adsense

bidvertiser

August 18, 2009

Penyakit suka bicara

Ada baiknya kita renungkan bersama cerita di bawah ini dimana pada saat ini sudah terlalu banyak orang yang katanya berilmu tapi sangat suka bicara.
Berkata sebagian salaf,


"Jika Allah Subhanahu wa Ta'ala menginginkan kebaikan bagi seseorang, maka dibukakan baginya amalan dan ditutup baginya pintu perdebatan. Dan jika Allah Subhanahu wa Ta'ala menginginkan keburukan bagi seseorang, maka ditutup baginya amalan dan dibukakan baginya pintu perdebatan."

Sering pula Imam Malik ra mencela seseorang yang memperbanyak omongan dan mudah berfatwa. Beliau ra pernah berkata, "Seseorang diantara mereka berbicara bagaikan unta. Ia gampang menyatakan, 'hal ini begini dan hal itu begitu.'"

Beliau ra juga berkata, "Berbantah-bantahan dalam masalah ilmu dapat mengeraskan hati dan membuahkan kebencian." Bila ditanyakan kepada beliau tentang suatu masalah, beliau sering menjawab, "Aku tidak tahu." Demikian juga Imam Ahmad ra, beliau melakukan seperti apa yang dilakukan oleh Imam Malik ra.

Dan telah diriwayatkan adanya larangan memperbanyak pertanyaan dan mereka-reka persoalan serta menanyakan sesuatu yang belum terjadi, yang bila hal tersebut ditelusuri, maka akan jadi berkepanjangan. Seiring dengan apa yang telah disebutkan diatas, sesungguhnya pada perkataan salaf dan para imam seperti Imam Malik, Imam Syafi'i, Imam Ahmad, Imam Ishaq dan lain-lain, terdapat penegasan terhadap sumber hukum dan dasar-dasar hukum dalam perkataan yang ringkas dan dapat dipahami maksudnya tanpa harus dijelaskan panjang lebar. Dan bahkan perkataan yang panjang lebar dari orang-orang yang mudah bicara dengan akalnya itu, tidak mengandung kebenaran seperti yang terdapat pada perkataan para salaf dan para imam, meskipun perkataan para salaf dan para imam itu ringkas.

Orang-orang salaf yang lebih suka berdiam diri dan tidak mengubris perselisihan dan perdebatan, bukan berarti mereka bodoh dan tidak mampu dalam hal itu, tetapi mereka sengaja berdiam diri karena kapasitas ilmu yang mereka miliki, serta rasa takut mereka kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dan orang-orang yang datang sesudahnya, mereka lebih suka mencari-cari persoalan, bukan karena mereka memiliki kelebihan ilmu dibandingkan orang lain, akan tetapi mereka melakukan hal itu karena rasa senang mereka terhadap bicara dan kurangnya rasa wara'. Seperti yang telah dikatakan oleh Al-Hasan ketika beliau mendengar orang-orang yang suka berselisih,

"Mereka adalah kaum yang sudah bosan beribadah dan menganggap remeh suatu perkataan, serta telah berkurangnya rasa wara' mereka sehingga mereka tidak segan-segan untuk berbicara."

[Disarikan dari Fadhl Al-Ilm As-Salaf 'ala Al-Khalaf, Al-Hafidz Ibn Rajab Al-Hanbaly]
Post a Comment