adsense

September 22, 2017

::: Kisah Tim Humble Mencari Kebenaran Agama : "Agama Barat dan Timur Mistik Kupelajari Hingga Bertemu Islam !":::

Assalamu’alaikum. Namaku Tim Humble dan aku masuk Islam di usia 14 tahun. Usia yang masih sangat muda untuk bisa memilih agama dengan benar. Tapi Alhamdulillah, Allah telah menuntunku di jalan kebenaran ini.
Masa remaja sebelum mengenal Islam, aku adalah sosok yang sangat pemberontak. Orang tua, sekolah, pihak yang berwenang atau kepolisian, semua aku tentang. Nilai akademisku bagus tapi selalu saja aku membuat masalah bagi orang-orang di sekelilingku.
Aku tidak mau patuh pada siapa pun. Bahkan tidak jarang, aku berbuat sesuatu sekadar ingin membuat marah pihak lain. Merokok misalnya. Kemudian pertarungan antar pelajar, saling menjerumuskan teman, berkhianat satu sama lain, dan sebagainya.
Sikap memberontak ini pula yang membuatku menolak konsep agama orang tua. Aku tidak percaya dengan apa yang mereka yakini. Aku merasa bahwa aku lebih tahu daripada orang lain yang bahkan tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan. Berbekal rasa sok tahu ini pula, aku memilih membaca untuk meningkatkan wawasanku.
Di usia sekitar 11 tahun, aku sudah gila membaca. Orang tuaku bilang, memang sedari kecil aku tidak suka nonton TV. Daripada duduk manis di depan TV, aku lebih suka dibacakan puisi, cerita, dinyanyikan lagu anak-anak dan semacamnya. Dari hobi membaca inilah nantinya, Allah menuntunku untuk mengenal Islam.
    …Daripada duduk manis di depan TV, aku lebih suka dibacakan puisi, cerita, dinyanyikan lagu anak-anak dan semacamnya. Dari hobi membaca inilah nantinya, Allah menuntunku untuk mengenal Islam…
Dalam rentang waktu 2 tahun yaitu mulai usia 11 hingga 13 tahun, aku membaca ‘gila-gilaan’. Semua koleksi buku ayahku sudah habis kubaca bahkan buku tentang filosofi. Aku ingat membaca buku-buku tersebut yang mayoritas isinya tentang agama.
Dan aku tidak percaya terhadap konsep tuhan yang ada di buku-buku koleksi ayahku tersebut. Aku tetap percaya adanya Tuhan, tapi aku tidak tahu Tuhan seperti apa yang layak untuk kupercaya.
Aku ingat, aku selalu membutuhkan kekuatan doa saat benar-benar menginginkan sesuatu. Saat itu di usia 11 atau 12 tahun, aku memanjatkan doa meskipun aku tidak tahu kepada siapa aku berdoa.
Keyakinan Kristen Protestan tidak membuatku bahagia dan puas. Agama ini penuh hal-hal yang tidak masuk akal terutama konsep triniti atau tiga dalam satu. Dengan terus terang kukatakan hal ini kepada setiap orang Kristen yang kutemui.
Kemudian aku berpaling pada Katolik. Saat itu kupikir agama ini lebih masuk akal sedikit daripada Kristen Protestan. Tapi konsep pengakuan  dosa di dalam Katolik terasa aneh untukku: kita masuk ke dalam ruang sempit dan mengaku dosa pada manusia. Ya sudahlah, agama ini tak bisa kupilih.
    …Di satu titik aku menyimpulkan bahwa semua konsep agama-agama tersebut salah. Aku pun kembali melanjutkan pencarian dengan apa yang kuyakini sebelumnya: Tuhan itu ada tapi Tuhan yang bagaimana yang layak aku sembah?..
Aku pun mulai melirik agama-agama timur yang penuh mistik, salah satunya Budha. Lagi, aku tidak menemukan substansi hidup yang sebenarnya. Aku hanya mencari satu hal: tujuan hidup kita di dunia.
Mengapa sesuatu hal terjadi padaku? Mengapa aku merasa mudah depresi? Mengapa aku merasa tidak bahagia? Mengapa aku? Kucari jawaban di agama timur ini. Ketemu konsep ide reinkarnasi, menurutku ide ini malah makin konyol saja.
Di satu titik aku menyimpulkan bahwa semua konsep agama-agama tersebut salah. Aku pun kembali melanjutkan pencarian dengan apa yang kuyakini sebelumnya: Tuhan itu ada tapi Tuhan yang bagaimana yang layak aku sembah?
Menginjak SMP, situasi mulai sedikit membaik. Aku bertemu dengan teman-teman yang baik dan mulai meninggalkan bacaan filosofi di hal-hal tertentu. Aku ikut kelas Pendidikan Agama yang merupakan kurikulum nasional.
Pengajar di mata pelajaran ini adalah seorang perempuan penganut neo Budha. Ibu guru ini sangat membenci Islam. Dia menganggap Islam itu bagus di teori tapi pemeluknya sendiri tak ada yang menjalankan teori tersebut.
Pendapat seperti ini tak bisa diikuti begitu saja, pikirku saat itu. Tentu saja antara ajaran dengan pemeluknya tidak bisa disamakan begitu saja. Kita tak bisa menilai Islam dari perilaku pemeluknya, tapi seharusnya dari ajaran konsep Islam itu sendiri.
Selain membenci Islam, Bu Guru ini juga tidak percaya dengan agama Semit lainnya yaitu Kristen. Konsep Kristianity menurutnya tidak masuk akal. Ketidakpercayaan Bu Guru ini membantuku dalam menemukan Islam.
Di mata pelajaran ini diajarkan juga konsep Tuhan dalam Islam yang hanya ada satu Tuhan. Wow…konsep yang sangat masuk akal. Berawal dari sinilah, perkenalanku dengan Islam dimulai. (riafariana/voa-islam.com)
Cercaan Misionaris terhadap Al Quran Membawaku pada Islam
Guru mata pelajaran Pendidikan Agama secara tidak langsung mengenalkanku pada Islam. Meskipun ia mengajar dengan penuh nada kebencian terhadap Islam, tapi ajaran Islam yang benar-benar sesuai dengan akal dan fitrah manusia telah sampai kepadaku. Ibu guru ini menjelaskan tentang cara berdoa di dalam Islam, rukun Islam yang lima, dan sanksi-sanksi atau hudud.
[Dalam Injil Yesus Ajarkan Sholat]
Di dalam benak terlintas pikiran: oh…jadi  ini agama yang orang-orangnya harus berdoa dengan cara tertentu lima kali sehari. Tak terbayangkan, rasanya. Pasti sulit. Setiap saat hidupnya diisi dengan berdoa, selalu berhubungan dengan Tuhannya, dan berbicara langsung tanpa perantara. Ini agama yang sekilas sulit tapi jauh masuk akal daripada yang lain.
Ketika masuk bahasan tentang zakat, aku langsung tahu bahwa konsep ini jauh lebih baik daripada pajak. Semua orang benci bayar pajak. Tapi zakat? Semua orang suka dengannya. Selain dalam rangka ibadah, nilai zakat yang harus dibayarkan juga relatif lebih kecil. Kita mengumpulkan uang selama satu tahun kemudian dikeluarkan zakatnya hanya senilai 2,5%. Andai saja 20 orang terkaya dunia mau mengeluarkan zakatnya, tentu hal ini bisa mengatasi kemiskinan dunia. Subhanallah, ini konsep yang luar biasa.
Bandingkan konsep zakat ini dengan konsep amal di negeri barat. Beda jauh. Negara diperbudak oleh dunia perbankan dan institusi ekonomi.
Guruku ini menjabarkan fakta-fakta ajaran Islam diselingin dengan suara sinis terhadap pemeluknya. Penjelasan demi penjelasan meskipun singkat tentang Islam, seolah mengajakku untuk berpikir. Semakin lama mendengar ajaran Islam, ada yang  berubah di dalam hati ini. Ada dorongan yang kuat dalam diriku untuk mencari tahu tentang agama ini lebih jauh.
    …Guruku ini menjabarkan fakta-fakta ajaran Islam diselingin dengan suara sinis terhadap pemeluknya. Penjelasan demi penjelasan meskipun singkat tentang Islam, seolah mengajakku untuk berpikir…
Sesampai di rumah, aku segera mencari tahu tentang Islam via internet. Dan seperti sudah diduga, banyak tulisan dan opini sampah tentang Islam. Sebagian dari tulisan tersebut ada yang benar tapi banyak juga yang salah. Lalu aku teringat kitab sucinya: Al Quran. Setahuku, kitab suci ini berbahasa Arab.
Hal ini menjawab keingintahuanku tentang komunikasi Tuhan pada manusia. Bila Tuhan mengirimkan buku panduan pada umat manusia, kira-kira buku ini seperti apa ya bentuknya? Dan Al Quran adalah jawaban.
Taruhlah, ini memang buku atau kitab yang benar-benar berasal dari Tuhan. Itu artinya Tuhan menyampaikan firmanNya langsung dari diriNya sendiri. Mari kita buktikan bahwa Al Quran itu dari Tuhan langsung.
Pertama, kitab ini pastilah sangat luar biasa dan suci. Tidak mungkin kitab ini isinya biasa-biasa saja. Isinya pastilah memuat apa yang dibutuhkan oleh semua orang baik di masa lalu, sekarang maupun masa depan. Kitab ini pasti sangat sesuai untuk siapa pun termasuk untuk kehidupanku.
Berikutnya adalah kesempurnaan kitab ini. Tak boleh ada kesalahan sedikit pun di dalamnya. Di dalam surat Al Baqarah tertulis: Kitab ini, tidak ada keraguan di dalamnya. Wow…kitab apa yang memulai halamannya dengan menyatakan sedemikian rupa? Itu artinya kitab ini benar sempurna. Jika ada orang yang berusaha mencari kesalahan di dalamnya, maka tak mungkin ia mendapatkannya. Jika kitab ini benar-benar berasal dari Tuhan, maka isinya pastilah sempurna dalam semua hal.
Pertimbangan berikutnya. Kitab ini sudah berusia sekian puluh abad. Itu artinya pastilah ada orang-orang yang berusaha mengkritisinya. Aku pun mencari tahu, apa kesalahan yang terkandung di dalam Al Quran. Ketika kuketik di mesin pencari internet, yang muncul adalah web misionaris. Mereka menuduh, meragukan dan menyesatkan isi Al Quran. Aku pun mencatatnya.
Sekarang ganti mencari apa jawaban umat Islam terhadap tuduhan tersebut. Ternyata mereka memunyai jawaban yang sungguh jernih, sederhana, dan masuk akal terhadap semua tuduhan para misionaris itu. Semua jawaban itu sungguh bisa dipercaya. Aku jadi tahu sosok pribadi Sang Nabi dan kesaksian tentang kejujurannya. Semua terasa sangat jelas, tak ada yang disembunyikan dalam agama ini.
    …Aku pun mulai berpikir. Dengan keseluruhan pencarian ini, siapakah Sang Nabi terakhir ini? Apakah karena ia seorang Arab, dan bukan dari suku bangsa mereka sendiri sehingga kemudian pantas didustakan?…
Aku pun mulai berpikir. Dengan keseluruhan pencarian ini, siapakah Sang Nabi terakhir ini? Apakah karena ia seorang Arab, dan bukan dari suku bangsa mereka sendiri sehingga kemudian pantas didustakan? Apa yang dibawa oleh Sang Nabi terakhir ini? Dia membawa risalah untuk umatnya, tidak ada sedikit pun dia mengambil untung darinya. Itu berarti kemungkinannya tinggal dua: Sang Nabi ini adalah orang gila atau dia mengatakan kebenaran.
[Menjadi Ulama Internasional Yang Disegani]
Semua orang yang yang pernah bertemu dengannya menjadi saksi akan kejujurannya. Itu artinya jika dia tidak gila, selalu berkata jujur, dan tidak mengambil keuntungan untuk dirinya sendiri, berarti ajarannya…
Sempurna. Dari sinilah kemudian aku memutuskan untuk masuk Islam.
Setelah masuk Islam, aku tidak langsung bisa mempraktekkan ajaran Islam terutama ibadah sehari-hari. Itu karena tidak ada orang yang mengajariku. Sekitar 4-5 tahun aku dalam kondisi sepert ini, mengaku Muslim tapi tidak menjalankan syariat.
Aku sering mengkritisi kondisi ini. Betapa mudah kita mengislamkan orang. Yang sulit adalah menjaga mereka tetap bertahan di dalam Islam. Penting sekali kita mulai berpikir tentang pembinaan mualaf. Bagaimana kita memperlakukan mereka, mengetahui masalah-masalahnya dan memberi solusi atas semua masalah yang mereka hadapi. Karena hal seperti inilah yang aku hadapi saat awal masuk Islam.
Di tengah kegalauan menjadi Muslim tapi tidak menjalankan syariat, aku memutuskan untuk berangkat ke Madinah dan belajar Islam di sana. Aku pun melamar ke Universitas Madinah. Penolakan demi penolakan kuterima. Alhamdulillah berkat pertolongan Allah, akhirnya aku bisa diterima juga di universitas tersebut. (riafariana/voa-islam.com)
Sumber: 

No comments: