adsense

August 16, 2026

KISAH RASULULLAH ﷺ Bagian 157



اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّد

Sebelum Meninggal

Di hari Khamis yaitu empat hari sebelum meninggal, sakit Rasulullah semakin berat, Rasulullah ﷺ meminta:
"Tolong bawa ke mari alat tulis, aku akan menulis untukmu wasiat, dengan wasiat itu kamu tidak akan sesat setelah itu".
Di dalam rumah ketika itu ada beberapa sahabat di antara mereka adalah Umar Ibn Khattab, dan dia berkata:
"Kini Rasulullah mengalami kesakitan yang dahsyat, bukankah sudah ada Alquran, sudah 
cukup dengan kita kitab Allah itu".
Ahli keluarga Rasulullah berselisih pendapat, di antara mereka mengatakan:
"Ayo berikan sesuatu untuk Rasulullah tulis".
Dan di antara mereka ada juga mengatakan sebagaimana pendapat Umar. Hingga terjadi silang pendapat di antara mereka, kemudian Rasulullah ﷺ berkata:
"Ayo! Kamu semua keluar dari sini".
Di hari itu Rasulullah ﷺ membuat tiga wasiat yaitu:
~ Rasulullah berpesan agar kaum Yahudi, Nasrani dan Musyrikin di keluarkan dari Semenanjung Tanah Arab, selanjutnya
~ Rasulullah berpesan agar membenarkan kedatangan para perwakilan sebagaimana yang 
pernah Rasulullah lakukan.
~ Adapun wasiat yang ketiga agar berpegang dengan kitab Allah dan sunnah Rasulullah, meneruskan pengiriman tentara Islam pimpinan Usamah, dan perintah untuk sholat dan membuat hubungan baik dengan sesama umat.

Walaupun nabi dalam keadaan sakit namun Rasulullah ﷺ kemudian sholat, menjadi imam sholat berjamaah, Di hari itu Rasulullah ﷺ sholat maghrib dengan membaca surah "Mursalat".
Ketika waktu sholat Isya' sakit Rasulullah ﷺ bertambah berat, menyebabkan Rasulullah tidak berdaya untuk keluar ke masjid, kata Aisyah:
Rasulullah ﷺ bersabda: "Apakah orang-orang sudah sholat?". Kata kami: "Tidak wahai Rasulullah, mereka semua sedang menunggu paduka".
Kata Rasulullah lagi: "Sediakan air di dalam panci itu". Kami pun melakukan apa yang 
diperintahkan Rasulullah, dengan air itu Rasulullah pun bersuci, dan berdiri namun Rasulullah kemudian setengah pingsan kemudian masih bertanya pula:
"Apakah orang-orang sudah sholat." Kejadian pingsan ini berulang kali terjadi seperti yang pertama yaitu setelah Rasulullah bersuci, akhirnya Rasulullah menyuruh Abu Bakar 
mengimami sholat orang banyak.
Abu Bakar pun melaksanakan perintah Rasulullah mengimami orang banyak untuk hari-hari itu sebanyak tujuh belas (17) waktu sholat, ketika Rasulullah ﷺ masih hidup.
Aisyah telah meminta Rasulullah memberikan petunjuknya, agar imam masjid bisa dilakukan orang lain, agar orang banyak tidak mempunyai anggapan tidak baik, namun Rasulullah tetap menolak dan berkata:
"Kamu semua adalah wanita-wanita pencinta Yusuf, banyak berdalih, ayo suruh Abu Bakar 
sholat menjadi imam."

Sehari Sebelum Wafat

Di hari Ahad nabi ﷺ merasa dirinya ringan sedikit, kemudian Rasulullah keluar dengan dibantu oleh dua orang untuk sholat Dzuhur, sedang Abu Bakar menjadi imam sholat untuk orang banyak. Ketika Abu Bakar menjadi imam, terlihat Rasulullah mundur ke belakang, tetapi Rasulullah ﷺ memberi isyarat agar dia jangan mundur, Rasulullah menyuruh dua orang yang membantu Rasulullah agar mendudukkan Rasulullah di sebelah Abu Bakar, mereka 
berdua pun mendudukkan Rasulullah ﷺ di sebelah kiri Abu Bakar, dan Abu Bakar mengikuti (beriqtida') dengan Rasulullah di dalam sholatnya, di samping memperdengarkan takbir-takbir kepada para jamaah.
Pada hari Ahad yaitu sehari sebelum wafat, Rasulullah ﷺ memerdekakan semua hamba 
sahaya, bersedekah dengan tujuh dinar yang Rasulullah miliki pada saat itu, semua senjata-senjatanya diberikan kepada kaum muslimin. Pada malam hari Aisyah meminjam minyak 
untuk menghidupkan lampu dari tetangganya, baju besi Rasulullah tergadai pada seorang Yahudi sebesar tiga puluh (30) cupak.

Hari Terakhir dalam Hayat Rasulullah

Anas bin Malik meriwayatkan:
Semua kaum muslimin yang sedang sholat Subuh di belakang Abu Bakar di hari Senin itu dikejut oleh kemunculan Rasulullah dari sebelah tabir kamar Aisyah Rasulullah melihat dan memberi senyumannya, Abu Bakar pun mundur ke belakang untuk menyertai barisan di 
belakang, karena dia menyangka Rasulullah akan keluar sholat.
Kata Anas lagi:
Hampir-hampir para jamaah sholat terpesona, mereka gembira melihat Rasulullah ﷺ, 
namun Rasulullah memberi isyarat kepada mereka agar meneruskan sholat. Setelah itu Rasulullah melepaskan tabir dan masuk ke dalam. Kemudian Rasulullah ﷺ tidak memiliki kesempatan lagi untuk sholat lima waktu yang lain.
Ketika siang semakin cerah Rasulullah ﷺ menjemput Fatimah dan berbisik kepadanya, yang 
menyebabkan Fatimah menangis, setelah itu Rasulullah memanggil Fatimah lagi dan membisikkan sesuatu lagi kepadanya, bisikan yang kedua menyebabkan Fatimah tersenyum,
kemudian Aisyah berkata: Kami pun bertanya apa ceritanya?
Jawab Fatimah:
"Rasulullah membisikkan bahwa Allah akan menjemputnya melalui sakit yang Rasulullah alami ini, itulah yang membawa aku menangis, pada kali kedua Rasulullah ﷺ membisikkan bahwa aku ahli keluarganya yang diwafatkan Allah setelah Rasulullah, itulah yang menyebabkan aku tersenyum".
Selain itu Rasulullah juga memberi kabar gembira (tabsyir) kepada Fatimah bahwa dia adalah Nisa' 'Alamin (Penghulu Wanita Dunia).
Fatimah melihat beban kesakitan dialami oleh Rasulullah ﷺ terlalu berat. Dia berkata: 
"Alangkah berat cobaan bapak". Jawab Rasulullah ﷺ: "Tidak ada cobaan lagi untuk bapakmu setelah hari ini".
Di saat ini Rasulullah ﷺ memanggil Hasan dan Husain dan Rasulullah mencium keduanya sambil berwasiat kepada mereka berdua dengan kebaikan, kemudian Rasulullah menjemput 
isteri-isterinya, menasihati dan memperingatkan mereka.
Kesakitan semakin bertambah, dan kesan racun sebagaimana yang dirasakan Rasulullah 
sebagaimana di hari Khaibar, menyebabkan Rasulullah berkata: "Wahai Aisyah kini aku masih terasa sakit seperti makanan di hari Khaibar dahulu, inilah waktunya aku merasakan nafasku sesak terputus-putus karena kesan racun itu".
Rasulullah mewasiatkan orang banyak dengan sabdanya: "Sholat, sholat dan berbuat baiklah kepada hamba sahaya milik kamu". Rasulullah mengulangi ungkapan ini berkali-kali.


Bersambung

August 15, 2026

KISAH RASULULLAH ﷺ Bagian 156



اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّد

Firasat Perpisahan

Setelah Dakwah Islamiyah sempurna dan Islam menguasai keadaan maka tanda-tanda dan bahasa-bahasa pengucapan selamat tinggal kepada dunia dan kepada manusia mulai nampak di dalam ungkapan-ungkapan dan ucapan-ucapan Rasulullah ﷺ melalui perkataan dan perbuatannya.
Di dalam bulan Ramadhan tahun ke sepuluh Hijriyah, Rasulullah beriktikaf di masjid selama 
dua puluh hari, sedang sebelumnya hanya sepuluh hari.
Di waktu itu Jibril AS mendatangi Rasulullah ﷺ untuk mengulang tadarus Alquran sebanyak dua kali.
Di dalam Hajji Wada' Rasulullah telah menyebut:
"Sebenarnya kemungkinan aku tidak akan bertemu kamu lagi setelah pertemuan kita di 
tahun ini".
Ketika di Jamrah Aqabah Rasulullah berkata: "Ambillah ibadah haji ini dariku, bisa jadi aku tidak akan mengerjakan haji lagi setelah tahun ini".
Surah Nasr turun di pertengahan hari-hari tasyrik, dari surat tersebut Rasulullah ﷺ mengetahui bahwa itu adalah ucapan selamat tinggal dan pemberitahuan tentang kematiannya.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم
ِ إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ
وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا
فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا

Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong,
maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.
{An-Nasr 110:1 s/d 3}

Di permulaan Safar tahun sebelas (11) Hijriah Rasulullah ﷺ keluar menuju ke Uhud, Rasulullah sholat untuk para syuhada' sebagai ucapan selamat tinggal kepada semua yang hidup dan yang mati, dari Uhud Rasulullah kembali ke masjid naik ke atas mimbar dan bersabda:
"Sesungguhnya aku telah berbuat keras kepadamu, sesungguhnya aku adalah melihat kamu semua, demi Allah waktu ini aku sedang menyaksikan kolam airku (kurnia Rasulullah di hari perkiraan), aku telah diberi kunci khazanah kekayaan bumi atau kunci-kunci bumi, dan sesungguhnya aku tidak takut kamu menyekutukan Allah setelah kematianku, tetapi aku takut kamu berlomba-lomba karena dunia".
Di suatu malam Rasulullah ﷺ keluar menuju ke pemakaman Baqi', di sana Rasulullah memohon ampunan untuk penghuni di kubur dengan doanya:
"Assalamulaikum wahai penghuni kubur, tenanglah kamu, pada apa yang terjadi padamu, dengan apa yang terjadi pada orang lain, kini fitnah telah mulai tiba, bagai malam yang gelap pekat, ujungnnya menyusul permulaannya, ujungnya lebih buruk dari permulaannya".
Di sini Rasulullah ﷺ menyampaikan berita gembira kepada mereka, dengan sabdanya:
"Sesungguhnya aku menyusul datang setelah kamu"

Permulaan Sakit

Di hari kedua puluh sembilan (29) bulan Safar tahun kesebelas (11) Hijriah, pada hari Senin, Rasulullah ﷺ berkesempatan menghadiri pemakaman jenazah di Baqi'. Di pertengahan jalan sekembalinya dari Baqi', Rasulullah merasa sakit kepala, panasnya terlalu tinggi, orang di sekitar Rasulullah ikut merasakan panasnya, terutama di atas kain balutan di kepala Rasulullah yang mulia itu.
Namun demikian Rasulullah ﷺ kemudian sholat dengan para kaum muslimin dalam keadaan Rasulullah mengalami kesakitan untuk selama sebelas hari, sedang keseluruhan hari sakit Rasulullah tiga belas (13) hari.

Pekan Terakhir

Sakit Rasulullah ﷺ semakin berat, isteri-isterinya berkata;
"giliranku besok? giliranku besok?".
Akhirnya, semuanya memahami keadaan Rasulullah ﷺ, karena itu Rasulullah dipersilakan untuk duduk saja.
Kemudian Rasulullah minta berpindah ke rumah Aisyah, Rasulullah berjalan di papah antara Fadlu bin Abbas dan Ali bin Abi Talib, sedang kepala Rasulullah masih tertutup dengan kain, 
menapakkan kakinya selangkah demi selangkah sampai Rasulullah memasuki rumah Aisyah, di situ Rasulullah menghabiskan sisa umurnya yang sepekan itu.
Aisyah r.a kemudian membaca surah-surah Muawwizah, dan doa-doa lain yang dia terima dari Rasulullah ﷺ. Dia meniupkannya ke badan Rasulullah ﷺ dan mengusap dengan tangan Rasulullah untuk mendapatkan keberkatan.

Lima hari sebelum meninggal

Pada hari Rabu yaitu lima hari sebelum meninggal, panas badan Rasulullah semakin meningkat, Rasulullah ﷺ semakin bertambah sakit dan pening, menyebabkan Rasulullah meminta dengan sabdanya:
"Siramkan kepadaku tujuh gayung air dari berbagai telaga agar aku dapat keluar menemui orang banyak dan aku bisa bertemu dengan mereka".
Sahabat-sahabat yang hadir di situ membiarkan Rasulullah duduk di atas tikar kemudian 
mereka mencucuri air ke seluruh badan Rasulullah, hingga Rasulullah ﷺ berkata: "cukup, 
cukup".
Pada saat itu Rasulullah ﷺ merasa sakitnya berkurang, kemudian Rasulullah memasuki Masjid sedang kepalanya masih terbalut dengan kain, lalu Rasulullah duduk di atas mimbar dan menyampaikan kata-kata kepada orang banyak.
Ketika itu para sahabat dan khalayak pun mengerumuni, kemudian Rasulullah bersabda:
"Laknat Allah kepada kaum Yahudi dan Nasrani, karena mereka menjadikan kubur-kubur nabi-nabi mereka sebagai tempat ibadah"
Dalam riwayat yang lain "Allah mengutuk bangsa Yahudi dan Nasrani yang telah menjadikan kubur-kubur nabi-nabi mereka sebagai tempat ibadah"
dan sabdanya:
"Jangan sekali-kali kamu menjadikan kuburku sebagai berhala yang disembah"
Tidak lupa Rasulullah menawarkan kepada khalayak untuk menuntut bela kepada dirinya dengan berkata:
"Siapa di antara kamu yang telah aku pukul belakangnya, ini belakangku siap untuk menerima balas pemukulan, dan siapa pun yang telah aku caci maki harga dirinya, nah ini dia harga diriku siap, untuk yang menuntut balas".
Kemudian Rasulullah ﷺ turun dari mimbar dan menunaikan sholat Dzuhur dan kembali duduk di atas mimbar mengulangi soal pembalasan dan yang lain-lain hingga salah seorang yang hadir berkata:
"Rasulullah ﷺ telah berhutang dari aku sebanyak tiga dirham yang belum jelas"
Maka kata Rasulullah ﷺ: "Fadhl! Jelaskan kepadanya".
Kemudian Rasulullah mewasiatkan dan berpesan kepada orang-orang Anshor dengan sabdanya:
"Aku berpesan kepada kamu sekalian, bersikap baiklah terhadap Anshor, mereka itu adalah perut dan bekal untukku, mereka telah melaksanakan kewajiban mereka, yang belum terlaksana adalah hak mereka. Untuk itu balaslah kebaikan mereka dan beri maaf kesalahan mereka"
Katanya pula: "Sesungguhnya aku ini seorang hamba Allah yang telah diberi pilihan untuk menerima kemewahan dunia secukupnya atau memilih kedudukan di sisi-Nya, di sini aku telah memilih kedudukan di sisi-Nya"
Kemudian Rasulullah pun berkata pula:
Sesungguhnya orang yang paling selamat dalam bersahabat dan juga merupakan hartaku adalah Abu Bakar, seandainya aku harus mengambil teman selain dari Allah niscaya aku memilih Abu Bakar. tetapi dia adalah saudara, dan mempunyai hubungan dekat di dalam Islam, karena itu semua pintu rumah ke masjid harus ditutup kecuali pintu rumah Abu Bakar.


Bersambung

August 14, 2026

KISAH RASULULAH ﷺ Bagian 155

 - Khotbah di Hari Nahr

Di hari penyembelihan yaitu hari kesepuluh Dzulhijjah, setelah waktu Dhuha Rasulullah ﷺ menyampaikan khotbah dari atas kendaraannya, "Syahba" (jelaskan) sedang Ali bin Abi Talib menyuarakan dengan lantang kepada orang banyak. 
Sidang hadirin ada yang duduk dan ada yang berdiri.
Di dalam khutbahnya Rasulullah mengulangi beberapa hal yang telah disampaikan kemarin.
Syaikhan (dua orang Syeikh Hadits: Bukhari dan Muslim) telah meriwayatkan dari Abi Bakarah dengan katanya:
Bahwa Rasulullah ﷺ telah menyampaikan kepada kami di hari Nahr (penyembelihan) dengan sabdanya:
"Sesungguhnya peredaran waktu sudah berjalan pada sumbunya yang asal dan menepati putaran sesuai pada hari penciptaan langit dan bumi.  Setahun dua belas bulan, empat darinya adalah bulan haram, tiga bulan berturut-turut yaitu Zulkaedah, Dzulhijjah dan Muharam. sedang sebulan lagi ialah bulan Rajab, yang ada di antara Jumadil akhir dan Sya'ban"
Sabdanyanya lagi: Ini bulan apa ?
Jawab hadirin: "Allah dan Rasulnya lebih mengetahui," Rasulullah ﷺ pun diam sesaat, sampai kami mengira Rasulullah akan menamakannya dengan satu nama lain.
"Tidaklah, ini bulan Dzulhijjah?"
Jawab kami: "Benar."
Tanya Rasulullah lagi: "Negeri ini, negeri apa?"
Jawab kami: "Allah dan Rasulnya lebih mengetahui."
Sabda Rasulullah: "Tidakkah, negeri ini dikenali sebagai "Baldah" ?
Kata kami semua: "Benar.
Tanya Rasulullah lagi. "Kita ini di hari apa?"
Kata kami; "Allah dan Rasulnya lebih mengetahui."
Rasulullah berdiam sejenak hingga kami menyangka Rasulullah akan menukar dengan nama baru. 
Kemudian sabda Rasulullah: "Tidakkah hari ini hari Nahr hari sembelihan qurban?."
Jawab kami: Benar"

Selanjutnya Rasulullah bersabda:
"Sesungguhnya darahmu, hartamu dan harga dirimu adalah haram di atas kamu sekalian, sama seperti haramnya harimu ini, di bumimu ini dan di bulanmu ini." "Dan kamu akan menemui Tuhanmu dan Tuhanmu akan bertanya kepadamu mengenai amal-amalmu, ingatlah agar jangan sekali-kali kamu menjadi sesat setelah kepergianku nanti di seuntukan kamu saling bunuh sendiri kepada sesama"
Tidakkah telah aku sampaikan?
Jawab mereka: Ya!.
Kata Rasululah ﷺ: "Ya Allah Ya Tuhanku saksikanlah, akankah yang hadir di antara kamu ini akan menyampaikan kepada yang tidak hadir. Karena bisa jadi yang menyampaikan itu lebih memahami dari pada yang mendengar"

Rasulullah tinggal di Mina selama hari-hari tasyrik, mengerjakan ibadah dan mengajarkan hukum-hukum syariat, memberikan tazkirah, membetulkan ajaran-ajaran hidayah dari ajaran Ibrahim, menghapuskan syirik dan kesan-kesannya. 
Rasulullah ﷺ juga menyampaikannya di tengah hari-hari tasyrik, 

Dari  Abu Daud dengan sanad hadits hasan, riwayat Sarra' binti Nubhan telah berkata: "Rasulullah ﷺ telah menyampaikan sabdanya di hari tasyrik itu dengan: Tidakkah hari ini, hari tengah di antara hari-hari tasyrik. 
Sabda Rasulullah itu seperti sabdanya di hari "Nahr" sabda ini disampaikan setelah diturunkan surah Nasr. 

اِذَا جَآءَ نَصۡرُ اللّٰہِ وَ الۡفَتۡحُ ۙ
وَ رَاَیۡتَ النَّاسَ یَدۡخُلُوۡنَ فِیۡ دِیۡنِ اللّٰہِ اَفۡوَاجًا ۙ
فَسَبِّحۡ بِحَمۡدِ رَبِّکَ وَ اسۡتَغۡفِرۡہُ ؕؔ اِنَّہٗ کَانَ تَوَّابًا ٪
Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, 
dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong,
maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.
{An-Nasr (النصر) / 110:1 s/d 3}
Di hari Nafar Thani yaitu hari ketiga belas Dzulhijjah, Rasulullah ﷺ keluar dari Mina bergerak menuju ke dataran tinggi Bani Kinanah di suatu kawasan tanah lapang. Rasulullah menghabiskan sisa hari di situ hingga ke malamnya, Rasulullah ﷺ telah menunaikan sholat dzuhur, Asar, Maghrib dan Isya'. Setelah itu Rasulullah berbaring, kemudian berdiri dan berjalan menuju ke Ka’bah, di sana Rasulullah melakukan thawaf wada'.

Setelah selesai mengerjakan ibadah hajinya, Rasulullah ﷺ dengan tergesa menaiki untanya dan pulang ke Madinah Mutahharah. Ini dilakukan karena akan memberi kesempatan kepada mereka untuk beristirahat, karena akan meneruskan kembali berjuang di jalan Allah. 

Unit terakhir Pengiriman

Sikap keangkuhan kerajaan Roma yang tidak mau menerima kehadiran Islam di negaranya inilah yang membawa Roma membunuh rakyatnya yang memeluk agama Islam, sebagaimana tindakannya kepada Farwah bin Juzami Gubernur yang dilantik oleh Roma untuk daerah Maan, dibunuh karena memeluk Islam. 

Rasulullah melihat peristiwa ini dengan sungguh-sungguh, sikap Roma yang sombong dan keras kepala itu membuat Rasulullah segera mempersiapkan satu angkatan yang besar pada bulan Safar tahun kesebelas (11) Hijriah.
Usamah bin Zaid telah diberi tanggungjawab untuk memimpin angkatan ini. Rasulullah memerintah agar Usamah memasuki perbatasan Balqa' dan Darom di bumi Palestina dengan tujuan untuk menggertak Roma dan mengembalikan kepercayaan bangsa Arab yang berbatasan dengan Roma, agar mereka mengetahui bahwa kebiadaban Roma itu tidak bisa dibiarkan  terjadi begitu saja, di samping untuk menghapus sindrom, yang konon katanya memeluk Islam hanya akan membawa kematian. 

Masyarakat menyebut-nyebut tentang Usamah bin Zaid karena dia merupakan pemimpin tentara Islam yang masih muda, bahkan mereka mengharapkan agar ditunda keberangkatannya. 

Di sini Rasulullah ﷺ mengulas dengan sabdanya yang bermaksud:
"Sekiranya kamu mempersoalkan kepimpinannya berarti kamu mempersoalkan kepimpinan bapaknya yang terdahulu, demi Allah, meskipun kepimpinannya dipertikaikan namun dia adalah layak untuk tugas, bapaknya yang terdahulu adalah orang kesayanganku, dan dia juga di antara orang kesayanganku setelah bapaknya yang terdahulu". 

Oleh sebab itu, masyarakat pun mulai berkumpul di sekeliling Usamah yang sedang menyertai barisan tentaranya, akhirnya mereka semua bergerak hingga sampai di persinggahan  Jaraf satu Farsakh jaraknya ke Madinah. 

Ketika tentara Islam ada di sana, mereka menerima berita tentang Rasulullah ﷺ  jatuh sakit, berita ini telah membuat mereka ragu untuk meneruskan perjalanan ke Roma, agar mereka dapat mengetahui ketetapan Allah itu.
Dengan izin dan takdir Allah, tentara pimpinan Usamah ini merupakan pengiriman pasukan pertama kemudian, pada masa pemerintahan Abu Bakar Siddiq. 
-Bersambung

August 13, 2026

KISAH RASULULAH ﷺ Bagian 154

 - Khotbah Rasulullah

Sampai di Arafah di kawasan Namirah, Rasulullah ﷺ melihat sebuah kemah yang sudah didirikan untuk beliau. Rasulullah pun singgah sampai matahari terbenam di ufuk barat.

Rasulullah ﷺ minta agar unta Quswa' dibawa ke tempatnya, dari situ Rasulullah pun bergerak menuju ke Batan Wadi. Di sana sudah banyak orang berkumpul kurang lebih seratus ribu empat puluh empat orang.
Rasulullah ﷺ berdiri di depan mereka, kemudian menyampaikan khotbahnya:
"Wahai umatku sekalian, dengarlah kata-kataku ini, sebenarnya aku tidak tahu apakah aku masih bisa menemui kalian setelah tahun ini. 
Sesungguhnya darahmu dan hartamu adalah haram seperti haramnya hari ini, bulan ini, dan tanah ini.
Ketahuilah bahwa semua urusan jahiliah sudah tertanam di bawah kakiku ini, darah-darah jahiliah telah tertanam. Darah jahiliah yang pertama kali aku hapuskan adalah darah Ibn Rabiah bin Harith, kejadiannya dia ini dibunuh, ketika sedang mengambil susuan dari ibu susuannya Bani Saad. 
Riba jahiliah juga sudah dihapuskan, dan riba pertama yang aku hapuskan adalah riba Abbas bin Abdul Mutalib, bahkan semuanya telah dihapuskan sama sekali.
Bertaqwalah kamu kepada Allah swt demi untuk melaksanakan hak kaum wanita, karena kamu telah mengambil mereka sebagai isteri dalam bentuk amanah Allah, kamu halal jima' dengan mereka dengan menyebut nama Allah, dan kaum wanita juga berkewajiban menjaga agar tidak ada seorang pun masuk ke kamarmu.
Sekiranya mereka berbuat demikian maka pukullah mereka dengan pukulan yang tidak parah, kepada mereka, kamu berkewajipan memberi rezeki dan pakaian dengan baik.
Sesungguhnya telah aku tinggalkan kepadamu agar kamu tidak sesat setelah ini, berpeganglah kamu dengannya, yaitu kitab Allah.
Wahai sekalian manusia, sesungguhnya tidak ada nabi setelah aku, dan tidak ada umat lain selain kamu, ingatlah agar kamu menyembah Tuhanmu, tunaikanlah fardu sholat lima waktu, berpuasalah kamu di bulan Ramadhan, tunaikan zakat hartamu dengan ikhlas, tunaikan haji ke baitullah, dan taatilah pemerintahmu niscaya kamu masuk ke dalam syurga Rabb-mu.
Besok kamu semua akan ditanya mengenai diriku, apa yang akan kamu katakan?
Maka kata mereka semua: 
"Kami menyaksikan bahwa engkau telah menyampaikan, menunaikan dan menasihati kami".
Dengan mengangkat jari telunjuknya ke arah langit kemudian berkata lagi:
"Ya Allah Ya Tuhanku, saksikanlah." (sebanyak tiga kali).
Adapun orang yang berteriak (sebagaiman pengeras suara) meneruskan ucapan Rasulullah kepada orang banyak di padang Arafah adalah Rabi'ah bin Umaiyah bin Khalaf.

Setelah selesai menyampaikan khotbah, turunlah firman Allah:
Al-Ma'idah (المائدة) / 5:3
حُرِّمَتۡ عَلَیۡکُمُ الۡمَیۡتَۃُ وَ الدَّمُ وَ لَحۡمُ الۡخِنۡزِیۡرِ وَ مَاۤ اُہِلَّ لِغَیۡرِ اللّٰہِ بِہٖ وَ الۡمُنۡخَنِقَۃُ وَ الۡمَوۡقُوۡذَۃُ وَ الۡمُتَرَدِّیَۃُ وَ النَّطِیۡحَۃُ وَ مَاۤ اَکَلَ السَّبُعُ اِلَّا مَا ذَکَّیۡتُمۡ ۟ وَ مَا ذُبِحَ عَلَی النُّصُبِ وَ اَنۡ تَسۡتَقۡسِمُوۡا بِالۡاَزۡلَامِ ؕ ذٰلِکُمۡ فِسۡقٌ ؕ اَلۡیَوۡمَ یَئِسَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡ دِیۡنِکُمۡ فَلَا تَخۡشَوۡہُمۡ وَ اخۡشَوۡنِ ؕ اَلۡیَوۡمَ اَکۡمَلۡتُ لَکُمۡ دِیۡنَکُمۡ وَ اَتۡمَمۡتُ عَلَیۡکُمۡ نِعۡمَتِیۡ وَ رَضِیۡتُ لَکُمُ الۡاِسۡلَامَ دِیۡنًا ؕ فَمَنِ اضۡطُرَّ فِیۡ مَخۡمَصَۃٍ غَیۡرَ مُتَجَانِفٍ لِّاِثۡمٍ ۙ فَاِنَّ اللّٰہَ غَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ
Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Ketika Umar mendengar firman Allah itu dia kemudian menangis dan ketika ditanya, mengapa dia menangis?
Jawab dia: "Karena setelah kesempurnaan akan menyusul pula kekurangan".

Setelah khotbah Rasulullah itu Bilal pun melantunkan azan dan iqamah untuk sholat dzuhur. Kemudian dia iqamah pula untuk sholat Ashar tanpa melakukan sholat lain di antara kedua-duanya.
Sesudah itu Rasulullah ﷺ  menaiki untanya dan bergerak hingga sampai ke suatu tempat perhentian dengan membiarkan perut untanya Quswa' menyentuh bongkahan batu di situ, sedang barisan pejalan-pejalan kaki berjalan tidak melebihi sejauh pandangan ke depan. Di situ Rasulullah ﷺ menghadap ke arah qiblat,
Rasulullah ﷺ kemudian berdiri sampai matahari terbenam di ufuk langit sebelah barat dan cahaya kuning berangsur-angsur hilang. Usamah pun mengendalikan unta Rasulullah ﷺ sampai ke Muzdalifah, di sana Rasulullah menunaikan sholat Maghrib dan sholat Isya' dengan satu azan dan dua iqamah tanpa membaca apa-apa, tasbih sekali pun di antara kedua sholat itu.
Rasulullah ﷺ beristirahat, dan tidur hingga Subuh. Rasulullah pun menunaikan sholat Subuh, kemudian Rasulullah menaiki unta Quswa' dan berjalan sampai ke kawasan Haram (masyh'ar Haram), muka Rasulullah menghadap ke arah kiblat sambil berdoa, bertakbir, bertahlil dan bertahmid. Rasulullah berdiri di situ sampai waktu pagi.

Kemudian Rasulullah ﷺ bergerak lagi dari Muzdalifah ke Mina sebelum matahari naik. Di sini Fadhil bin Abbas mengikuti dari belakang unta Rasulullah sampai ke Batan Mahsar, dengan melalui jalan tengah yang menuju ke Jumrah Kubra.
Sampai di sana ada sebuah pohon yang dikenal dengan nama Jumrah Aqabah. Kemudian Rasulullah ﷺ melontar tujuh batu sambil bertakbir di setiap lontarannya dari Batan Wadi.

Setelah itu Rasulullah ﷺ menuju ke tempat pemotongan hewan. Sebanyak enam puluh tiga (63) ekor unta Rasulullah ﷺ berkurban, kemudian diserahkannya kepada Ali bin Abi Talib tiga puluh tujuh (37) ekor unta untuk dipotong dan membagikannya, jadi jumlah semuanya ada sebanyak seratus ekor unta.
Setelah selesai penyembelihan Rasulullah ﷺ menyuruh agar mengambil sebagian daging dari setiap sembelihan dan dimasaknya. Setelah masak Rasulullah dan Ali pun memakan sedikit dari masakan daging itu dan mencicipi kuahnya.

Kemudian Rasululah ﷺ mengendarai untanya dan bergerak sampai ke Ka’bah, di sana Rasulullah sholat dzuhur, setelah itu mengunjungi orang-orang Bani Abdul Muttalib yang menjaga air zam-zam dan memberi minum kepada para pengunjung.
Melihat situasi itu Rasulullah berkata: 
"Ayo! Rebut Bani Abdul Muttalib, kalau tidak mengganggu orang banyak, pasti aku ikut serta merebutnya bersama-sama dengan kamu, hadirin pun mengulurkan air kepada Rasulullah dan Rasulullah ﷺ pun meminumnya dengan senang hati.

Bersambung..

August 12, 2026

KISAH RASULULAH ﷺ Bagian 153

 - Rampasan Perang 

Rampasan yang diperoleh kaum muslimin terdiri atas: 
Enam ribu (6.000) orang tawanan, 
dua puluh empat ribu (24.000) ekor unta, 
lebih empat puluh ribu (40.000) ekor biri-biri dan 
empat ribu (4.000) uqiyah emas. 

Rasulullah memerintahkan agar rampasan perang ditempatkan di "Ja'ranah", dengan menunjuk Mas'ud bin Amru Ghaffari sebagai penjaganya, sampai selesai gerakan ghuzwah (invasinya) ke "Ta'if".

Setelah invasi ke Ta'if selesai, kemudian dilaksanakan pembagian rampasan perang, dibagikan sebagaimana dilakukan pada waktu-waktu sebelumnya. 

HAJJAH WADA' 
Haji Terakhir 
Tugas dakwah Rasulullah ﷺ sudah mendekati penghujung selesai, penyampaian risalah pun sudah dilaksanakan, penegakan sebuah syariat baru yang berasaskan pada konsep uluhiyah dan ketuhanan yang satu hanya kepada Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى dan tidak ada tuhan selain Allah berdasarkan risalah Muhammad ﷺ telah menjadi kenyataan. 

Rasulullah ﷺ seakan-akan telah mendengar panggilan dari dalam hatinya yang memberitahu bahwa persinggahan Rasulullah di dunia sudah sampai pada waktu yang telah ditetapkan. 

Hal ini nampak ketika Rasulullah mengutus Muaz bin Jabal ke negeri Yaman sebagai Gubernur di tahun kesepuluh (10) Hijriah. 

Rasulullah ﷺ bersabda kepada Muaz: 

"Wahai Muaz, sebenarnya engkau mungkin tidak akan bertemu aku lagi setelah tahun ini dan semoga kau akan melalui masjidku dan kuburku". 
Muaz menangis tersedu-sedu karena akan berpisah dengan Rasulullah ﷺ. 

Dengan izin Allah, Rasulullah ﷺ berkesempatan melihat hasil kerja dakwahnya setelah mengalami berbagai kepahitan dan kesusahan selama dua puluh tahun lebih.
Di ujung bandar Mekah, Rasulullah ﷺ berkumpul bersama dengan para perwakilan qabilah Arab, menyampaikan kepada mereka syariat-syariat dan hukum-hukum Islam. Rasulullah minta persaksian mereka, bahwa dia telah menyampaikan amanah dan tugas-tugasnya, menyampaikan risalah dan bertanggungjawab menasihati seluruh umat.

Pada hari itu Rasulullah ﷺ mengdeklarasikan cita-citanya untuk menunaikan ibadah haji yang terakhir. Berduyun-duyun umatnya mengunjungi Madinah, mereka semua ingin menyertai dan mengikuti Rasulullah dalam ibadah hajinya.
Pada hari Sabtu empat hari terakhir bulan Zulkaedah, Rasulullah ﷺ siap dengan kendaraannya, mempersiapkan dirinya, memakai minyak rambut dan menyikatnya, mengenakan pakaian dan syalnya serta menyandang senjatanya. 

Setelah sholat dzuhur, Rasulullah ﷺ  bergerak, sampai di Zul Hulaifah sebelum masuk waktu Ashar. Di sana Rasulullah menunaikan sholat sunat dua rakaat dan bermalam. 

Keesokkan harinya setelah sholat Subuh, Rasulullah ﷺ memberitahukan kepada semua sahabat yang hadir: 
"Tadi Malam aku telah mendapat pemberitahuan dari Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى yang menyabdakan: Sholatlah kamu di lembah yang penuh berkat ini dan niatkanlah wahai Muhammad: Umrah dikerjakan bersama-sama Haji". 

Sebelum Rasulullah ﷺ menunaikan sholat dzuhur di hari itu, terlebih dahulu Rasulullah bersuci dan mengenakan pakaian ihram, kemudian Aisyah menyapukan minyak wangi dan kasturi pada diri Rasululah. 
Aisyah menyapukan di badannya dan kepalanya hingga nampak berkilauan minyak kasturi di rambut dan di jenggotnya. Rasulullah ﷺ membiarkan tanpa membasuhnya dan kemudian menunaikan sholat dzuhur dua rakaat.
Setelah selesai sholat, Rasulullah ﷺ kemudian bertahlil di tempat sholatnya untuk memulai ibadah haji dan umrah, sebagai haji qiran.
Setelah itu barulah Rasulullah ﷺ bergerak dengan menunggangi untanya yang bernama Quswa', di situ Rasulullah bertahlil lagi sedang untanya kemudian bergerak. 

Rasulullah meneruskan perjalanan suci ini hingga hampir memasuki Mekah, maka Rasulullah bermalam di Tawa. 
Keesokkan harinya Rasulullah memasuki Mekah setelah sholat Shubuh, di pagi hari Ahad tanggal empat hari terakhir bulan Dzulhijjah tahun kesepuluh (10) Hijriah.
Selama delapan malam Rasulullah ﷺ menghabiskan waktu untuk perjalanannya yang sederhana itu dan apabila Rasulullah memasuki Masjid Haram, kemudian Rasulullah berthawaf mengelilingi Ka’bah dan melakukan Sa’i di antara Safa dan Marwah, tanpa merubah pakaian ihramnya, karena Rasulullah dalam mengerjakan haji kali ini secara qiran berserta dengan binatang sembelihannya. 

Kemudian Rasulullah ﷺ singgah di Hajjun tanpa mengulangi thowaf melainkan thowaf rukun haji. 
Rasulullah menyuruh para sahabat yang tidak mempunyai binatang sembelihan agar menjadikan ihram mereka itu sebagai umrah, dengan berthawaf mengelilingi Ka’bah, dan bersa’i di antara Safa dan Marwah, kemudian mengganti pakaian ihram dengan pakaian biasa. 
Tetapi para sahabat ragu-ragu untuk melakukan perintah Rasulullah itu.
Kemudian Rasulullah menegaskan: "Bila maju untuk berbuat sesuatu, aku tidak akan kembali atau menarik kembali qurbanku ini. Dan bila aku tidak mempunyai binatang qurban pasti aku mengganti pakaian ihramku ini. Ayo! Kamu yang tidak memiliki binatang sembelihan, pakaian ihram segera diganti ". Kemudian mereka mematuhi petunjuk Rasulullah. 

Pada hari ke delapan Dzulhijjah yang dikenali juga sebagai hari Tarwiyah, Rasulullah ﷺ bergerak menuju Mina. Di Mina Rasulullah telah menunaikan  Dzuhur, Ashar, Maghrib, Isya' dan Shubuh. 

Rasulullah berhenti di Mina beberapa saat hingga matahari naik barulah Rasulullah berjalan menuju Arafah. 

Bersambung..

August 11, 2026

KISAH RASULULAH ﷺ Bagian 152 -

 Rasulullah Bergerak Meninggalkan Mekah Menuju ke Hunain 

Tanggal enam (6) bulan Syawal tahun kedelapan (8) Hijriah bertepatan dengan hari Sabtu, Rasulullah ﷺ pun bergerak keluar dari Mekah. 
Hari itu genap sembilan belas hari Rasulullah memasuki dan berada di Mekah. 

Rasulullah bergerak dengan kekuatan sebanyak 12.000 tentara Islam, sepuluh ribu adalah mereka yang berangkat bersama Rasulullah ketika pembukaan Mekah, selebihnya adalah penduduk Mekah, kebanyakan mereka masih baru menganut agama Islam. 
Rasulullah ﷺ telah meminjamkan seratus pasang baju besi dengan kelengkapannya. Sebagai pemegang kendali tanggung jawab Mekah, Rasulullah menunjuk Utab bin Usaiyed sebagai amirnya. 

Menjelang petang seorang prajurit berkuda telah datang menemui Rasulullah dan berkata:
“Saya telah naik ke bukit itu dan bukit ini, dan saya telah melihat qabilah Hawazin, yang telah bergerak keluar dengan seisi rumah mereka, wanita-wanitanya, unta-unta dan harta-hartanya. 

Rasulullah ﷺ tersenyum mendengar laporan itu sambil berkata: 
"Itu adalah harta rampasan untuk kaum muslimin besok".
In syaa Allah, di malam itu secara sukarela Anas bin Abi Mirthad Ghanuwi telah menawarkan dirinya untuk mengawal Rasulullah ﷺ. 

Dalam perjalanan mereka ke "Hunain" tentara Islam melihat pohon besar menghijau yang dikenal dengan sebutan "Zat Anwat". Sudah menjadi adat orang Arab menggantungkan peralatan senjata mereka di situ. 

Maka kata seorang tentara kepada Rasulullah: 
"Wahai Rasulullah, buatkan untuk kita Zat Anwat, seperti mereka juga mempunyai Zat Anwat. ” 

Jawab Rasulullah ﷺ: 
"Allahu Akbar, Maha Besar Allah, mengapa kamu berkata begitu. Demi Allah yang nyawa Muhammad di tangan-Nya, kata-katamu itu serupa dengan kata-kata kaum Musa di masa lalu. 
Jadikanlah untuk kami tuhan, sebagaimana mereka mempunyai tuhan dan Musa berkata: Sesungguhnya kamu ini kaum yang jahil, sebetulnya inilah tasyabuh, dan sebenarnya kamu akan mengikuti jalan-jalan orang yang musyrik jahiliyah terdahulu". 

Ada juga di antara mereka yang berkata congkak, setelah melihat jumlah tentara yang banyak: 
“Di hari ini kita tidak bisa dikalahkan lagi.” 
Kata-kata ini tidak disukai oleh Rasulullah ﷺ. 

Tentara Islam diserang 

Tibalah Tentara Islam di Hunain pada malam Selasa sepuluh hari terakhir bulan Syawal. Malik bin Auf telah sampai di Hunain terlebih dahulu, dia telah menyusun taktik tentaranya di lembah Hunain, dengan meletakkan kelompok penyerang di sepanjang jalan dan pintu masuk, bahkan di seluruh lereng-lereng bukit Hunain dan lorong-lorongnya, dia memberi petunjuk agar mereka memanah tentara Islam apabila mereka muncul di situ. 

Di penghujung malam Rasulullah ﷺ menyusun strategi tentaranya, Rasulullah membagi tentaranya menjadi pasukan-pasukan dan unit-unit, di awal subuh mereka berjalan menuju ke lembah Hunain. 

Ketika tentara Islam turun ke lembah, tiba-tiba mereka dihujani anak panah oleh tentara Malik yang telah lama menunggu di situ, serentak unit-unit tentara musuh menyerbu mereka, tentara Islam pun kalang-kabut mundur ke belakang lari tunggang langgang. 

Abu Sufyan berkata; "Kekalahan mereka ini tidak akan berhenti, kecuali mereka mundur hingga pesisir Laut Laut Merah. 
Dalam keadaan kelam Kabul Jibillah atau Kildah bin Junaid berteriak: "Hari ini sihir Muhammad sudah tidak mempan lagi". 

Rasulullah ﷺ mengelak ke sebelah kanan sambil berteriak: "Wahai kalian semua ayo ke sini, aku adalah Rasulullah ﷺ, aku Muhammad Ibni Abdullah". Yang tetap bersama Rasulullah dalam keadaan kritis ini hanya beberapa orang dari kaum Muhajirin dan keluarga Rasulullah.
Dalam situasi yang sangat ktitis ini muncullah keberanian Rasulullah ﷺ yang tidak ada bandingnya. Rasulullah tampil ke depan kaum kafirin dengan menyambuk keledainya sambil berteriak: 
“Aku adalah nabi yang benar, tidak berdusta, Akulah putera Abdul Muttalib” 

Abu Sufyan bin Harith kemudian memegang tali keledainya dan Abbas pun dengan kendaraannya, keduanya membantu Rasulullah ﷺ agar keledai tetap terkendali. Kemudian Rasulullah ﷺ turun dari keledai dengan tangan memohon kepada Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى sambil berdoa: 
“Ya Allah Ya Tuhanku turunkanlah pertolongan Mu”. 

Tentara Islam Maju Kembali Meneruskan Peperangan 

Rasulullah ﷺ meminta pamannya Abbas yang memiliki suara lantang untuk berteriak kepada semua para sahabat dan tentara Islam yang mundur. Kata Abbas: 
"Mana dia para sahabat setia?" 

Demi Allah, Ketika mereka mendengar teriakan itu, mereka balik ke depan bagaikan kembalinya seekor lembu yang marah.
Jawab mereka semua: "Ya Rasulullah, Ya Rasulullah”
Ada juga orang yang mencoba balik menuju Rasulullah dengan untanya, namun ontanya sudah tidak berdaya karena sesak, maka ditinggalkan saja tunggangan itu, dengan mengambil pedang, dan perisai, kemudian melesat menuju ke arah teriakan suara". 

Setelah terkumpul seratus orang, kemudian mulailah mereka maju untuk menghadapi perlawanan musuh dan terjun dalam peperangan dengan semangat bergelora.
Kemudian terdengar teriakan membahana khusus ditujukan kepada golongan Anshor, lebih khusus lagi kepada golongan Bani Harith bin Khazraj, dengan demikian kelompok-kelompok Islam mulai tampil ke medan pertempuran lagi, sampai situasi medan pertempuran pulih kembali. 
Kini kedua-dua belah pihak saling menyerang pihak lawannya. 

Rasulullah melihat ke arah medan pertempuran, nampak begitu sengit dan dasyat, masing-masing pihak ingin segera memenangkan pertempuran.
Rasulullah ﷺ bersabda: "Kini peperangan memuncak". Kemudian Rasulullah mengambil segenggam pasir dan melemparkannya ke arah musuh sambil bersabda: "Buta mata kalian". 
Dengan izin Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى setiap mata tentara musuh terkena lontaran pasir Rasulullah sehingga membuat mereka kalang kabut dan mundur. 

Kekuatan Musuh Terpecah

Tidak berapa lama, setelah Rasulullah ﷺ melemparkan pasir ke muka tentara musuh, tampaklah kekalahan mereka, dari pihak Thaqif tujuh puluh (70) orang tentara terbunuh, dengan demikian kaum muslimin memenangkan peperangan dan memperoleh harta rampasan dan peralatan senjata musuh termasuk kaum wanitanya menjadi tawanan. 

Firman Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى menyebutkan: 

لَقَدۡ نَصَرَکُمُ اللّٰہُ فِیۡ مَوَاطِنَ کَثِیۡرَۃٍ ۙ وَّ یَوۡمَ حُنَیۡنٍ ۙ اِذۡ اَعۡجَبَتۡکُمۡ کَثۡرَتُکُمۡ فَلَمۡ تُغۡنِ عَنۡکُمۡ شَیۡئًا وَّ ضَاقَتۡ عَلَیۡکُمُ الۡاَرۡضُ بِمَا رَحُبَتۡ ثُمَّ وَلَّیۡتُمۡ مُّدۡبِرِیۡنَ
Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu diwaktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah(mu), maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikit pun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari kebelakang dengan bercerai-berai.
{At-Taubah (التوبة) / 9:25}

ثُمَّ اَنۡزَلَ اللّٰہُ سَکِیۡنَتَہٗ عَلٰی رَسُوۡلِہٖ وَ عَلَی الۡمُؤۡمِنِیۡنَ وَ اَنۡزَلَ جُنُوۡدًا لَّمۡ تَرَوۡہَا وَ عَذَّبَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا ؕ وَ ذٰلِکَ جَزَآءُ الۡکٰفِرِیۡنَ

Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang yang kafir, dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir.
{At-Taubah (التوبة) / 9:26}

Pengejaran Musuh 

Sebagian musuh yang kalah melarikan diri ke Taif, kelompok lain lari ke Nakhlah, sebagian lagi lari ke Autas.
Rasulullah ﷺ segera mengirim satu unit pemburu yang dipimpin oleh Abu Amir Asya'ari, di sana terjadi pertempuran seru di antara mereka, di sekitar perkemahan mereka, akhirnya suku musyrikin harus mengakui keunggulan pasukan Islam. Akan tetapi dalam pertempuran ini Abu Amir Asya'ari harus mengalami syahid. 

Kelompok tentara Islam yang lain memburu kelompok musyrikin yang lari ke Nakhlah dan pertempuran seru terjadi secara sporadis, tentara Islam akhirnya memenangkan setiap pertempuran. 
Duraid bin Sammah akhirnya juga terbunuh, dibunuh oleh Rabiah bin Rafi'e.
Sedang kelompok yang lari ke Taif, Rasulullah sendiri yang memburunya dan di akhir pengejarannya memperoleh rampasan-rampasan perang yang sangat banyak. 

Bersambung..

August 10, 2026

KISAH RASULULAH ﷺ Bagian 151



اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّد

Periode Ketiga

periode pertama: perjuangan dan peperangan periode kedua: bangsa dan qabilah-qabilah arab berlomba-lomba masuk Islam.
Ini merupakan periode terakhir dalam perjalanan hidup Rasulullah ﷺ yang
mempertunjukkan pencapaian-pencapaian hasil usaha dakwahnya.
Setelah melalui waktu perjuangan jihad selama 20 tahun, kelelahan, kesengsaraan, peperangan dan pertarungan yang telah menumpahkan darah, semua ini telah Rasulullah ﷺ tempuh.
Pembukaan kota Mekah merupakan kemenangan yang sangat berarti yang telah dicapai oleh kaum muslimin di sepanjang tahun perjuangan mereka, suatu kemenangan yang telah mengubah peta dan urusan perjalanan hidup selanjutnya, serta merubah suasana dan kebiasaan bangsa Arab itu sendiri.
Pembukaan itu merupakan garis pemisah antara era lama dan era yang akan datang, dimana sebelumnya bangsa Arab-lah yang menjadi panutan mereka. Penundukkan kaum quraisy di bawah bendera Islam dianggap sebagai penghapusan total terhadap pengaruh 
dan penyembahan berhala di semenanjung Arab.
Periode ini dapat dibagi menjadi dua fasa:

PEPERANGAN HUNAIN

Penaklukan kota Mekah terjadi dalam waktu yang sangat singkat. Dengan satu pukulan yang menyentak, telah membingungkan seluruh bangsa Arab dan menjadikan seluruh qabilah yang berdekatan terkejut, mereka tidak berdaya untuk menghalanginya. Oleh karena itu mereka menyerah, tidak ada jalan lain selain menerima apa yang terjadi,
akan tetapi beberapa qabilah yang merasa lebih kuat, ganas dan congkak, seperti suku Hawazin dan Thaqif, dan kemudian beberapa qabilah lain juga mengikutinya, seperti, qabilah Nasr, Jasyam, Saad bin Bakar dan beberapa individu dari Bani Hilal.
Mereka ini dari kelompok Qais Ailan, qabilah-qabilah ini tidak rela menerima kemenangan Islam. Oleh karena itu, mereka bersepakat untuk bersekutu dengan Malik bin Auf Nasri dan membuat keputusan untuk melawan kaum Muslimin.
Pergerakan Musuh dan Persinggahan Autas
Malik bin Auf sebagai pembesar negerinya, memimpin pergerakan untuk memerangi kaum 
Muslimin, dia membuat keputusan dengan membawa serta semua harta-harta, kaum wanita dan anak-anak mereka.
Kemudian mereka bergerak sampai di Autas, lembah yang terletak di daerah perkampungan 
Hawazin berdekatan "Hunain". Tetapi lembah Autas bukanlah lembah Hunain, lembah 
Hunain terletak berdekatan Zi Majaz. Jarak lembah Autas ke Mekah adalah sepuluh batu lebih ke arah Arafah.

Duraid bin Sammah

Ketika Malik bin Auf turun bersama orang banyak di Autas, di antara mereka adalah Duraid bin Sammah, seorang yang usianya sudah lanjut dan buta, akan tetapi memiliki 
pengetahuan tentang peperangan, berani dan berpengalaman.
Tanya Duraid:
"Di lembah kamu sekarang?"
Jawab yang hadir:
"Kita sekarang di Autas,"
maka kata dia: "Itu adalah tempat baik untuk kuda-kuda", dia berpikir bahwa "tidak ada peristiwa yang menyedihkan dan tanah lapang tidak diserang, tetapi apa itu? aku mendengar suara-suara unta dan teriakan keledai, bahkan kedengaran tangisan anak-anak 
dan suara kambing"
Jawab mereka: "Sebenarnya Malik bin Auf telah mengerahkan habis-habisan, bersama-sama prajurit adalah kaum wanita, harta-harta dan anak-anak mereka,"
kemudian dia menemui Malik bin Auf dan menanyakan kenapa semua dibawa.
Jawab Malik: "Aku akan menempatkan semua ini di belakang agar setiap tentara tetap bersemangat untuk mempertahankan haknya".
Kata Duraid: "Demi Allah, ini adalah tindakan seorang penggembala kambing, bukan 
tindakan seorang pemimpin bangsa. Apakah orang kalah dapat membawa pulang sesuatu?
Walaupun semuanya itu milik kau, tetapi tidak memberi faedah apa pun kepada seorang pahlawan selain dari pedang dan tombaknya. Seandai kau kalah berarti kau telah berbuat sia-sia terhadap keluargamu dan hartamu".
Kemudian dia bertanya kepada qabilah-qabilah lain dan pemimpin-pemimpinnya.
Dan katanya lagi: "Wahai Malik bin Auf, sebenarnya kau belum menyediakan perisai "Huwazin" ke leher-leher kuda-kuda mereka, Ayo letakkan mereka di dalam benteng-benteng negara mereka, kemudian majulah menghadapi pengikut Muhammad itu dengan kudamu, bila kemenangan berpihak kepadamu maka orang-orangmu akan mengikuti di belakangmu, tapi seandainya kau kalah maka keluargamu dan hartamu masih selamat".
Namun Malik bin Auf enggan mengikuti permintaan Duraid bin Sammah dengan 
menegaskan: "Demi Allah aku tidak akan lakukan, kau sudah lanjut usia, pemikiranmu pun 
sudah seperti anak-anak. Demi Allah, Hawazin mesti mengikuti perintahku, atau aku tusukkan pedangku ini ke perutmu hingga keluar dari belakangmu".
Sebenarnya Malik bin Auf tidak suka Duraid memainkan peranan, yang kelak akan disanjung namanya.
Maka jawab seluruh Hawazin: "Ya kami semua mengikut arahanmu".
Sekali lagi Duraid berkata: "Inilah hari yang belum pernah aku saksikan, sepertinya, aku tidak 
mau melepas peluang untuk melihat kesudahannya".
Kemudian dia bersyair:
Seandainya aku masih muda
Di medan perang aku maju
Medan pertempuran aku bakar
Tentara aku pimpin
Air mata aku usap
Kini peperangan bagaikan binatang
Ke ruang penyembelihan dituntun

Pengintai Malik bin Auf

Beberapa orang pengintai yang dikirim oleh Malik bin Auf datang kembali kepadanya memberi laporan dalam keadaan suara menggeletar.
Kata Malik bin Auf: "Apa ceritanya?"
Jawab mereka; "Kami dapati tentara serba putih di atas belakang kuda-kuda merah dan putih, kami ketakutan dan inilah laporan kami".

Pengintai Rasulullah ﷺ

Rasulullah telah mendapat pemberitahuan tentang pergerakan musuh, sebagai tindakan maka Rasulullah mengutus Abi Hadad Aslami, agar dia menyusup masuk ke tengah-tengah musuh dan tinggal di sana untuk mendapatkan informasi lengkap mengenai mereka. Abu Hadad pun berangkat.


Bersambung

August 09, 2026

KISAH RASULULLAH ﷺ Bagian 150



اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّد

Hari Kedua Pembukaan Mekah

Pada keesokan hari Rasulullah ﷺ tampil kembali di depan masyarakat Quraisy di Mekah, setelah memuji dan bertahmid kepada Allah ﷻ Rasulullah bersabda:
"Wahai manusia sekalian, sesungguhnya Allah ﷻ telah mengharamkan bumi Mekah sejak langit dan bumi ini diciptakan, maka Mekah menjadi haram. Pengharaman 
Allah itu, sampai dengan tiba hari qiamat. Tidak halal orang yang beriman kepada Allah dan 
hari akhir, menumpahkan darah, atau menebang pohon”.
Kemudian apabila ada orang yang mempermasalahkan peperangan yang dilakukan oleh 
Rasulullah di Mekah, maka jawab kepada mereka:
“Sebenarnya Allah ﷻ telah mengizinkan kepada Rasulnya saja dan tidak kepada yang lainnya, itu pun hanya untuk saat tertentu saja, nah kini pengharaman berlaku kembali seperti pada hari kemarin, oleh karena itu kepada semua yang hadir di antara kamu berkewajiban menyampaikan perihal ini kepada yang tidak hadir".
Dalam riwayat lain disebutkan:
“Tidak mematahkan durinya, tidak membuang buruannya, tidak mengambil barang yang tercecer kecuali orang yang mengenalinya, dan tanah lapangnya tidak bisa untuk buang air (air kecil atau air besar).”
Abbas menyela:
"Wahai Rasulullah kecuali batang Izkhir, karena itu untuk hamba-hamba dan rumah mereka".
Jawab Rasulullah:
"Ya kecuali batang Izkhir".
Peristiwa sebelumnya, Khuza'ah telah membunuh seorang lelaki dari Bani Laith untuk membalas dendam atas pembunuhan seorang anggota qabilah mereka. Sehubungan 
dengan perkara ini maka,
Rasulullah bersabda:
"Wahai kalian Khuza'ah, hindarkan tanganmu dari pembunuhan, sebenarnya pembunuhan terlalu banyak, walaupun itu bisa memberi manfaat.
Sebelumnya kamu telah membunuh mangsa kamu dan kini biarlah aku yang membayar ganti rugi (pampasan)nya, akan tetapi siapa pun yang membunuh setelah pemberitahuanku ini, maka keluarganya harus memilih di antara dua pilihan, bila mereka mau darah maka darah pembunuhan, atau bila mereka mau tebusan ganti rugi maka pampasanlah yang harus dibayar".
Dalam riwayat lain;
Maka berdirilah seorang berketurunan Yaman yang dikenali sebagai Abu Syah menyeru:
"Wahai Rasulullah! Tuliskanlah itu untukku",
maka kata Rasulullah: "Ayo tuliskanlah untuk Abu Syah".

Kecurigaan Kaum Anshor

Setelah selesai semua urusan mengenai pembukaan Mekah yang merupakan tanah air dan tanah tumpah darah Rasulullah, maka beberapa orang Anshor mencurigai sesuatu, dan mereka berbisik-bisik di antara mereka:
"Apakah engkau berpendapat, bahwa setelah membantu Rasulullah hingga kembali di tanah 
airnya ini, akankah Rasulullah kemudian menetap di sini?".
Pada saat itu Rasulullah ﷺ sedang menadah tangannya, berdoa di atas bukit Safa', setelah selesai dari doanya itu kemudian Rasulullah bertanya:
"Apa yang kamu bicarakan tadi?".
Jawab mereka:
"Tidak ada apa-apa, wahai Rasulullah".
Rasulullah ﷺ kemudian mendesak, mengenai apa yang mereka bisikkan itu, sampai kemudian mereka bercerita yang sebenarnya, maka Rasulullah menegaskan:
"Aku berlindung kepada Allah ﷻ, sebenarnya penghidupanku adalah di penghidupanmu dan kematianku adalah di persada kematianmu".

Baiat

Setelah selesai pembukaan Mekah, berkat pertolongan Allah ﷻ, maka tampaklah kebenaran Islam di mata penduduk Mekah dan mereka sudah memastikan, bahwa tidak ada jalan lain menuju kejayaan kecuali dengan Islam, karenanya mereka semua tunduk dan 
patuh kepada ajaran-ajaran Islam, mereka semua berkumpul untuk membuat pengakuan taat dan setia dalam baiat.
Rasulullah ﷺ duduk di Bukit Safa dengan semua yang hadir sedang Umar Ibnu Khattab di samping agak ke bawah dari Rasulullah memperhatikan siapa pun yang hadir di situ, semua yang datang membuat baiat dengan Rasulullah.
Di dalam kitab "Madarik Tafizil" disebutkan:
Diriwayatkan bahwa setelah Rasulullah ﷺ selesai menerima baiat kaum lelaki, Rasulullah meneruskan baiat untuk kaum wanita.
Rasulullah ﷺ duduk di bukit Safa' sedang Umar bin Khattab duduk di samping Rasulullah membaiat mereka dengan perintah Rasulullah, juga menyampaikan kepada mereka segala sesuatu dari Rasulullah.
Hindun bin Utbah, isteri Abu Sufyan pun datang ke hadapan Rasulullah dengan cara menyamar diri, karena takut Rasulullah akan mengenali dia, karena Hindun bin Utbah masih ingat tindakan kejamnya terhadap Hamzah.
Maka Rasulullah ﷺ berkata:
"Aku membaiatmu untuk tidak mensyirikkan Allah dengan sesuatu pun". Tugas ini dilakukan 
oleh Umar, dan kata Rasulullah:
"Dan jangan kamu mencuri".
Maka jawab Hindun:
"Sebenarnya Abu Sufyan seorang yang bakhil, bila aku ambil sedikit hartanya dia tidak suka",
menyahut Abu Sufyan: "Apa yang engkau ambil itu halal".
Lalu Rasulullah ﷺ pun tersenyum karena Rasulullah telah mengenali dia, katanya: "Engkau 
Hindun?".
"Ya wahai Rasulullah".
Katanya lagi: "Maafkanlah aku wahai nabi Allah",
maka Rasulullah ﷺ pun memaafkan dia. Kata Rasulullah:
"Dan tidak berzina".
Kata Hindun: "Apakah seorang wanita yang merdeka wajar berzina?".
Jawab Rasulullah: "Dan tidak sekali-kali membunuh anak-anak mereka".
Kata Hindun pula:
"Kami yang memeliharakan mereka sejak kecil lagi, dan Engkaulah yang membunuh mereka setelah dewasa, dan merekalah yang lebih mengetahui hal ini".
Karena anaknya, Hanzalah bin Abi Sufyan telah terbunuh dalam peperangan Badar, Umar ketawa hingga dia terduduk, sedang Rasulullah tersenyum saja.
Kata Rasulullah lagi: "Dan tidak juga melakukan perkara-perkara maksiat".
Jawab Hindun: "Demi Allah kerja maksiat itu suatu yang bodoh dan jelek, sebetulnya apa 
yang Rasulullah sampaikan itu adalah perintah yang wajar untuk menjadikan akhlak-akhlak 
mulia".
Selanjutnya kata Rasulullah ﷺ :
"Dan sekali-kali tidak membantah untuk kerja-kerja makruf (kebaikan)".
Kata Hindun: "Demi Allah kami menghadiri majlis dan di dalam hati kami tidak ada sedikit pun rasa durhaka".
Ketika dia pulang ke rumahnya kemudian dia memecahkan berhala-halanya sambil berkata:
"Kami tertipu oleh engkau".


Bersambung

August 08, 2026

KISAH RASULULLAH ﷺ Bagian 149




اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّد

Hari Pertama Pembukaan Mekah

Penghalalan darah beberapa penjahat

Rasulullah menghalalkan darah sembilan orang pelaku kejahatan Mekah, Rasulullah 
memerintahkan agar supaya kesembilan penjahat Mekah dibunuh, walaupun mereka terikat pada tirai Ka’bah, mereka ialah:
~ Abd al-Uzza bin Khatal,
~ Abdullah Ibni Abi Surah,
~ Ikrimah bin Abi Jahal,
~ Al-Harith bin Nufail bin Wahab,
~ Muqis bin Sababah,
~ Habbar bin Aswad,
~ dua penyanyi wanita milik Ibn Khatal, keduanya ini sering mencaci Rasulullah melalui nyanyian mereka, dan
~ Sarah hamba perempuan milik seorang Bani Abdul Muttalib, dia yang membawa risalah 
dari Hatib bin Abi Baltaah.

Ada pun Ibni Abi Surah, telah dibawa oleh Utsman ke hadapan Rasulullah, dia menjadi orang 
yang dekat dengan Rasulullah, karenanya ia terhindar dari ancaman pembunuhan, malah Rasul telah menerima pengakuan Islamnya,
sebelumnya Rasulullah ﷺ menangguhkan untuk menerimanya, dengan harapan akan ada orang di kalangan sahabat yang bertindak membunuhnya, karena dia sebelumnya sudah 
memeluk Islam dan ikut berhijrah kemudian dia murtad dan lari pulang ke Mekah.

Ikrimah bin Abi Jahal telah melarikan diri ke negeri Yaman, namun isterinya telah berusaha mendapatkan perlindungan, maka Rasulullah pun memberi jaminannya, dengan itu dia telah berusaha untuk mendapatkan kembali suaminya yang lari. Setelah bertemu, dia turut pulang ke Mekah dan memeluk Islam.
Ketika Ibni Khatal ditemui, sedang terikat di tirai Ka’bah, setelah dilaporkan kepada Rasulullah, maka Rasulullah berkata: "Bunuh saja". Maka Ibni Khatal pun dibunuh.
Ada pun Muqais bin Sababah telah dibunuh oleh Namilah bin Abdullah, Muqais sebelumnya telah memeluk Islam, tiba-tiba terjadi peristiwa, Muqais menyerang seorang lelaki Anshor menyebabkan terbunuhnya lelaki Anshor, kemudian dia murtad dan lari menyertai kaum 
musyrikin ke Mekah.
Al-Harith merupakan orang yang paling menyakiti Rasulullah ketika di Mekah. Dia telah dibunuh oleh Ali bin Abi Talib.
Habbar bin al-Aswad adalah orang yang mengganggu Zainab binti Rasulullah ketika akan berhijrah, dan menyebabkan Zainab terjatuh sehingga terjadi keguguran, namun dia telah lari dari Mekah, kemudian memeluk Islam dan menjadi orang baik.
Seorang dari dua penyanyi telah dibunuh, sedang yang kedua telah diberi jaminan keselamatan, karena dia memeluk Islam, sebagaimana terjadi kepada Sarah yang juga ikut memeluk Islam.
Kata ibnu Hajar:
Abu Ma'syar telah menyebut tentang mereka yang telah dideklarasikan darahnya halal, 
mereka ialah al-Harith bin Talatil al-Khuzai'e, dia telah dibunuh oleh Ali.
Al-Hakim menyebut bahwa di antara mereka yang dihalalkan darahnya ialah Kaab Zuhair, 
cerita tentang dia, akhirnya dia memeluk Islam dan bersyair memuji Rasulullah.
Ada pun perihal Wahsyi bin Harb dan Hind binti Utbah berakhir dengan memeluk Islam, 
sedang Arnab hamba perempuan Ibnu Khatal telah terbunuh, juga Ummu Saad sebagaimana yang diceritakan oleh Ibnu Ishak, dengan itu maka genaplah jumlah mereka 
yang dibunuh, ketika pembukaan Mekah.

Safwan bin Umaiyah dan Fudhalah bin Umar memeluk Islam

Safwan bin Umaiyah tidak termasuk di antara tokoh yang dihalalkan darahnya, namun sifatnya sebagai pemimpin besar di dalam masyarakat, membawa dia mengkhawatirkan 
keselamatan dirinya sendiri, karena itu dia melarikan diri, dan dimintakan jaminan 
keamanan dari Rasulullah ﷺ oleh Umair bin Wahab al-Jumahi. Rasulullah pun menerima. 
Sebagai tanda atas permintaan Umair itu, Rasulullah memberikan surbannya yang dipakai.

Ketika memasuki kota Mekah, Amir pun segera mendapatkan Safwan yang akan menaiki kapal layar menuju ke negeri Yaman. Amir cepat-cepat menangkap Safwan, dan memberi tahu kepadanya bahwa dia telah meminta kepada Rasulullah untuk memberi waktu kepada Safwan selama dua bulan, sebelum diputuskan, akan tetapi Rasulullah telah menjawab dengan sabdanya:
"Aku beri empat bulan".
Maka dengan itu Safwan pun memeluk Islam. Sebenarnya isterinya sudah memeluk Islam 
terlebih dahulu dari dia, dan Rasulullah telah mengakui dengan akad pertama mereka dahulu.
Fudhalah adalah seorang pejuang yang berani, dia telah datang menghampiri Rasulullah ketika sedang berthawaf dengan tujuan untuk membunuh Rasulullah.
Akan tetapi ketika Rasulullah ﷺ berseiringan dengan Fudhalah, memberi tahu dia tentang 
rencana jahatnya yang terpendam di dalam hatinya, sehingga dia memeluk Islam.


Bersambung

August 07, 2026

KISAH RASULULLAH ﷺ Bagian 148



اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمد0

Ibrahim Wafat

Setelah gembira karena meraih kemenangan dari Romawi dan orang-orang munafik, kembali kesedihan menimpa Rasulullah ﷺ. Khadijah melahirkan dua orang anak laki-laki bagi Rasulullah ﷺ, yaitu Qosim dan Thahir, namun keduanya meninggal dunia ketika masih bayi di pangkuan ibunya. Setelah Khadijah wafat, berturut-turut ketiga putri Rasulullah ﷺ meninggal dunia hingga yang masih hidup hanya Fatimah Az-Zahra. Karena itu dapat dipahami betapa besar rasa sayang Rasulullah ﷺ kepada Ibrahim, anaknya yang lahir dari rahim Mariah binti Syama'un.

Akan tetapi kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Ibrahim si bayi mungil jatuh sakit yang mengkhawatirkan. Tatkala ajal Ibrahim sudah dekat, barulah Rasulullah ﷺ diberitahu. Karena begitu sedihnya Rasulullah ﷺ sehingga beliau berjalan dengan bertumpu pada tangan Abdurrahman bin Auf.

Rasulullah ﷺ  mengambil bayi itu dari pangkuan ibunya ke dalam pelukannya. Hati beliau remuk redam, dan tangannya menggigil saat memeluk Ibrahim dengan rasa pilu yang mencekam sanubari. Rasulullah ﷺ berkata,

"Ibrahim... kami tidak dapat menolongmu dari kehendak Allah ﷻ."

Air mata Rasulullah ﷺ mengalir melihat bayinya sedang menarik napas terakhir. Mariah dan adiknya Shirin menangis menjerit-jerit. Namun Rasulullah ﷺ membiarkan mereka begitu. Setelah itu tubuh Ibrahim tidak bergerak lagi, nyawanya telah kembali kepada Allah ﷻ dalam usia 19 bulan. Rasulullah ﷺ bersabda,

"Oh Ibrahim... kalau bukan karena soal kenyataan dan janji yang tidak dapat dibantah lagi bahwa kami akan segera menyusul orang yang mendahului kami, tentu kesedihan kami akan lebih dalam lagi daripada ini."

Rasulullah ﷺ diam sejenak kemudian bersabda lagi,

"Air mata boleh bercucuran, hati dapat merasa duka tapi kami hanya dapat berkata apa yang telah menjadi kehendak Allah ﷻ dan bahwa kami sungguh sedih terhadapmu wahai Ibrahim."

Beliau memandang Mariah dan Shirin dengan penuh kasih. Beliau meminta keduanya lebih tenang, lalu berkata,

"Ia akan mendapatkan inang pengasuh dari surga."

Meskipun begitu air mata Rasulullah ﷺ mengalir deras di pipi, atas wafatnya putra satu-satunya, Ibrahim. Disekanya air mata itu berkali-kali sehingga wajahnya tampak tegar, tetapi matanya berkata bahwa Rasulullah ﷺ pun manusia biasa. Usai Ibrahim dimakamkan di Baqi' bersebelahan dengan makam Utsman Ibn Mazh’um, seorang cendikiawan Arab pada zaman jahiliyah dan pahlawan perang Badar. Rasulullah ﷺ dengan tangannya sendiri meratakan kuburan putranya itu, tanpa gundukan tanah.

“Rasulullah ﷺ memerintahkan kami meratakan kuburan,” kata Fadhalah.

Kemudian Rasulullah ﷺ memercikan air, menaburkan tanah dengan dua tangan, meletakkan pasir, dan memberi kuburan itu tanda dari batu. Rasulullah ﷺ bermaksud memberikan bimbingan pada para sahabat, beliau bersabda, ”Tanda memang tidak mendatangkan manfaat juga mudharat. Tapi, tanda dapat menyejukkan mata yang hidup. Lagi pula, bila seorang hamba mengerjakan sesuatu, Allah ﷻ senang bila hamba tersebut menyempurnakannya.”

Penguburan Ibrahim di Baqi' menarik perhatian khusus bagi para sahabat. Mereka mulai menebangi pohon-pohon liar, lalu merapikan Baqi' hingga terlihat rapi. Memberi jarak antar-pemakaman. Tiap kabilah mulai membuat lokasi makam sendiri-sendiri, sehingga dengan begitu tiap orang yang meninggal dapat dikenali kuburannya.

Rasulullah ﷺ melarang membangun masjid di atas kuburan, atau menguburkan orang di dalam masjid. Rasulullah ﷺ pun melarang meninggikan makam, mendirikan bangunan di atasnya. Rasulullah ﷺ tidak memperindah setiap kuburan, tapi beliau merawat Baqi', dan beberapa kali menziarahi Baqi', dan mendoakan para ahli kubur di samping kuburan mereka. Setelah itu Baqi' pun dijadikan tempat pemakaman umum kaum muslimin.

Setelah Rasulullah ﷺ wafat, Mariah hidup menyendiri dan menujukan hidupnya hanya untuk beribadah kepada Allah ﷻ. Mariah dibiayai oleh Abu Bakar kemudian Umar bin Khattab. Mariah wafat lima tahun setelah wafatnya Rasulullah ﷺ, yaitu pada tahun ke-46 Hijrah, pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab. Khalifah sendiri yang menyalati jenazah  Mariah al-Qibtiyah, kemudian dikebumikan di Baqi’.

Gerhana Matahari

Pada saat Ibrahim wafat terjadilah gerhana matahari (kusuufusy syamsi) ketika posisi bulan terletak di antara bumi dan matahari sehingga terlihat menutup sebagian atau seluruh cahaya matahari di langit bumi. Gerhana matahari total merupakan peristiwa yang luar biasa bagi masyarakat Arab pada saat itu. Cahaya matahari lama kelamaan menghilang, suasana pun menjadi gelap. Meskipun terjadi pada siang hari, bintang-bintang di langit bisa terlihat dengan jelas.

Kegemparan pun terjadi di kalangan masyarakat Madinah, belum ada seorang pun yang pernah melihat fenomena alam ini, ataupun pernah mendengar mengenai hal  itu dari nenek moyang mereka. Baik kaum muslimin maupun kaum musyrikin saling berbisik satu sama lain, "Malapetaka besar pasti sedang menimpa dunia hari ini, manusia yang paling dicintai Tuhan meninggal dunia hari ini. Kalau tidak mengapa Tuhan harus mendatangkan peristiwa luar biasa ini?"

Seorang lelaki bergabung ke tengah kerumunan dan berkata, "Tidak tahukah kalian bahwa putra Muhammad yang bernama Ibrahim wafat hari ini?" Kerumunan orang-orang itu hampir sepakat berseru, "Itu dia sebabnya!" Akhirnya mereka sampai pada kesimpulan bahwa gerhana luar biasa itu terjadi karena meninggalnya Ibrahim putra Rasulullah ﷺ.  Bahkan salah seorang dari mereka menyatakan, "Aku tahu sejak awal bahwa Muhammad bukan orang biasa. Seandainya beliau bukan Nabi, niscaya Allah ﷻ  tidak akan menyebabkan peristiwa aneh ini terjadi saat ia kehilangan putra kesayangannya." Sahabat-sahabatnya menyatakan bahwa mereka juga menyadari akan hal itu. Akhirnya desas-desus itu sampai kepada Rasulullah ﷺ.

Bangsa Arab saat itu masih memiliki banyak musuh. Di antara musuh-musuh yang masih kafir itu merasakan kegelisahan yang mendalam dengan adanya  gerhana yang mengancam dan mereka cenderung untuk mencari perlindungan kepada Rasulullah ﷺ.  Seandainya Rasulullah ﷺ mau memanfaatkan ketakutan mereka, niscaya beliau akan meraih kemenangan dan kekuasaan, bahkan mungkin musuh-musuh bebuyutan beliau sekalipun, akan tunduk dan memeluk Islam. Namun Rasulullah ﷺ tidak pernah berpikir untuk memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan itu. Sebaliknya beliau merasa sangat prihatin melihat  khurafat dan tahayul yang diyakini oleh umatnya.

Beliau pun menghampiri kerumunan orang di jalan maupun di pasar. Mereka segera memenuhi panggilan beliau. Terdengar beliau bersabda, "Matahari dan bulan adalah tanda-tanda kebesaran Allah ﷻ, dengan perintahNya keduanya terbit dan terbenam. Gerhana tidak terjadi untuk menandakan kelahiran atau kematian seseorang. Bila kalian melihat peristiwa seperti ini, berlindunglah dan berdzikirlah kepada Allah ﷻ dengan melakukan shalat."

Hajj Wada

Tugas dakwah Rasulullah ﷺ sudah mendekati penghujung selesai, penyampaian risalah pun telah dilaksanakan, penegakan sebuah syariat baru yang berasaskan konsep uluhiyah ketuhanan yang satu hanya kepada Allah ﷻ dan tidak ada Tuhan selain Allah ﷻ berdasarkan risalah Muhammad ﷺ telah menjadi kenyataan.

Rasulullah ﷺ seakan-akan telah mendengar panggilan dari dalam hatinya yang memberitahu bahwa persinggahan Rasulullah ﷺ di dunia sudah sampai pada waktu yang ditetapkan.

Hal ini terlihat ketika Rasulullah ﷺ mengutus Muaz bin Jabal ke Yaman sebagai gubernur pada tahun 10 Hijriyah. Rasulullah ﷺ bersabda kepada Muaz, "Wahai Muaz... sebenarnya engkau mungkin tidak akan bertemu aku lagi setelah tahun ini, dan semoga kau akan melalui masjidku dan kuburku."

Muaz menangis tersedu-sedu karena akan berpisah dengan Rasulullah ﷺ.

Dengan izin Allah ﷻ, Rasulullah ﷺ berkesempatan melihat hasil kerja dakwahnya setelah mengalami berbagai kepahitan dan kesusahan selama lebih dari 20 tahun. Di ujung bandar Mekah, Rasulullah ﷺ berkumpul bersama dengan para perwakilan kabilah Arab, menyampaikan pada mereka syariat-syariat dan hukum-hukum Islam. Rasulullah ﷺ minta persaksian mereka bahwa dia telah melaksanakan amanah dan tugas-tugasnya, menyampaikan risalah dan bertanggung jawab menasehati seluruh umat.

Pada hari itu Rasulullah ﷺ mendeklarasikan keinginan beliau untuk menunaikan ibadah haji yang terakhir (haji perpisahan). Maka berduyun-duyunlah umatnya mengunjungi Madinah, mereka semua ingin menyertai dan mengikuti Rasulullah ﷺ dalam ibadah hajinya.

Pada hari Sabtu tanggal 27 atau empat hari terakhir bulan Dzulkaidah, Rasulullah ﷺ mempersiapkan dirinya, memakai minyak rambut lalu menyisirnya, mengenakan pakaian berikut syalnya, dan menyandang senjata serta siap dengan unta tunggangannya bernama Quswa'.

Setelah shalat dzuhur, Rasulullah ﷺ memulai safarnya, ketika tiba di Zul Hulaifah menjelang masuk waktu shalat ashar, Rasulullah ﷺ berhenti untuk menunaikan shalat dan bermalam di sana.

Keesokan harinya setelah shalat subuh, Rasulullah ﷺ memberitahukan kepada para sahabat yang hadir, "Tadi malam aku telah mendapat pemberitahuan dari Allah ﷻ: "Shalat lah kamu di lembah yang penuh berkah ini dan niatkanlah wahai Muhammad umrah dikerjakan bersama-sama haji."

Sebelum Rasulullah ﷺ menunaikan shalat dzuhur pada hari itu, terlebih dahulu beliau bersuci dan mengenakan pakaian ihram, kemudian Aisyah menyapukan minyak wangi pada badan dan kepala Rasulullah ﷺ hingga nampak berkilauan lalu minyak kasturi di rambut dan janggut beliau.

Setelah selesai shalat dzuhur, Rasulullah ﷺ bertahlil di tempat shalatnya untuk memulai ibadah haji dan umrah sebagai haji qiran. Setelah itu Rasulullah ﷺ bertahlil lagi sesaat sebelum untanya bergerak. Rasulullah ﷺ meneruskan perjalanan suci ini hingga hampir memasuki Mekah dan bermalam di sana.

Keesokan harinya setelah shalat subuh, Rasulullah ﷺ memasuki kota Mekah pada pagi hari Ahad 4 Dhulhijjah 10 Hijriyah. Selama 8 malam Rasulullah ﷺ menghabiskan waktu perjalanan yang sederhana itu. Ketika Rasulullah ﷺ memasuki Masjidil Haram tetap berpakaian ihram lalu thawaf berkeliling Ka'bah dan sa'i antara Safa dan Marwah, karena beliau dalam mengerjakan haji kali ini secara qiran dan lengkap dengan hewan qurbannya.

Rasulullah ﷺ menyuruh para sahabat yang tidak memiliki hewan qurban agar menjadikan ihram mereka sebagai umrah, dengan berthawaf keliling Ka'bah dan bersa'i antara Safa dan Marwah lalu mengganti pakaian ihram dengan pakaian biasa. Tetapi para sahabat ragu-ragu untuk melakukan perintah Rasulullah ﷺ itu.

Kemudian Rasulullah ﷺ menegaskan: "Bila maju untuk berbuat sesuatu, aku tidak akan kembali atau menarik kembali qurbanku ini. Dan bila aku tidak mempunyai hewan qurban pasti aku mengganti pakaian ihramku ini. Ayo! Kamu yang tidak memiliki hewan qurban, pakaian ihram segera diganti!"

Kemudian para sahabat mengikuti petunjuk Rasulullah ﷺ.

Pada hari ke-delapan Dzulhijjah yang dikenal juga sebagai hari Tarwiyah, Rasulullah ﷺ bergerak menuju Mina. Di sini Rasulullah ﷺ menunaikan shalat dzuhur, ashar, maghrib, isya dan subuh. Setelah matahari naik barulah Rasulullah ﷺ berjalan menuju Arafah.

Bersambung...