adsense

August 07, 2026

KISAH RASULULLAH ﷺ Bagian 148



اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمد0

Ibrahim Wafat

Setelah gembira karena meraih kemenangan dari Romawi dan orang-orang munafik, kembali kesedihan menimpa Rasulullah ﷺ. Khadijah melahirkan dua orang anak laki-laki bagi Rasulullah ﷺ, yaitu Qosim dan Thahir, namun keduanya meninggal dunia ketika masih bayi di pangkuan ibunya. Setelah Khadijah wafat, berturut-turut ketiga putri Rasulullah ﷺ meninggal dunia hingga yang masih hidup hanya Fatimah Az-Zahra. Karena itu dapat dipahami betapa besar rasa sayang Rasulullah ﷺ kepada Ibrahim, anaknya yang lahir dari rahim Mariah binti Syama'un.

Akan tetapi kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Ibrahim si bayi mungil jatuh sakit yang mengkhawatirkan. Tatkala ajal Ibrahim sudah dekat, barulah Rasulullah ﷺ diberitahu. Karena begitu sedihnya Rasulullah ﷺ sehingga beliau berjalan dengan bertumpu pada tangan Abdurrahman bin Auf.

Rasulullah ﷺ  mengambil bayi itu dari pangkuan ibunya ke dalam pelukannya. Hati beliau remuk redam, dan tangannya menggigil saat memeluk Ibrahim dengan rasa pilu yang mencekam sanubari. Rasulullah ﷺ berkata,

"Ibrahim... kami tidak dapat menolongmu dari kehendak Allah ﷻ."

Air mata Rasulullah ﷺ mengalir melihat bayinya sedang menarik napas terakhir. Mariah dan adiknya Shirin menangis menjerit-jerit. Namun Rasulullah ﷺ membiarkan mereka begitu. Setelah itu tubuh Ibrahim tidak bergerak lagi, nyawanya telah kembali kepada Allah ﷻ dalam usia 19 bulan. Rasulullah ﷺ bersabda,

"Oh Ibrahim... kalau bukan karena soal kenyataan dan janji yang tidak dapat dibantah lagi bahwa kami akan segera menyusul orang yang mendahului kami, tentu kesedihan kami akan lebih dalam lagi daripada ini."

Rasulullah ﷺ diam sejenak kemudian bersabda lagi,

"Air mata boleh bercucuran, hati dapat merasa duka tapi kami hanya dapat berkata apa yang telah menjadi kehendak Allah ﷻ dan bahwa kami sungguh sedih terhadapmu wahai Ibrahim."

Beliau memandang Mariah dan Shirin dengan penuh kasih. Beliau meminta keduanya lebih tenang, lalu berkata,

"Ia akan mendapatkan inang pengasuh dari surga."

Meskipun begitu air mata Rasulullah ﷺ mengalir deras di pipi, atas wafatnya putra satu-satunya, Ibrahim. Disekanya air mata itu berkali-kali sehingga wajahnya tampak tegar, tetapi matanya berkata bahwa Rasulullah ﷺ pun manusia biasa. Usai Ibrahim dimakamkan di Baqi' bersebelahan dengan makam Utsman Ibn Mazh’um, seorang cendikiawan Arab pada zaman jahiliyah dan pahlawan perang Badar. Rasulullah ﷺ dengan tangannya sendiri meratakan kuburan putranya itu, tanpa gundukan tanah.

“Rasulullah ﷺ memerintahkan kami meratakan kuburan,” kata Fadhalah.

Kemudian Rasulullah ﷺ memercikan air, menaburkan tanah dengan dua tangan, meletakkan pasir, dan memberi kuburan itu tanda dari batu. Rasulullah ﷺ bermaksud memberikan bimbingan pada para sahabat, beliau bersabda, ”Tanda memang tidak mendatangkan manfaat juga mudharat. Tapi, tanda dapat menyejukkan mata yang hidup. Lagi pula, bila seorang hamba mengerjakan sesuatu, Allah ﷻ senang bila hamba tersebut menyempurnakannya.”

Penguburan Ibrahim di Baqi' menarik perhatian khusus bagi para sahabat. Mereka mulai menebangi pohon-pohon liar, lalu merapikan Baqi' hingga terlihat rapi. Memberi jarak antar-pemakaman. Tiap kabilah mulai membuat lokasi makam sendiri-sendiri, sehingga dengan begitu tiap orang yang meninggal dapat dikenali kuburannya.

Rasulullah ﷺ melarang membangun masjid di atas kuburan, atau menguburkan orang di dalam masjid. Rasulullah ﷺ pun melarang meninggikan makam, mendirikan bangunan di atasnya. Rasulullah ﷺ tidak memperindah setiap kuburan, tapi beliau merawat Baqi', dan beberapa kali menziarahi Baqi', dan mendoakan para ahli kubur di samping kuburan mereka. Setelah itu Baqi' pun dijadikan tempat pemakaman umum kaum muslimin.

Setelah Rasulullah ﷺ wafat, Mariah hidup menyendiri dan menujukan hidupnya hanya untuk beribadah kepada Allah ﷻ. Mariah dibiayai oleh Abu Bakar kemudian Umar bin Khattab. Mariah wafat lima tahun setelah wafatnya Rasulullah ﷺ, yaitu pada tahun ke-46 Hijrah, pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab. Khalifah sendiri yang menyalati jenazah  Mariah al-Qibtiyah, kemudian dikebumikan di Baqi’.

Gerhana Matahari

Pada saat Ibrahim wafat terjadilah gerhana matahari (kusuufusy syamsi) ketika posisi bulan terletak di antara bumi dan matahari sehingga terlihat menutup sebagian atau seluruh cahaya matahari di langit bumi. Gerhana matahari total merupakan peristiwa yang luar biasa bagi masyarakat Arab pada saat itu. Cahaya matahari lama kelamaan menghilang, suasana pun menjadi gelap. Meskipun terjadi pada siang hari, bintang-bintang di langit bisa terlihat dengan jelas.

Kegemparan pun terjadi di kalangan masyarakat Madinah, belum ada seorang pun yang pernah melihat fenomena alam ini, ataupun pernah mendengar mengenai hal  itu dari nenek moyang mereka. Baik kaum muslimin maupun kaum musyrikin saling berbisik satu sama lain, "Malapetaka besar pasti sedang menimpa dunia hari ini, manusia yang paling dicintai Tuhan meninggal dunia hari ini. Kalau tidak mengapa Tuhan harus mendatangkan peristiwa luar biasa ini?"

Seorang lelaki bergabung ke tengah kerumunan dan berkata, "Tidak tahukah kalian bahwa putra Muhammad yang bernama Ibrahim wafat hari ini?" Kerumunan orang-orang itu hampir sepakat berseru, "Itu dia sebabnya!" Akhirnya mereka sampai pada kesimpulan bahwa gerhana luar biasa itu terjadi karena meninggalnya Ibrahim putra Rasulullah ﷺ.  Bahkan salah seorang dari mereka menyatakan, "Aku tahu sejak awal bahwa Muhammad bukan orang biasa. Seandainya beliau bukan Nabi, niscaya Allah ﷻ  tidak akan menyebabkan peristiwa aneh ini terjadi saat ia kehilangan putra kesayangannya." Sahabat-sahabatnya menyatakan bahwa mereka juga menyadari akan hal itu. Akhirnya desas-desus itu sampai kepada Rasulullah ﷺ.

Bangsa Arab saat itu masih memiliki banyak musuh. Di antara musuh-musuh yang masih kafir itu merasakan kegelisahan yang mendalam dengan adanya  gerhana yang mengancam dan mereka cenderung untuk mencari perlindungan kepada Rasulullah ﷺ.  Seandainya Rasulullah ﷺ mau memanfaatkan ketakutan mereka, niscaya beliau akan meraih kemenangan dan kekuasaan, bahkan mungkin musuh-musuh bebuyutan beliau sekalipun, akan tunduk dan memeluk Islam. Namun Rasulullah ﷺ tidak pernah berpikir untuk memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan itu. Sebaliknya beliau merasa sangat prihatin melihat  khurafat dan tahayul yang diyakini oleh umatnya.

Beliau pun menghampiri kerumunan orang di jalan maupun di pasar. Mereka segera memenuhi panggilan beliau. Terdengar beliau bersabda, "Matahari dan bulan adalah tanda-tanda kebesaran Allah ﷻ, dengan perintahNya keduanya terbit dan terbenam. Gerhana tidak terjadi untuk menandakan kelahiran atau kematian seseorang. Bila kalian melihat peristiwa seperti ini, berlindunglah dan berdzikirlah kepada Allah ﷻ dengan melakukan shalat."

Hajj Wada

Tugas dakwah Rasulullah ﷺ sudah mendekati penghujung selesai, penyampaian risalah pun telah dilaksanakan, penegakan sebuah syariat baru yang berasaskan konsep uluhiyah ketuhanan yang satu hanya kepada Allah ﷻ dan tidak ada Tuhan selain Allah ﷻ berdasarkan risalah Muhammad ﷺ telah menjadi kenyataan.

Rasulullah ﷺ seakan-akan telah mendengar panggilan dari dalam hatinya yang memberitahu bahwa persinggahan Rasulullah ﷺ di dunia sudah sampai pada waktu yang ditetapkan.

Hal ini terlihat ketika Rasulullah ﷺ mengutus Muaz bin Jabal ke Yaman sebagai gubernur pada tahun 10 Hijriyah. Rasulullah ﷺ bersabda kepada Muaz, "Wahai Muaz... sebenarnya engkau mungkin tidak akan bertemu aku lagi setelah tahun ini, dan semoga kau akan melalui masjidku dan kuburku."

Muaz menangis tersedu-sedu karena akan berpisah dengan Rasulullah ﷺ.

Dengan izin Allah ﷻ, Rasulullah ﷺ berkesempatan melihat hasil kerja dakwahnya setelah mengalami berbagai kepahitan dan kesusahan selama lebih dari 20 tahun. Di ujung bandar Mekah, Rasulullah ﷺ berkumpul bersama dengan para perwakilan kabilah Arab, menyampaikan pada mereka syariat-syariat dan hukum-hukum Islam. Rasulullah ﷺ minta persaksian mereka bahwa dia telah melaksanakan amanah dan tugas-tugasnya, menyampaikan risalah dan bertanggung jawab menasehati seluruh umat.

Pada hari itu Rasulullah ﷺ mendeklarasikan keinginan beliau untuk menunaikan ibadah haji yang terakhir (haji perpisahan). Maka berduyun-duyunlah umatnya mengunjungi Madinah, mereka semua ingin menyertai dan mengikuti Rasulullah ﷺ dalam ibadah hajinya.

Pada hari Sabtu tanggal 27 atau empat hari terakhir bulan Dzulkaidah, Rasulullah ﷺ mempersiapkan dirinya, memakai minyak rambut lalu menyisirnya, mengenakan pakaian berikut syalnya, dan menyandang senjata serta siap dengan unta tunggangannya bernama Quswa'.

Setelah shalat dzuhur, Rasulullah ﷺ memulai safarnya, ketika tiba di Zul Hulaifah menjelang masuk waktu shalat ashar, Rasulullah ﷺ berhenti untuk menunaikan shalat dan bermalam di sana.

Keesokan harinya setelah shalat subuh, Rasulullah ﷺ memberitahukan kepada para sahabat yang hadir, "Tadi malam aku telah mendapat pemberitahuan dari Allah ﷻ: "Shalat lah kamu di lembah yang penuh berkah ini dan niatkanlah wahai Muhammad umrah dikerjakan bersama-sama haji."

Sebelum Rasulullah ﷺ menunaikan shalat dzuhur pada hari itu, terlebih dahulu beliau bersuci dan mengenakan pakaian ihram, kemudian Aisyah menyapukan minyak wangi pada badan dan kepala Rasulullah ﷺ hingga nampak berkilauan lalu minyak kasturi di rambut dan janggut beliau.

Setelah selesai shalat dzuhur, Rasulullah ﷺ bertahlil di tempat shalatnya untuk memulai ibadah haji dan umrah sebagai haji qiran. Setelah itu Rasulullah ﷺ bertahlil lagi sesaat sebelum untanya bergerak. Rasulullah ﷺ meneruskan perjalanan suci ini hingga hampir memasuki Mekah dan bermalam di sana.

Keesokan harinya setelah shalat subuh, Rasulullah ﷺ memasuki kota Mekah pada pagi hari Ahad 4 Dhulhijjah 10 Hijriyah. Selama 8 malam Rasulullah ﷺ menghabiskan waktu perjalanan yang sederhana itu. Ketika Rasulullah ﷺ memasuki Masjidil Haram tetap berpakaian ihram lalu thawaf berkeliling Ka'bah dan sa'i antara Safa dan Marwah, karena beliau dalam mengerjakan haji kali ini secara qiran dan lengkap dengan hewan qurbannya.

Rasulullah ﷺ menyuruh para sahabat yang tidak memiliki hewan qurban agar menjadikan ihram mereka sebagai umrah, dengan berthawaf keliling Ka'bah dan bersa'i antara Safa dan Marwah lalu mengganti pakaian ihram dengan pakaian biasa. Tetapi para sahabat ragu-ragu untuk melakukan perintah Rasulullah ﷺ itu.

Kemudian Rasulullah ﷺ menegaskan: "Bila maju untuk berbuat sesuatu, aku tidak akan kembali atau menarik kembali qurbanku ini. Dan bila aku tidak mempunyai hewan qurban pasti aku mengganti pakaian ihramku ini. Ayo! Kamu yang tidak memiliki hewan qurban, pakaian ihram segera diganti!"

Kemudian para sahabat mengikuti petunjuk Rasulullah ﷺ.

Pada hari ke-delapan Dzulhijjah yang dikenal juga sebagai hari Tarwiyah, Rasulullah ﷺ bergerak menuju Mina. Di sini Rasulullah ﷺ menunaikan shalat dzuhur, ashar, maghrib, isya dan subuh. Setelah matahari naik barulah Rasulullah ﷺ berjalan menuju Arafah.

Bersambung...