara-negara eropa. Disamping itu, meskipun Rusia mulai sedikit demi sedikit tersentuh revolusi industri dan lambat namun perkembangannya selanjutnya tetap saja unsur feodalisme mengakar kuat di Rusia.
Meskipun pada masa Nikolai I(1827-1855)  perbudakan sudah mulai dihapuskan namun kondisi masyarakat Rusia tak ubahnya seperti kondisi masyarakat feudal pada masa Kepangeranan Kiev dan Moskow. Bangsawan dan keluarga kerajaan memiliki kekuasaan yang luar biasa dan acapkali tidak terbatas sedangkan  kaum buruh dan petani semakin berada dalam posisi tertindas setiap hari mereka harus bekerja secara keras tiada henti sedangkan balas jasa yang mereka dapatkan sedikit bahkan tidak dapat mencukupi sama sekali kebutuhan hidup mereka.

Bersamaan dengan situasi ini, masuklah berbagai macam aliran pemikiran dari eropa barat termasuk didalamnya adalah pemikiran komunisme modern yang dibawa oleh Marx dan Engels. Dengan masuknya berbagai aliran pemikiran modern ini, maka tumbuh suburlah berbagai gerakan masyarakat  dari berbagai macam aliran mulai dari demokrasi hingga social revolusioner yang radikal menuntut  perubahan yang lebih baik dalam tata pemerintahan dan kenegaraan dalam Kekaisaran.

Pada tahun 1904, Rusia terlibat perang dengan Jepang untuk memperebutkan daerah Manchuria dan Korea serta perairan Pasifik utara. Setelah terjadi peperangan yang keras selama 1 tahun akhirnya Kekaisaran Rusia harus menanggung kekalahan yang pahit melawan sebuah kekuatan baru Asia timur, Kekaisaran Jepang.  Puncak Kekalahan ini berbuntut pada revolusi Februari 1905 yang merupakan sebuah usaha masyarakatRusia untuk menyampaikan petisi kepada Tsar yang berisikan mengenai perbaikan birokrasi pemerintahan namun dijawab dengan tembakan dari pasukan-pasukan Tsar.

10 Tahun pasca Perang Rusia-Jepang muncul sebuah perang yang sangat dahsyat dan juga kelak menyeret Rusia yang saat itu masih dianggap sebagai kekuatan yang berpengaruh di Eropa yaitu Perang Dunia I. Rusia terlibat dalam peperangan sebagai patron bagi Kerajaan Serbia yang saat itu terlibat dalam masalah dengan Kerajaan Austro-Hungaria terkait masalah terbunuhnya Pangeran Franz Ferdinand oleh Gavrilo Princip, seorang nasionalis Serbia di Sarajevo pada tanggal 28 Juni 1914.

Pasukan Rusia ketika itu terjun dalam kondisi yang sangat bermasalah. Mulai dari kualitas prajuritnya masalah korupsi birokrat yang melilitnya, hingga yang paling mengerikan adalah masalah perlengkapan tempur prajuritnya yang tidak semuanya lengkap atau berfungsi secara sempurna. Sehingga tak heran pasukan Rusia selalu mengalami kekalahan yang mengenaskan. Bahkan pada pertempuran Tannenberg pada bulan Agustus 1914 Rusia harus kehilangan salah satu Jenderal Besarnya, Samsonov beserta  sekitar 120.000 pasukannya yang hilang, tewas, dan tertawan.  

Meskipun pada akhirnya pasukan Rusia sempat mendapat kemenangan di tangan salah satu Jenderal brilyannya, Alexei Brusilov pada akhir tahun 1915. Namun, kemenangan ini tetap tidak memberi perubahan yang signifikan dalam peperangan di Front Timur . Pasukan Rusia terus saja mengalami kekalahan bahkan Tsar Nikolai II harus turun sendiri sebagai Panglima Tertinggi. Perang ini berakhir dengan sebuah gencatan senjata yang isinya sangat merugikan Rusia di kota Brest-Litovsk pada tahun 1918.

Dampak  dari peperangan ini sangat mengerikan. Banyaknya pria-pria Rusia yang aslinya merupakan buruh dan petani dipaksa untuk berperang sehingga pada akhirnya yang terjadi adalah kemacetan industri dan pertanian yang berakibat pada kelangkaan pangan yang luar biasa yang harus diderita oleh rakyat Rusia. Demonstrasi besar-besaran semakin meluas dan akhirnya memuncak pada sebuah gerakan besar yang disebut revolusi.

Revolusi yang pertama terjadi  pasca PD I terjadi pada bulan Februari 1917 ketika Alexander Kerensky berhasil mengambil alih pemerintahan Tsar di Petrograd serta memaksa  Tsar Nikolai II untuk menyerahkan tahtanya di Pshkov dan akhirnya ia ditawan bersama dengan keluarganya hingga pada tanggal 17 Juli 1918 ketika ia dieksekusi oleh kelompok Sosialis Revolusioner yang saat itu merupakan bagian dari koalisi pemerintahan Kerensky.

Alexander Kerensky ketika itu  berasal dari kelompok minoritas yang merupakan pecahan dari Partai Sosial Demokrat Rusia yang disebut sebagai Menshevik. Menshevik berisikan orang-orang Sosialis yang moderat, kompromis serta nasionalis sehingga orang-orang Menshevik tetap memerangi Jerman pasca revolusi yang mereka lakukan. Namun perubahan yang mengerikan terjadi di dalam tubuh militer dimana beberapa perwira tinggi tewas di tangan anak buahnya sendiri yang menjadi indisipliner pasca revolusi.

Namun pemerintahan yang dikendalikan Kerensky beserta kaum kadet dan Mensheviknya gagal memenuhi harapan rakyat Rusia. Di saat-saat yang penuh ketidakpastian muncullah gerakan revolusi yang lebih besar, lebih popular dan  lebih terorganisir serta merupakan musuh dari Menshevik, yaitu Bolshevik  yang merupakan sebutan bagi kelompok mayoritas dalam Partai Sosial Demokrat Rusia yang menyetujui opsi revolusi dengan kekerasan dan perjuangan bersenjata yang berdarah.

Perpecahan Bolshevik dan Menshevik merupakan hasil pertentangan yang tak kunjung usai pada Kongres Partai Sosial Demokrat Rusia di Brussel, Belgia yang berlanjut hingga London pada tahun 1908. Gerakan Bolshevik dipimpin oleh dua orang tokoh yang kelak akan terus dikenang sebagai tokoh yang paling inspiratif dalam Komunis dunia : Vladimir Illyich Ulyanov atau lebih dikenal sebagai Vladimir Lenin serta  Lev Trotsky.
Pasca dijatuhkannya Pemerintahan Kerensky dari Petrograd, dengan segera Bolshevik membentuk sebuah pemerintahan yang bernama Soviet Petrograd. Revolusi Oktober 1917 ini juga menjadi pemicu meletusnya perang saudara antara Tentara Putih yang loyal kepada Tsar atau Pemerintahan Sementara melawan Tentara Merah yang merupakan sayap militer Partai Komunis yang sukses dibentuk oleh Lev Trotsky.

Perang Saudara ini tersebar ke Siberia, Baltik, Finlandia, Kaukasus, hingga ke Vladivostok. Selain itu, banyak negara-negara superpower dunia pada masa itu terlibat seperti : Amerika Serikat, Perancis, Inggris, Jerman dan Jepang. Perang Saudara ini berakhir pada tahun 1922 dan di bulan Desember di tahun yang sama, Berdirilah Republik Sosialis Uni Soviet yang merupakan hasil gabungan antara Republik Federasi Sosialis Soviet Rusia, Republik Federasi Sosialis TransKaukasus, Republik Sosialis Ukraina, Republik Sosialis Soviet Belarusia.

Gabungan negara-negara Soviet ini dipimpin oleh seorang pemimpin tertinggi Bolshevik, Vladimir Lenin sebagai Ketua Dewan Komisariat Rakyat Uni Soviet.  Lenin memimpin Uni Soviet selama dua tahun sampai kematiaanya pada tanggal 21 Januari 1924. Setelah kematian Lenin, terjadi perebutan kekuasaan antara Trotsky dengan Stalin. Trotsky yang saat itu menjabat sebagai Menteri Pertahanan sekaligus Komisaris Luar Negeri sedangkan Stalin sebagai  Sekretaris Jenderal. Trotsky yang saat itu tidak waspada dan bermasalah dengan kesehatannya akhirnya kalah oleh manuver yang dilakukan oleh Stalin bersama dua orang kawannya Lev Kamenev dan Gregory Zinoviev.  Trotsky akhirnya tertangkap dan dibuang ke Kazakhstan pada tahun 1928 dan Pada tahun 1929 melarikan diri ke Turki sebelum akhirnya ia pindah ke Meksiko hingga kematiannya pada tahun 1940.

Stalin akhirnya mengukuhkan kekuasaan sebagai  seorang dictator dengan menyingkirkan kedua saingannya Kamenev dan Zinoviev. Pada tahun 1929 ia akhinrya menggantikan Lenin dalam memimpin Uni Soviet dengan posisi lamanya sebagai Sekretaris Jenderal.  Kebijakan-kebijakan Stalin yang paling utama di bidang ekonomi khususnya adalah melaksanakan proses industrialisasi Uni Soviet secepat mungkin.
Maka, kebijakan pertama yang ia canangkan adalah dengan membuat kebijakan baru yaitu pertanian kolektif, dimana semua tanah yang dahulu direbut dari tuan tanah pada masa perang saudara oleh para petani kemudian dicabut hak miliknya oleh negara dan wajib untuk menyerahkan seluruh hasil panennya kepada negara. Banyak sekali petani yang menentang keras kebijakan ini sehingga Stalin terpaksa harus melakukan pembunuhan secara besar-besaran dan cepat terhadap para petani yang menentang kebijakan ini. Pembersihan ini dilaksanankan oleh beberapa kroninya yang terkenal seperti Lazar Kaganovich dan kroni Ukrainanya yang kelak menjadi penerus, Nikita Khrushchov.

Selain itu, Stalin juga mencanangkan program pembangunan berjangka 5 Tahun dalam satu  periode yang terkenal sebagai  The Five Years Plan. Mengenai keberhasilan program Industrialisasi banyak yang bilang bahwa program Stalin ini cukup sukses meskipun harus mengorbankan puluhan juta rakyatnya tewas karena kelaparan massal pada tahun 1932-1933. Hal ini ditandai dengan  keberhasilan membangun pembangkit listrik, kemudian membangun industri-industri berat terutama industri militer hingga sukses membangun jalur kereta api bawah tanah. Namun ada yang mengatakan  bahwa program industrialisasi Stalin ini sebuah kegagalan besar dan merupakan pemicu krisis pangan besar-besaran di Uni Soviet.
Pada tahun 1934, Stalin kehilangan sahabat terdekatnya Sekretaris Partai Leningrad, Sergei Kirov. Kematian Kirov meskipun kelak dicurigai motifnya sebagai usaha Stalin untuk membungkam sahabatnya yang mulai berbicara secara terbuka menentangnya, digunakan oleh Stalin sebagai  alasan untuk menghabisi orang-orang yang menentangnya atau yang dia anggap mempunyai afiliasi dekat dengan Trotsky, Kamenev, Zinoviev atau bahkan dengan negara-negara musuhnya seperti Polandia, Jerman atau Amerika.

Proses pembersihan ini mencapai puncaknya pada tahun 1937 ketika Stalin menemukan adanya sebuah konspirasi besar orang-orang yang pro Trotsky-Kamenev-Zinoviev untuk menggulingkan Stalin ditambah dengan adanya isu kolone kelima dalam partai Komunis menyebabkan Stalin memulai proses pembersihan terhadap lawan-lawan politiknya secara kejam, ganas , bahkan terorganisir . Salah satu contoh yang paling mengerikan dalam kisah ini adalah Jenderal Kliment Voroshilov, salah satu kroni terdekat Stalin saat perang saudara bahkan memimpin secara terorganisir dan rapi proses eksekusi terhadap sekitar 70.000 perwiranya.
Mulai dari pejabat partai, ilmuwan, sastrawan hingga perwira militer pun banyak menemui ajal dalam proses pembersihan ini tidak terkecuali dua orang kepala NKVD(Genrikh Yagoda dan Nikolai Yezhov) yang saat itu terlibat dalam proses ini pun akhirnya dihabisi. Pada tahun 1938, pembersihan itu dihentikan.

Ketika awan kelabu Perang Dunia Kedua mulai menutupi langit kedamaian di Eropa, Stalin mulai memperhatikan kemunculan Jerman dengan partai NSDAP(disebut NAZI)yang dipimpin Adolf Hitler berkembang secara agresif sejak mereka berhasil memenangkan pemilu pada tahun 1933 dan Hitler menjadi kanselir. Jerman akhirnya merebut kembali wilayah Rheinland tanpa perlawanan tahun 1935, menduduki Austria pada tahun 1938 yang kelak dikenal sebagai proses Anchluss(penyatuan), kemudian menduduki Cekoslovakia pada bulan maret 1939 sebagai akibat dari Konferensi Munich antara Adolf Hitler(Kanselir Jerman),Benito Musolini(PM Italia), Neville Chamberlain(PM Inggris), dan Edouard Daladier(Presiden Perancis).

Ideologi NAZI yang diusung Hitler ini sangat ultranasionalistik dengan semangat rasisme Aryanya dan juga semangat anti-Komunis yang telah memasuki tahap mengerikan. Bahkan pasca insiden pembakaran Reichstag oleh seorang pemuda Belanda yang gila dijadikan sebagai  alasan utama untuk menghabisi kubu Komunis yang berada di Jerman. Hal ini membuat Uni Soviet khawatir terhadap  atensi  besar Jerman kepada Uni Soviet sebagai musuh besar Komunis yang harus diperangi. Maka Uni soviet menawarkan kepada Inggris-Perancis sebuah aliansi bersama untuk melawan Jerman namun ditolak mentah-mentah oleh kedua negara tersebut.

Akhirnya Stalin melakukan sebuah manuver yang benar-benar mengejutkan serta membingungkan banyak pihak di seluruh dunia termasuk negara-negara demokrasi Barat itu sendiri dengan membuat sebuah pakta perjanjian non-Agresi dengan Jerman pada tanggal 26 Agustus 1939. Bahkan mereka akhirnya bekerjasama untuk menyerang Polandia dengan pembagian detailnya Jerman dari barat sedangkan Uni Soviet dari timur. Hal ini sesuai dengan perjanjian rahasia Molotov-Ribbentrop bahwa Polandia harus dibagi dua antara Jerman dengan Uni Soviet.

Sekalipun terikat dengan perjanjian damai, kedua negara ini tetap memiliki perasaan saling mencurigai. Terutama mengenai dua propinsi Rumania yang memiliki nilai yang sangat penting dalam hal geostrategis : Bessarabia dan Bukovina yang memiliki akses lebih dekat ke daerah kaya minyak  yang terletak di Kota Ploesti. Akhirnya persekutuan ini benar-benar bubar ketika Jerman pada tanggal 22 Juni 1941 melancarkan operasi besar bertajuk operasi Barbarossa.

Pada awal serangan Pasukan Jerman dapat menyerang dengan cepat sehingga dengan mudah pasukan Uni Soviet terkepung. Hal ini semakin diperparah dengan strategi Uni Soviet yang kaku dan kesiapan Tentara Merah untuk berperang sangat kurang sehingga banyak sekali pasukan Tentara Merah yang tertawan  bahkan jumlahnya mencapai 5 kali lipat dari jumlah Pasukan Jerman dan koalisinya yang menyerang Rusia.

Namun, memasuki musim dingin kekuatan perang pasukan Jerman mulai tergerus sedikit demi sedikit. Hal ini terjadi karena ketidaksiapan pasukan Jerman dalam menghadapi musim dingin di Rusia yang saat itu sangat berbahaya. Tak jarang, banyak kendaraan militer Jerman yang berubah menjadi seonggok besi tua tak berguna karena bensin dan oli pelumas yang menjadi beku. Bahkan pasukan Jerman terutama para prajurit infantrinya banyak yang tidak memiliki pakaian musim dingin sehingga mereka mengalami kelelahan dan kepayahan yang ganda karena harus melawan Tentara Merah Rusia dan Musim dingin Rusia yang mematikan.

Titik Balik Perang Dunia II di Rusia terlihat pada kekalahan memalukan Jerman di Stalingrad pada tanggal  2 Februari 1943 dengan menyerahnya Marsekal Paulus beserta 26 Perwiranya dan 90.000 Pasukannya. Sejak saat itu, Uni Soviet mengambil inisiatif penuh bahkan semenjak Serangan Jerman ke Moskow yang gagal pada bulan Desember 1942 yang juga dibarengi oleh kehadiran pasukan cadangan baru dari Siberia yang lebih segar dan lebih siap untuk menggempur Jerman.

Puncak dari peperangan di front Eropa Timur ini mencapai puncaknya pada bulan Agustus 1944 ketika Jerman melancarkan serangan  besar-besaran dengan operasi Musim Panasnya. Pasukan Uni Soviet yang berjumlah sekitar 1,27 Juta dengan tambahan sekitar 500.000 pasukan Polandia beserta  Tank yang berjumlah sekitar 12.000 unit, Meriam +/- 20.000 pucuk, Pesawat Terbang +/- 10.000 unit.

Invasi ini berhasil menghancurkan dan mengacak-acak seluruh peta kekuatan pasukan Jerman di Eropa Timur bahkan berhasil merebut Warsawa, Sofia, Bukarest, Budapest, Belgrade. Hingga terakhir pasukan Jerman berhasil mencapai sungai Elbe, bertemu dengan pasukan Amerika, serta mengepung Berlin dari sebelah timur. Pasukan Soviet yang merebut Berlin dibawah pimpinan Marsekal Ivan Konev dan Marsekal Georgi Zhukov mulai memasuki Berlin meskipun mendapat perlawanan keras dan akhirnya pada tanggal 7 Mei 1945, Seorang prajurit dari Tentara Merah naik ke bagian atas Reichstag(Gedung Parlemen Jerman) dan mengibarkan bendera Merah sebagai lambang kemenangan.

Pasca Perang Dunia II, tensi ketegangan baru mulai meningkat dalam Sekutu. Amerika yang menginginkan pembagian Berlin secara terpisah antar Sekutu ditolak oleh Uni Soviet yang menginginkan Berlin menjadi milik Uni Soviet seutuhnya. Tensi konflik ini bahkan berpuncak pada usaha blockade Soviet terhadap Berlin yang nantinya dijawab oleh Amerika dengan program Berlin Airlift pada bulan Juni 1946 yaitu program pembagian bantuan pangan melalui udara.

Kemudian pada tahun 1950, ketika pecah perang Korea antara Korea Utara dan Selatan. Stalin yang saat itu berhasil dibujuk oleh Kim Il Sung mengenai keberhasilan Pasukan Komunis Korea bisa menyatukan seluruh semenanjung Korea, tertarik untuk mengirimkan bantuan dalam jumlah besar peralatan perang beserta instruktur khusus bahkan mengirim pilot-pilot jempolannya untuk membantu AU Korea Utara. Perang tersebut berakhir pada 26 Juni 1953 dengan adanya perjanjian damai antar kedua negara.

Pada tanggal 5 Maret 1953, Josif Stalin meninggal karena pendarahan otak. Kematiannya ini sontak mengguncangkan seluruh rakyat Komunis dunia. Berdasarkan buku Monteffiore yang berjudul Stalin : Kisah Yang Tak Terungkap, kematian Stalin merupakan ulah dari salah satu kroninya sendiri, Lavrenty  Pavlovich Beria, seorang Kepala NKVD pilihan Stalin sendiri. Kematian Stalin ini menyisakan sebuah pertarungan suksesi besar antar para Kroninya yaitu : Vyacheslav Molotov, Nikita Khruschev, Nikolai Bulganin, Georgi Malenkov, Lavrenty Beria.

Pada bulan Februari 1956, Nikita Khrushchev dalam Kongres partai Komunis seluruh Uni Soviet yang ke-20 ia meneguhkan kekuasaanya dan mulai sebuah proses untuk menghilangkan segala pengaruh yang dtinggalkan Stalin pada masa kekuasaannya yang kelak dikenal sebagai program Destalinisasi bahkan banyak kroni-kroni Stalin yang akhirnya disingkirkan seperti Georgi Malenkov dan Lazar Kaganovich yang dibuang menjadi seorang pengawas dari sebuah pabrik di Ural. Kemudian, Molotov orang terdekat Stalin yang akhirnya dibuang menjadi seorang duta besar Uni Soviet untuk Mongolia. Sedangkan Lavrenty Beria beserta kroni-kroni KGBnya dihukum mati. Dieksekusinya Beria, menjadi pertanda dimulainya freedom speech secara terbatas di Uni Soviet yang memperbolehkan masyarakat Soviet mengkritik secara keras proses pembunuhan massal yang terjadi pada masa Stalin.

 Kemudian ia membuat kebijakan rehabilitasi korban kekejaman Stalin sebagai bentuk nyata dari proses Destalinisasi berikut beberapa tokoh yang direhabilitasi adalah : Nikolai Bukharin(Politisi dan Seniman Bolshevik), Mikhail Tukhachevsky(Jenderal Brilyan Soviet periode awal 1930an), Maxim Gorky(Novelis legendaris Uni Soviet periode 1920-1930an). Disamping itu ia juga membubarkan GULAG dan memulangkan tawanan-tawanan bekas PD II khususnya dari Jerman dan Jepang pada pada tahun 1961.
Kebijakan domestik Khrushchev adalah  Desentralisasi Ekonomi yaitu manajemen perekonomian yang tadinya dipegang oleh Pemerintah Pusat mulai diamanatkan kepada pemerintah-pemerintah daerah untuk mencegah terjadinya inefisiensi yang terjadi sebagai akibat dari berbagai sistem birokrasi pusat yang rumit dan berbelit. Kemudian ia mengurangi pajak pertanian kolektif dan pada tahun 1958, Machine Tractor Stations yang bertugas untuk mengawasi proses mekanisasi pertanian di seluruh Uni Soviet. Pada masa Khrushchev, industri barang konsumen mulai berkembang.

Pada zaman Khrushchev juga terjadi sebuah kemajuan dan keajaiban ilmu pengetahuan dan teknologi. Pada tahun 1953, Uni Soviet berhasil melakukan ujicoba bom Hidrogen pertamanya, tahun 1957, mengumumkan telah berhasil mengembangkan sistem rudal antarbenua. Dan puncaknya pada tahun 1961, Uni Soviet berhasil meluncurkan pesawat antariksa Vostok I dengan Kosmonotnya bernama Yuri Gagarin. Peristiwa ini menjadi sangat bersejarah karena untuk pertama kalinya dalam sejarah manusia berhasil diterbangkan hingga mencapai luar angkasa. Sukses ini telah mengguncangkan dunia dan memacu saingannya, Amerika Serikat untuk melakukan proyek yang sama hingga ia akhirnya berhasil menerbangkan Neil Amstrong dan Edwin Aldrin menuju bulan pada tahun 1968.

Kebijakan Luar Negeri Uni Soviet pada masa Khrushchev, cukup fleksibel. Ia cukup sukses dalam mengembangkan hubungannya dengan Amerika Serikat, membangun Pakta Warsawa yang mengikatkan seluruh eropa timur di bawah patronasenya, membangun hubungan dengan Yugoslavia yang saat itu merupakan kekuatan komunis paling berpengaruh di Balkan serta di Eropa setelah Uni Soviet, kemudian membangun hubungan dengan negara-negara dunia ketiga seperti Indonesia, dan negara-negara yang berpengaruh di timur tengah seperti Mesir dan Syria. Kelak hubungannya yang membaik dengan blok barat memancing reaksi

Khrushchev juga mendukung penuh revolusi Kuba yang terjadi pada tahun 1957-1959 yang dipimpin oleh Fidel Castro , Raul Castro(adik Fidel) dan Ernesto”Che “Guevara. Hubungan yang terjalin antara Uni Soviet dan Kuba ini sangat baik bahkan Uni Soviet sempat ingin menjadikan Kuba sebagai basis peluncuran rudal balistik yang jarak jangkaunya bisa mencapai Washington sebagai reaksi atas pembangunan basis peluncuran rudal balistik Amerika yang ada di Turki.

Kemudian pada Krisis Terusan Suez pada tahun 1956 saat Mesir dikeroyok oleh pasukan gabungan Inggris-Perancis-Israel, Uni Soviet juga melancarkan ancaman bahwa akan segera meluncurkan rudal balistiknya ke arah London dan Paris bila tidak segera menghentikan serangan. Krisis ini baru berhenti setelah Presiden AS(1953-1960), Dwight David Eisenhower turun tangan dan kasus ini dibawa ke PBB.

Ditahun yang sama, di eropa timur. Khrushchev melakukan kebijakan represifnya yang tidak jauh berbeda dengan Stalin.  Pada tanggal 23 November 1956 pecah Revolusi di Hungaria yang dipimpin oleh Imre Nagy dan Pal Meleter. Revolusi ini bertujuan untuk mengakhiri pengaruh Uni Soviet di Hungaria yang disimbolisasikan dengan peruntuhan Patung Stalin di kota Budapest. Pemberontakan ini dihancurkan oleh Pasukan Uni Soviet pimpinan Jenderal Ivan Konev. Kemudian, Meleter dan Nagy akhirnya dihukum mati. Tindakan Uni Soviet menginvasi Hungaria mendapat kecaman baik dari dalam maupun dari luar negeri.

Krisis Internasional yang serupa terjadi pada bulan OKtober 1962 di Kuba. Ketika dengan alasan keamanan, pemerintah Kuba mengundang Uni Soviet. Amerika Serikat yang marah dengan ulah Uni Soviet ini menggunakan  blockade laut sebagai senajata diplomasi ampuh untuk menekan Uni Soviet dan mencegah usaha pengiriman lebih lanjut dari Moskow. Khrushchev dengan muka merah menyuruh Anastasio Mikoyan (Ketua Deputi Pertama dari Dewan Kementerian Uni Soviet) untuk mempengaruhi Fidel Castro agar mau mengizinkan Soviet menarik kembali seluruh peralatan basis peluncuran misil balistik. Meskipun Castro menolak, penarikan ini tetap berjalan.

Khrushchev sendiri akhirnya jatuh dari kekuasaannya pada tahun 1964 melalui sebuah konspirasi politik yang melibatkan Brezhnev, Suslov, dan Kosygin. Kejatuhan Khrushchev ini merupakan puncak dari ketidakpuasan para pejabat politik Uni Soviet atas tingkah lakunya yang berlebihan bahkan acapkali dianggap “Norak” seperti insiden pemukulan Sepatu pada sidang PBB tanggal 12 Oktober 1960 ketika ia dikecam oleh Lorenzo Sumulong, ketua delegasi Filipina terkait masalah kebijakan represif Khrushchev terhadap eropa timur.

Leonid Illyich Brezhnev naik menggantikan Khuruschev pada tanggal 15 Oktober 1964 menggantikan Khrushchev. Dia sempat merancang sebuah kepemimpinan kolektif bersama dengan para kolleganya Alexei Kosygin dan Podgorny meskipun pada akhirnya Brezhnev menjadi figur yang paling dominan. Ketika Brezhnev berkuasa, semua proses liberalisasi kebudayaan yang digulirkan pada zaman Khrushchev dihentikan dan kembali menggunakan sistem represif. KGB yang dahulu sempat melemah pada zaman Khrushchev kini kembali menguat dibawah arahan Yuri Andropov.

Politik Represinya hampir mirip dengan Stalin meskipun tidak paranoid seperti Stalin. Pada masa Brezhnev terdapat sekitar 10.000 tahanan religius dan politik. Gaya politiknya ini tidak hanya berlaku di dalam negeri namun juga di luar negeri ketika pada tanggal 5 Januari 1968, Cekoslovakia melakukan sebuah reformasi politik dan ekonomi yang dikenal sebagai The Prague Spring. Brezhnev mengidentifikasikan ini sebagai ancaman bagi hegemoni Soviet di eropa timur memerintahkan invasi gabungan koalisi Pakta Warsawa(Uni Soviet-Jerman Timur-Bulgaria-Hungaria-Polandia) untuk menginvasi Cekoslovakia pada tanggal 20 Agustus 1968. Invasi ini mengundang banyak kecaman termasuk dari lingkungan Komunis sendiri ketika Nicolae Ceausescu (Presiden Rumania) berpidato mengecam aksi invasi ini didepan warga Bukarest.

Dalam hal perekonomian, Brezhnev telah melakukan tiga kali reformasi yaitu pada tahun 1965, 1973, dan 1979. Dan Brezhnev pun cukup sukses dalam bidang pembangunan industri berat, terutama Industri pertahanan. Bahkan pada zaman Brezhnev, Tentara Merah menjadi yang terkuat di dunia menyingkirkan Amerika Serikat yang saat itu mengalami kekalahan yang menyakitkan pasca Perang Vietnam(1963-1975) dan AL Soviet pun juga menjadi AL terkuat di dunia.

Namun menguatnya pertahanan Soviet yang didukung dengan alusista(Alat Utama Sistem Pertahanan) yang canggih tidak diimbangi dengan kemajuan perekonomian yang baik. Bahkan memasuki tahun 1970an perekonomian Soviet seolah jalan di tempat sehingga banyak sejarahwan dan pengamat ekonomi mengatakan periode Brezhnev sebagai “an era of Stagnation”karena tidak adanya kemajuan ekonomi yang signifikan sehingga berujung pada menurunnya kualitas dan taraf hidup masyarakatnya.

Mengenai Kebijakan Luar Negerinya, Brezhnev cukup agresif dalam mengenai intervensinya terhadap permasalahan negara dunia ketiga. Soviet terlibat perang perbatasan dengan China di daerah Manchuria dan Mongolia, Terlibat dalam konflik Arab-Israel(1967 dan 1973), Mendukung Ethiopia dalam konflik Afrika Timur(1978), dan puncaknya adalah Intervensi yang berujung Invasi dalam konflik di Afghanistan(1979-1989)

Afghanistan mengalami krisis pemerintahan pasca pembantaian presiden Hafizullah Amin dan keluarganya oleh pasukan komando Soviet, Spetsnaz. Kemudian Uni Soviet, memutuskan untuk mendudukan Babrak Karmal sebagai boneka Soviet di Afghanistan. Namun, tindakan Soviet ini ditentang keras oleh para ulama dan kepala suku yang ada di Afghanistan sehingga muncul perlawanan terhadap pemerintahan Sosialis Afghanistan yang berujung pada invasi besar-besaran Uni Soviet pada tahun 1983.

Namun seperti apa yang dialami oleh Amerika Serikat di Vietnam kurang lebih 20 tahun yang lalu, Pasukan Uni Soviet terjebak dalam konflik yang tidak berujung dan menguras semua yang dimiliki Uni Soviet. Bahkan perang tersebut juga mengakibatkan perekonommian Uni Soviet mengalami inflasi yang hebat karena banyaknya anggaran dana yang keluar untuk invasi ini. Selain itu korban prajurit tentara merah sendiri semakin banyak bahkan banyak alusista Tentara Merah yang canggih pada masanya itu dilalap oleh para gerilyawan Mujahidin Afghanistan tak terkecuali Sukhoi Su-27 yang merupakan prototype terbaru pada masanya. 

Namun di Afghanistan, Uni Soviet kehilangan sekitar 200 pesawat jenis ini dan rata-rata dihantam oleh rudal panggul Stinger buatan Amerika. Ditambah lagi konflik Afghanistan ini berujung pada aksi pemboikotan terhadap Olimpiade 1980 di Moskow oleh negara-negara blok barat. Krisis ekonomi serta perang Afghanistan yang tak kunjung selesai tetap menjadi masalah tersendiri bagi Brezhnev hingga kematiannya pada tanggal 10 November 1982 diusia yang ke-75 tahun. Selanjutnya pemerintahan ini dilanjutkan oleh Yuri Andropov pada tanggal 12 November 1982.

Pada masa pemerintahannya yang singkat ini (15 bulan) Andropov berusaha keras untuk memerangi korupsi yang menggerogoti birokrasi pemerintahannya. Ia juga mencanangkan program Vodka yang sangat murah sehingga masyarakat menamakan Vodka yang murah ini sebagai Andropovka. Pemerintahan Andropov ini hanya efektif hingga Februari 1983 ketika ia mengalami sakit yang cukup parah.  Andropov tetap bertahan hingga kematiannya pada tanggal 9 Feburati 1984. Andropov akhirnya digantikan oleh Konstantin Chernenko. Namun Chernenko sendiri yang bermasalah dengan kesehatannya tidak mampu menjalankan pemerintahannya hingga kematiannya tahun 1985. Salah satu yang paling menonjol pada masa pemerintahan Chernenko adalah Boikot terhadap Olimpiade 1984 di Los Angeles, Amerika Serikat dan sebagai gantinya ia membuat sebuah Sport games tersendiri bernama Druzhba 84 atau yang dikenal sebagai Friendship Games 1984.

Gorbachov naik  menggantikan Chernenko pada bulan Maret 1985. Mikhail Gorbachov yang merupakan lulusan hokum Universitas Negeri Moskow ini mencanangkan sebuah program besar yang bernama Glasnost dan Perestroika. Glasnost yang berarti pembukaan merupakan sebuah program yang memberikan kembali kebebasan berbicara dan menyampaikan aspirasi serta memiliki hak untuk berkumpul dan berserikat sehingga Partai Komunis Uni Soviet tidaklah menjadi satu-satunya saluran aspirasi masyarakat. Sedangkan Perestroika merupakan sebuah program untuk membangun kembali struktur ekonomi Uni Soviet yang mengalami keruntuhan akibat stagnasi dan krisis yang terus menerus.

Kebijakan Glasnost ini sukses karena masyarakat memiliki ruang keterbukaan yang sangat luas dalam mengekspresikan ide dan pemikiran mereka serta mereka bisa menyampaikan aspirasi mereka mulai dari kritik hingga saran namun dampak yang cukup mengkhawatirkan dari program Glasnost ini adalah berkembangnya etnonasionalisme di negara-negara bagian USSR terutama di daerah Baltik dan Asia Tengah.
Kasus ini semakin memanas ketika di Kazakhstan terjadi sebuah proses Rusifikasi yang gagal. Pada tahun 1986, Gorbachov menunjuk Gennady Kolbin sebagai Sekretaris Pertama Partai Komunis Kazakhstan  dan Menyingkirkan Dinmukhamed Kunayev yang berujung pada kerusuhan besar-besaran pada bulan Desember 1986. Kemudian pada tahun 1988 bulan Februari, pecah konflik antara Azerbaizan dengan Armenia terkait masalah wilayah Nagarno-Karabakh.

Kontras dengan program Glasnost, Perestroika justru mengalami kegagalan yang cukup menyakitkan serta dinilai gagal dalam menyelamatkan ekonomi Uni Soviet. Akhirnya pada tahun 1990 ia melakukan sebuah proses yang secara bertahap menghancurkan ideologi Komunis terutama cengkeramannya di bidang ekonomi dengan meluncurkan Kupon Privatisasi  yang menjadi sebuah awal bagi dimulainya proses Privatisasi ekonomi di Rusia.

Langkah Privatisasi ini berbuah petaka. Pada tanggal 19-21 Agustus 1991 guna mencegah kehancuran lebih lanjut Uni Soviet dari berbagai bidang, Sekelompok Konservatif Komunis berusaha mengembalikan Uni Soviet seperti pada masa lampau dengan mengadakan Kudeta ketika Gorbachov sedang beristirahat di Krimea. Kudeta ini dijalankan oleh Kepala KGB, Vladimir Kryuchkov beserta konspirator lain : Boris Pugo(Menteri Dalam Negeri), Gennady Yanaev(Wakil Presiden), Valentin Pavlov(Ketua Partai Komunis), Oleg Baklanov(Ketua Deputi Dewan Pertahanan Soviet),Valery Boldin(Sekretaris Gorbachev), Oleg Shenin(Sekretaris Komite Sentral PKUS). Para pelaku Kudeta ini menggerakkan pasukannya menduduki Moskow serta mengumumkan bahwa Gorbachev sedang sakit dan tidak bisa memerintah lagi dan mengangkat Gennady Yanaev sebagai Presiden. Usaha ini gagal total karena ditentang keras oleh seluruh rakyat Moskow beserta pejabat Rusia SFSR  yang dipimpin oleh Boris Yeltsin. Bahkan Yeltsin berani berpidato di atas Tank sebagai bentuk penentangan terhadap kudeta.

Pasca kudeta, mulai dari 20 Agustus hingga 22 September Estonia, Latvia, Lithuania, Kazakhstan, Tajikistan, Kirgiztan, Turkmenistan, Georgia, Azerbaizan dan Armenia memerdekakan diri. Sedangkan Presiden-presiden dari Rusia, Ukraina dan Belarus bertemu di kota Brest, Belarus untuk membicarakan kemungkinan sebuah persatuan negara-negara baru yang lebih longgar bernama CIS(Commonwealth Independent States) pada tanggal 8 Desember 1991. Pada tanggal 21 Desember 1991, 11 dari 14 Negara menandatangani piagam CIS di Alma-ata, Kazakhstan. Sedangkan 4 negara (Estonia, Latvia, Lithuania, dan Georgia) yang diakui kemerdekaannya oleh pemerintah Soviet menolak bergabung dengan CIS.
Gorbachev akhirnya mundur dari jabatannya sebagai Presiden Uni Soviet pada tanggal 25 Desember 1991. Sedangkan Uni Soviet akhirnya kolaps pada tanggal 26 Desember 1991.




Post a Comment