adsense

May 30, 2026

KISAH RASULULLAH ﷺ Bagian 79



اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمد


Serangan Umum


Perang tanding tersebut merupakan permulaan yang buruk bagi kaum musyrikin.

Mereka kehilangan tiga Pemimpin sekaligus.

Maka meluaplah kemarahan mereka, kemudian menyerang kaum muslimin secara serentak.

Adapun kaum muslimin setelah meminta pertolongan kepada Rabb mereka, mengikhlaskan niat kepada-Nya dan merendahkan diri kepada-Nya, mereka menerima serangan dari kaum musyrikin secara bertubi-tubi, dengan sikap bertahan.

Tetapi mereka berhasil memberikan banyak kerugian kepada kaum musyrikin.

Mereka meneriakkan kata-kata "Ahad, ahad."

Rasulullah memohon pertolongan kepada Rabbnya

Rasulullah ﷺ sendiri sekembalinya dari mengatur barisan, beliau memohon kepada Rabbnya pertolongan yang telah dijanjikan-Nya.

Beliau berkata

"Wahai Allah, tunaikanlah apa yang telah Engkau janjikan kepada aku.

Wahai Allah Sesungguhnya aku memohon janji-Mu,"

Ketika perang berkecamuk, dia berdoa

"Ya Allah, kalau pasukan (kaum muslimin) ini sampai binasa hari ini, engkau tidak akan di sembah lagi (oleh manusia)

Wahai Allah, jika engkau menghendaki, engkau tidak di sembah lagi setelah ini."

Beliau bersungguh-sungguh dalam memohon, sehingga kain selendangnya jatuh dari pundaknya.

Kain itu kemudian disampirkan kembali oleh Abu Bakar As Siddiq ke pundak beliau seraya berkata,

"Wahai Rasulullah, cukuplah permohonanmu kepada Rabbmu."

Kemudian Allah wahyukan kepada para malaikat-nya

إِذْ يُوحِي رَبُّكَ إِلَى الْمَلَائِكَةِ أَنِّي مَعَكُمْ فَثَبِّتُوا الَّذِينَ آمَنُوا ۚ سَأُلْقِي فِي قُلُوبِ الَّذِينَ كَفَرُوا الرُّعْبَ فَاضْرِبُوا فَوْقَ الْأَعْنَاقِ وَاضْرِبُوا مِنْهُمْ كُلَّ بَنَانٍ

(Ingatlah), ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat :

Sesungguhnya Aku bersama kamu,

Maka teguhkan (pendirian) orang-orang yang telah beriman.

Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka.

Surah Al-Anfal (8:12)

Lalu Allah mewahyukan kepada Nabi-Nya, secara silih berganti, tidak sekaligus.

Jumat 17 Ramadhan

Seorang pemuka Quraisy bernama Utbah bin Rabi'ah tiba-tiba berpendapat bahwa berperang sekarang tidak ada gunanya.

Abu Jahal kembali mengamuk.

Ia yang menjuluki Utbah sebagai penakut.

Pertengkaran itu terlihat dari jauh oleh Rasulullah ﷺ dan pasukannya.

Perlahan keyakinan mereka akan pertolongan Allah semakin kuat.

Pendapat Utbah dibicarakan secara kilat oleh para pemuka Quraisy.

Merasa malu jika mundur setelah berhadapan, para pemimpin Quraisy memutuskan untuk maju bertempur.

Apalagi saat itu pasukan Quraisy jauh lebih banyak dengan persenjataan yang jauh lebih kuat.

Seorang penulis sejarah menyebutkan bahwa saat itu, datanglah iblis yang menyerupai wajah Suraqah bin Malik, pemimpin Bani Mudlij,  bersama puluhan anak buahnya.

Iblis berkata kepada para pemuka Quraisy,

"Jangan takut memerangi Muhammad dan para sahabatnya.

Kalau kamu kalah kami akan membantumu dari arah belakang !"

Tiba-tiba Malaikat Jibril turun dan mendatangi iblis dengan cepat.

Seketika itu juga Suraqah gadungan dan anak buahnya melarikan diri.

Seorang Quraisy berteriak heran,

"Hendak kemana engkau, hai Suraqah ?

Bukankah engkau tadi hendak membela kami ?"

"Mengapa engkau sekarang hendak pergi dari sini ?"

"Sudahlah," jawab iblis gusar,

"Aku melihat sesuatu yang tidak kau lihat !"

Setelah itu kedua pasukan pun saling berhadapan.

Hari itu hari Jumat tanggal 17 Ramadhan.

Rasulullah bersabda,

"Demi Dia yang memegang hidup Muhammad.

Setiap orang yang sekarang bertempur dengan tabah, bertahan mati-matian, terus maju dan pantang mundur, lalu ia gugur, dan Allah akan menempatkannya di dalam surga."

Semangat pasukan pun melambung kekuatan iman yang diberikan Allah melebihi kekuatan apa pun.

Walaupun demikian, beberapa orang pahlawan Quraisy menunjukkan keberanian mereka.

Geram akibat tidak mendapatkan air,  karena sumur-sumur yang ada telah ditutup oleh kaum muslimin, seorang pahlawan Quraisy bernama Aswad bin Abdul Asad Al makhzumi keluar dari barisan seraya berucap,

"Aku bersumpah demi nama Tuhan.

Akan ku rusak kolam-kolam mereka !

Jika tidak dapat melakukannya, lebih baik aku mati !"

Dengan tangkas Aswad berlari ke kolam kaum muslimin.

Bilal

Di dalam pertempuran sengit itu banyak sekali sesama saudara sedarah harus saling berhadapan.

Beberapa orang pasukan muslim menahan pedangnya agar tidak mengenai saudara-saudara mereka dari pihak Quraisy.

Namun beberapa pahlawan yang imannya telah begitu kuat tidak lagi peduli dengan siapa mereka berhadapan.

Mereka menyadari, apabila mereka baru melepaskan kesempatan untuk merobohkan musuh di hadapannya.

Musuh itu bisa membunuh tentara Islam yang lain.

Padahal, saudara Muslim itulah yang seharusnya mereka bela melebihi saudara sedarah.

Umar Bin Khattab berhadapan dengan pamannya sendiri dan berhasil membunuhnya.

Ali Bin Abi Thalib berhasil membunuh beberapa orang saudaranya.

Abu Ubaidah bin Jarrah berhadapan dengan ayahnya.

Abu Ubaidah mencoba mengingatkan agar ayahnya pergi menjauh, tapi sang ayah malah berdiri menghadangnya dengan pedang terhunus.

Mereka kemudian bertarung dan Abu Ubaidah berhasil mengalahkan ayahnya sendiri.

Bilal bin Rabah menemukan bekas majikannya Umayyah bin Khalaf yang dahulu pernah menyiksanya habis-habisan.

Bilal mendekat dengan cepat.

Melihat mata Bilal yang menatapnya dengan sangat tajam, Umayyah ketakutan.

Kemudian, ia meminta perlindungan seorang sahabat Rasulullah ﷺ. Abdurrahman bin Auf.

Di Mekah dulu Abdurrahman adalah sahabat baik Umayyah.¥Abdurrahman pun melindungi Umayyah dan hendak menjadikannya tawanan perang yang sudah menyerah._Namun, Bilal memprotes sambil berteriak,

"Saudara-saudara muslim !ini dia Umayyah bin khalaf, si Gembong kekafiran !"

Orang-orang yang dahulu pernah disiksa Umayyah berlari mendekat. Mereka  memprotes tindakan Abdurrahman bin Auf.

"Tidak akan selamat aku jika Umayyah masih hidup!" demikian tekad kuat Bilal.

Akhirnya, Umayyah menerima tantangan Bilal untuk berduel,

Keduanya bertarung dengan pedang terhunus.

Bilal berhasil menusukkan pedangnya ke celah baju besi Umayyah dan mengalahkan dia.

Bersambung...

Wallahua'lam

May 29, 2026

KISAH RASULULLAH ﷺ Bagian 78

KISAH RASULULLAH ﷺ

Bagian 78

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّد

Perang Badr Kubra Peperangan Islam Pertama yang Menentukan

Dua Pasukan saling Berhadapan

Setelah selesai merapikan barisan beliau mengeluarkan instruksi kepada pasukannya agar tidak memulai peperangan sebelum menerima perintah terakhir dari beliau. Kemudian, beliau memberikan pengarahan kepada mereka secara khusus tentang persoalan perang. Beliau berkata:

“Apabila mereka mendekati kalian, hujanilah mereka dengan panah. Janganlah kalian menghunuskan pedang sebelum mereka mendatangi kalian.”

Kemudian beliau kembali ke lembah ditemani oleh Abu Bakar secara khusus. Sa’ad bin Muadz pun dengan kelompoknya melakukan pengawalan di pintu kemah beliau.

Adapun kaum musyrikin pada hari itu, Abu Jahal meminta keputusan, beliau mengatakan,

“Ya Allah dia telah memutuskan tali persaudaraan dan membawa sesuatu yang tidak kami kenal, maka binasakanlah dia. Ya Allah tolonglah pada hari ini orang yang paling engkau cintai dan paling kau ridhoi di antara kami.”

Tentang hal ini Allah ﷻ berfirman:

إِنْ تَسْتَفْتِحُوا فَقَدْ جَاءَكُمُ الْفَتْحُ ۖ وَإِنْ تَنْتَهُوا فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَإِنْ تَعُودُوا نَعُدْ وَلَنْ تُغْنِيَ عَنْكُمْ فِئَتُكُمْ شَيْئًا وَلَوْ كَثُرَتْ وَأَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُؤْمِنِينَ

Jika kamu (orang-orang musyrikin) mencari keputusan, maka telah datang keputusan kepadamu; dan jika kamu berhenti; maka itulah yang lebih baik bagimu; dan jika kamu kembali, niscaya Kami kembali (pula); dan angkatan perangmu sekali-kali tidak akan dapat menolak dari kamu sesuatu bahaya pun, biar pun dia banyak dan sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang beriman.
Surah Al-Anfal (8:19)

Awal pemicu pertempuran

Awal pemicu pertempuran adalah Al Aswad bin Abdul Asad al Makhzumi (orang yang berperangai buruk) keluar dengan mengatakan,

“Aku berjanji kepada Allah aku harus bisa minum dari tempat penampungan air mereka, atau aku harus menghancurkannya, dan aku harus mati karenanya.”

Ketika ia keluar ia dihadapi oleh Hamzah bin Abdul Mutholib رضي الله عنه. Setelah bertemu, Hamzah segera menyabetkan pedangnya pada kaki Al Aswad, yaitu pada pertengahan betisnya ketika ia berada di depan penampungan air.

Al-Aswad pun jatuh dan kakinya mengucurkan darah, kemudian berangkat menuju penampungan air sambil memasukinya karena ingin memenuhi sumpahnya. Tetapi Hamzah mengulangi pukulannya pada bagian yang lain, ketika ia berada di dalam penampungan air.

Perang Tanding

Terbunuhnya Al Aswad merupakan pembunuhan pertama yang menyulut api pertempuran. Setelah itu tiga orang dari pasukan Quraisy tampil ke depan semuanya dari satu keluarga yaitu Utbah dan Saibah dua lelaki bersaudara anak Rabi’ah dan Al Walid anak Utbah.

Mereka menantang untuk perang tanding, maka untuk menghadapi mereka tampilah tiga pemuda ansor yaitu Auf dan Muawidz, dua lelaki bersaudara anak Al Haris dan ibunya bernama Afra dan Abdullah bin Rawahah.

Tiga orang dari pasukan musyrikin itu bertanya kepada tiga pemuda anshar itu,

“Siapa kalian?”

Mereka menjawab,

“Sekelompok orang dari kaum Anshar”

Tiga pasukan musyrikin itu berkata,

“Kami tidak butuh kalian, kami menginginkan orang-orang yang sepadan dari kaum kerabat kami sendiri.”

Juru bicara mereka kemudian berteriak,

“Hai Muhammad keluarkanlah orang-orang yang sepadan dari kaum kerabat kami sendiri.”

Selanjutnya, Rasulullah ﷺ berkata,

“Bangkitlah hai Ubaidillah bin Al Haris, bangkitlah hai Hamzah dan bangkitlah hai Ali.”

Setelah ketiganya bangkit dan menghadapi pasukan-pasukan musyrikin itu, pasukan musyrikin itu bertanya kepada mereka,

“Siapa kalian?” Setelah dijawab mereka mengatakan,
“Kalian orang-orang yang sepadan dengan kami.”

Ubaidillah orang yang tertua di antara mereka tampil berperang tanding dengan Utbah bin Rabi’ah, Hamzah melawan Saibah dan Ali melawan Alwalid

Hamzah dan Ali tidak menemui kesulitan untuk membunuh lawannya, Utbah dan kawannya masing-masing berhasil melukai lawannya, kemudian Ali dan Hamzah menyerang Utbah dan berhasil membunuhnya, lalu mengangkut Ubaidah yang terputus kakinya.

Ubaidah senantiasa diam sampai mati syahid di Shafra’ setelah empat atau lima hari dari Perang Badr, dan dalam perjalanan pulang menuju Madinah.

Ali berkata bahwa ayat berikut ini turun berkenaan dengan mereka yaitu

هَٰذَانِ خَصْمَانِ اخْتَصَمُوا فِي رَبِّهِمْ ۖ فَالَّذِينَ كَفَرُوا قُطِّعَتْ لَهُمْ ثِيَابٌ مِنْ نَارٍ يُصَبُّ مِنْ فَوْقِ رُءُوسِهِمُ الْحَمِيمُ

Inilah dua golongan (golongan mukmin dan golongan kafir) yang bertengkar, mereka saling bertengkar mengenai Tuhan mereka. Maka orang kafir akan dibuatkan untuk mereka pakaian-pakaian dari api neraka. Disiramkan air yang sedang mendidih ke atas kepala mereka.
Surah Al-Hajj (22:19)

Bersambung...

May 28, 2026

KISAH RASULULLAH ﷺ Bagian 77



اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمد

Peperangan dan Ekspedisi Sebelum Badr


Untuk melaksanakan kedua langkah tersebut, kaum muslimin mulai melakukan gerakan-gerakan militer.

Mereka melakukan patroli militer yang bertujuan menyingkap dan mengenal jalan-jalan yang mengelilingi Madinah,  serta jalan-jalan yang dapat mengantarkan ke Mekah.

Mengadakan perjanjian-perjanjian dengan kabilah-kabilah yang berdomisili di sepanjang jalan tersebut.

Memberikan kesan kepada orang-orang Yahudi dan Arab badui yang berdomisili di sekitarnya bahwa kaum muslimin telah memiliki kekuatan dan mereka telah terbebas dari kelemahan mereka

Serta memperingatkan kepada orang-orang Quraisy terhadap akibat kebohongan mereka sehingga mereka sadar dari kesesatan mereka

Dan merasakan adanya bahaya yang mengancam perekonomian mereka, agar mereka cenderung untuk berdamai dan menghentikan keinginan mereka untuk menyerang kaum muslimin, menghalangi jalan menuju Allah serta menyiksa kaum muslimin yang lemah di Mekah

Agar kaum muslimin pun menjadi bebas untuk menyampaikan risalah Allah di seluruh Jazirah.

Secara ringkas ihwal ekspedisi-ekspedisi itu adalah sebagai berikut :

1.  Ekspedisi Saiful Bahar yaitu pada Bulan Ramadhan tahun pertama Hijriah Rasulullah ﷺ mengangkat Hamzah bin Abdul Muthalib untuk memimpin ekspedisi ini

Ekspedisi ini berkekuatan 30 orang yang terdiri atas kaum Muhajirin untuk mencegah kafilah Quraisy yang datang dari Syam yang dipimpin oleh Abu Jahal dengan kekuatan 300 Orang.

Setelah sampai di Saiful Bahri di sekitar daerah Laut Merah bertemulah pasukan kaum muslimin dengan kafilah Quraisy dan siap untuk bertempur.

Namun Majdi bin Amru al-juhani sekutu Quraisy dan kaum muslimin berjalan di tengah-tengah mereka dan menghalangi mereka sehingga pertempuran pun tidak terjadi.

Bendera Hamzah adalah bendera pertama yang dikibarkan oleh Rasulullah ﷺ warnanya putih dan dibawa oleh Abu Mursyid Kinas Bin Hushain Al Ghanawi.

Setelah ekspedisi Al Kharrar terjadi, ekspedisi selanjutnya adalah

Perang Al Abwa' atau Waddan

Perang ini terjadi pada bulan Safar tahun kedua Hijriyah atau Agustus tahun 623 M.

Setelah mewalikan urusan kota Madinah kepada Saad bin Ubadah Rasulullah ﷺ keluar memimpin langsung pasukan yang berkekuatan 70 orang,  khusus orang-orang Muhajirin untuk mencegah kafilah Quraisy.

Setelah tiba di Waddan, beliau tidak menjumpai pasukan Quraisy.

Dalam peperangan tersebut Beliau mengatakan perjanjian persekutuan dengan Bani Dhamrah,  yang ketika itu pemimpinnya adalah Amru bin Makhsya Adh Dhamri.

Naskah perjanjian tersebut adalah sebagai berikut

Ini adalah surat perjanjian dari Muhammad ﷺ kepada Bani Dhamrah, sesungguhnya harta dan diri mereka aman dan mereka berhak mendapatkan pertolongan jika diserang.

Kecuali apabila mereka memerangi agama Allah.

Apabila Nabi ﷺ mengajak mereka untuk menolongnya, mereka akan menyambutnya.

Waddan terletak antara Mekah dan Madinah.

Antara Waddan dan Rabigh setelah Madinah 29 mil dan Abwa' terletak di dekat Waddan.

Inilah peperangan pertama yang diikuti oleh Rasulullah.

Kepergian beliau itu selama 15 malam benderanya berwarna putih dan pembawanya adalah Hamzah bin Abdul Mutholib.

Setelah Perang Al Abwa' atau Waddan terjadi, ekspedisi selanjutnya adalah

Perang Buwath

Perang Buwath terjadi pada bulan Rabiul awal tahun kedua Hijriyah atau September 623 M.

Rasulullah ﷺ keluar memimpin pasukan berkekuatan 200 orang dari para sahabatnya, untuk mencegah kafilah Quraisy yang berkekuatan 100 orang di bawah pimpinan Umayyah bin Khalaf Al-Jami

Kafilah itu membawa 2500 unta.

Setibanya di Buwath di sekitar Ridhwa, beliau tidak menjumpai kafilah.

Dalam peperangan tersebut beliau mewakilkan urusan kota Madinah kepada Saad bin Muadz.

Benderanya berwarna putih dan dibawa oleh Saad bin Abi Waqqash radliyallahu anhu.

Perang Sawan

Perang Sawan terjadi pada bulan Rabiul awal tahun kedua Hijriyah atau September tahun 623 M.

Karz bin Jabir Al Fihri dengan pasukannya dari kaum muslimin menyerang pinggiran kota Madinah dan merampas beberapa binatang ternak.

Karena itu Rasulullah ﷺ keluar dengan para sahabatnya bersekutukan 70 orang untuk mengejar pasukan Karz hingga tiba di lembah Safwan yang letaknya tidak jauh dari Badr.

Namun beliau tidak menjumpai Karz dan teman-temannya,  lalu pulang tanpa melakukan pertempuran.

Perang ini disebut juga dengan Perang Badr pertama.

Dalam perang ini urusan kota Madinah diwakilkan kepada Zaid bin Haritsah.

Benderanya berwarna putih dan dibawa oleh Ali bin Abi Tholib.

Setelah Perang Buwath dan Perang Sawan terjadi, ekspedisi selanjutnya adalah

Perang Dzil Usyairah

Perang Dzil Usyairah terjadi pada bulan Jumadil Ula dan bulan Jumadil Akhir tahun kedua Hijriyah atau November dan Desember tahun 623 M.

Rasulullah ﷺ keluar memimpin pasukan berkekuatan 150 (dalam riwayat lain 200) orang kaum Muhajirin.

Dalam hal ini bisa tidak memaksa seorang pun untuk ikut serta dalam peperangan tersebut.

Mereka keluar membawa 30 Onta yang dikendarai secara bergantian untuk mencegah kafilah Quraisy yang berangkat ke Syam.

Telah terdengar berita tentang keberangkatan mereka dari Mekah membawa barang-barang dagangan kaum Quraisy.

Setibanya di Dzil Usyairah, beliau tidak menjumpai kafillah tersebut, mereka telah lolos beberapa hari sebelumnya.

Kafilah inilah yang dicari sepulang mereka dari Syam, dan menjadi penyebab terjadinya Perang Badr Kubro.

_Menurut Ibnu Ishaq, Rasulullah ﷺ berangkat pada akhir Jumadil Ula dan kembali pada Awal Jumadil Akhir.
(inilah yang menjadi penyebab perbedaan pendapat ahli siroh dalam menentukan bulan terjadinya peperangan ini)._

Dalam peperangan ini Rasulullah ﷺ mengadakan perjanjian perdamaian dengan Bani Mudlij dan sekutunya, yaitu Bani Dhamrah.

Pada saat peperangan itu urusan kota Madinah diwakilkan kepada Abu Salamah bin Abdul Asad Al Makhzumi.

Bendera peperangan itu berwarna putih dan dibawa oleh Hamzah bin Abdul muththalib رضي الله عنه.

Bersambung...

Wallahua'lam

May 27, 2026

KISAH RASULULLAH ﷺ Bagian 76



اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّد

Sahabat-sahabat Rasul yang sakit


Aisyah رضي الله عنهما mengisahkan saat Rasulullah ﷺ sampai di Madinah, Madinah kala itu merupakan bumi Allah ﷻ yang paling potensial untuk wabah penyakit demam. Dampaknya banyak sahabat Rasulullah ﷺ yang terjangkit sakit demam.

Allah ﷻ menjaga Rasulullah ﷺ sehingga beliau tidak terjangkit wabah demam.
Abu bakar, Amir bin Fuhairah, dan Bilal tinggal satu rumah. Mereka semua terjangkit wabah demam. Lalu Aisyah menjenguk mereka.

Peristiwa ini terjadi saat hijab belum diwajibkan.
Mereka bertiga diserang demam tinggi yang hanya Allah ﷻ saja yang tahu.

Aisyah mendekat kepada Abu Bakar dan bertanya,
“Bagaimana kabar ayahanda?”

Abu bakar menjawab:
Semua manusia disambut ria oleh keluarganya di pagi hari.
Sementara maut lebih dekat padanya daripada tali sandalnya sendiri.

Aisyah berkata,
“Demi Allah, ayah tidak sadar akan apa yang ia katakan.”

Aisyah mendekat kepada Amir bin Fuhairah, dan bertanya,
“Bagaimana kabarmu wahai Amir?”

Amir Bin Fuhairah menjawab:
Telah aku jumpai kematian sebelum mencicipinya.
Sesungguhnya kematian datang pada para pengecut dari atasnya
Setiap orang itu berjuang dengan kekuatannya
Sebagaimana sapi jantan menjaga kulitnya dengan tanduknya.

Aisyah berkata,
“Demi Allah, Amir tidak menyadari apa yang dikatakannya.”

Adapun Bilal, bila demam menyerangnya, ia berbaring di emperan rumah, dengan mengangkat suaranya sambil berkata:
Wahai, bisakah aku kembali bermalam di Fakh (tempat di luar Mekah),
Sementara di sekitarku terdapat Idzkhir (nama pohon beraroma wangi) dan Jalil (nama tumbuh-tumbuhan),
Mampukah suatu saat aku berada di mata air Majannah?
Adakah Gunung Syamah dan Gunung Thafil terlihat olehku?

Aisyah lalu menceritakan apa yang ia dengar kepada Rasulullah ﷺ.

Doa untuk Para Sahabat

Aisyah ra berkata kepada Rasulullah ﷺ,

“Mereka bertiga bicara asal-asalan dan tidak sadar dengan apa yang mereka ucapkan akibat serangan demam tinggi.”

Rasulullah ﷺ berdoa,

“Ya Allah, jadikanlah kami mencintai Madinah sebagaimana telah Engkau jadikan kami mencintai Mekah, atau kokohkanlah rasa cinta kami kepada Madinah. Berilah kami keberkahan di dalam mud, dan sha’ Madinah (yakni makanannya). Alihkan serangan wabahnya ke Mahyaa’h.”

Mahyaa’h adalah Al-Juhfah.

Akibat serangan demam ini banyak sahabat yang mengerjakan shalat dengan cara duduk.

Rasulullah ﷺ keluar menemui mereka yang kala itu menunaikan shalat dengan cara duduk dan berkata,

“Ketahuilah wahai sahabat-sahabatku bahwa shalat orang yang duduk itu pahalanya setengah shalat orang yang berdiri.”

Maka para sahabat berupaya untuk berdiri sekuat mungkin walaupun mereka demikian lemah dan sedang sakit dengan harapan mendapatkan pahala.

Penanggalan Hijrah

Rasulullah ﷺ sampai di Madinah pada hari senin 12 Rabiul Awwal. Pada saat waktu Dhuha berakhir, saat matahari tidak begitu panas.
Rasulullah ﷺ sampai di Madinah saat usia beliau 53 tahun, 13 tahun setelah beliau diutus menjadi Nabi dan Rasul.
Rasulullah ﷺ tinggal di Madinah pada akhir Rabiul Awwal, Rabiul Akhir, Jumadil Ula, Jumadil Akhir, Rajab, Sya’ban, Ramadhan, Syawal, Dzul Qa’dah, dan Dzul Hijjah.
Pada bulan-bulan inilah dan bulan Muharram tahun berikutnya Rasulullah ﷺ tidak berperang melawan kaum musyrikin.

Pada bulan Shafar, tepat setahun setelah kedatangan Rasulullah ﷺ ke Madinah, beliau keluar untuk berperang dan berjihad untuk melawan musuhnya sesuai yang Allah ﷻ perintahkan, serta memerangi orang-orang musyrik.
Rasulullah ﷺ menunjuk Sa’ad Bin Ubadah sebagai penggantinya di Madinah selama beliau berada di medan jihad.

Diijinkan Berperang

Dalam situasi genting yang dapat mengancam eksistensi kaum muslimin di Madinah di mana kaum Quraisy tidak sadar dari kesesatannya dan sama sekali tidak mau menghentikan kejahatannya, Allah ﷻ mengizinkan kaum muslim untuk berperang. Allah ﷻ berfirman,

أُذِنَ لِلَّذِينَ يُقَاتَلُونَ بِأَنَّهُمْ ظُلِمُوا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ نَصْرِهِمْ لَقَدِيرٌ

Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu,
Surah Al-Hajj (22:39)

Ayat tersebut turun dalam rangkaian ayat yang menunjukkan kepada mereka bahwa izin tersebut hanyalah untuk menyingkirkan kebatilan dan menegakkan syiar-syiar Allah ﷻ.

الَّذِينَ إِنْ مَكَّنَّاهُمْ فِي الْأَرْضِ أَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ ۗ وَلِلَّهِ عَاقِبَةُ الْأُمُورِ

(yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan sholat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma´ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.
Surah Al-Hajj (22:41)

Pendapat yang benar dan tidak ada pilihan lain bahwa izin tersebut diturunkan di Madinah, setelah hijrah tidak di Mekah.

Sikap bijak harus diambil untuk menghadapi kondisi saat itu di mana sumber utamanya adalah kekuatan dan kesewenang-wenangan kaum Quraisy.

Kaum muslimin harus membentangkan kekuasaan mereka pada jalur perdagangan dari Mekkah ke Syam. Dalam hal ini Rasulullah ﷺ menempuh dua langkah yaitu:

Pertama mengadakan perjanjian persekutuan atau perjanjian untuk tidak melakukan permusuhan dengan kabilah-kabilah yang berdekatan dengan jalur perdagangan itu.
Di samping itu mengadakan perjanjian persekutuan atau tidak mengadakan permusuhan dengan kabilah Juhairah, sebelum melakukan kegiatan militer.

Kedua melakukan ekspedisi-ekspedisi secara bergantian ke jalur tersebut

Bersambung...

May 26, 2026

KISAH RASULULLAH ﷺ Bagian 75


اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمد

Merindukan Mekah


Dapatkah kita bayangkan perasaan kaum Muhajirin yang terusir paksa dari Mekah, tanah kelahiran mereka sendiri.

Rasa rindu akan Mekah semakin lama semakin besar.

Banyak sekali hal yang membuat kaum Muhajirin merasa demikian sebab Mekah bukan sekedar tempat lahir, melainkan juga merupakan kota yang luar biasa.

Di Mekah terdapat Ka'bah, rumah Allah yang dibangun oleh Nabi Ibrahim, tempat para penduduk dan bahkan seluruh orang Arab berziarah.

Kewajiban berziarah ke Ka'bah sudah begitu mendarah daging dalam diri orang Arab, baik itu Muslim maupun bukan.

Kewajiban suci itu tidak bisa dilepaskan begitu saja, meski orang Quraisy pasti akan mencegah kedatangan setiap Muslim.

Selain itu, di Mekah masih tertinggal keluarga yang mereka cintai walaupun masih dalam kehidupan syirik karena menyembah berhala.

Keluarga inilah yang sudah sangat ingin mereka ajak ke dalam kehidupan Islam.

Di Mekah pula masih tertinggal harta benda dan barang perdagangan yang disita Quraisy tatkala mereka berhijrah.

Rasa rindu kaum Muhajirin pada Mekah semakin besar karena mereka telah keluar dari kota itu akibat tindakan keras Quraisy.

Bukan menjadi adat orang-orang Mekah untuk menyerah terhadap ketidakadilan tanpa melakukan pembalasan.

Bahkan Rasulullah sendiri tidak kuasa melupakan Mekah.

Di Mekah sana terkubur jasad Khadijah, kekasih yang sangat beliau cintai.

Tidak ada negeri yang lebih beliau sayangi melebihi Mekah, tanah tumpah darah yang menimbulkan begitu banyak kenangan.

Suatu hari, seorang lelaki datang berhijrah dari Mekah. Ia menemui Rasulullah dan Aisyah.

"Bagaimana situasi Mekah saat kau tinggalkan ?" tanya Aisyah.

Laki-laki itu menggambarkan keadaan rumah-rumah, padang-padang tandus, jalan, pasar-pasar yang hiruk pikuk, serta bunga-bunga yang tumbuh di tepi jalan menuju perbukitan.

Suaranya penuh pilu dan sedih.

Kerinduan Rasulullah begitu memuncak sehingga kedua mata beliau berkaca-kaca penuh linangan air mata.

"Cukuplah, jangan kau bangkitkan kerinduanku," demikian ucap Rasulullah.

Namun, di tengah kerinduan dan beban berat mengurus umat, Rasulullah juga dibahagiakan dengan pernikahan putri bungsunya, Fathimah Az Zahra.

Orang-orang Munafik

Salah satu tokoh paling berpengaruh yang ada di Madinah adalah Abdullah bin Ubay bin Salul Al-Aufi, salah seorang dari Bani Al-Hubla.

Sebelum dan sesudahnya orang-orang Al-Aus dan Al-Khazraj tidak pernah menjadikan Pemimpin lain selain Abdullah bin Ubay bin Salul, sampai akhirnya Islam datang.

Selain itu di Al-Aus terdapat tokoh berpengaruh lainnya yg ditaati dan dihormati kaumnya yaitu Abu Amir Abdu Ann Bin Shaifi bin An Nu'man, beliau adalah orangtua dari sahabat Rasulullah ﷺ yang bernama Hanzhalar Al-Ghasil.

Abu Amir Bin Shaifi biasa dipanggil sebagai Pendeta oleh kaumnya.

Adapun Abdullah bin Ubay bin Salul kaumnya telah mempersiapkan mutiara sebagai mahkota untuk disematkan padanya dan menjadikan dia Raja mereka.

Maka ketika kaumnya berpaling kepada Islam, dia menaruh dendam permusuhan kepada Rasulullah ﷺ dan menuduh Rasul telah mengambil mahkota kepemimpinannya.

Tatkala kaumnya masuk Islam, Abdullah bin Ubay bin Salul ikut masuk Islam namun tetap menyimpan kemunafikan dan dendam kesumat.

Sementara Abu Amir Bin Shaifi memilih tetap pada kekafirannya, ia pergi bersama belasan kaumnya ke Mekah dengan meninggalkan Islam dan Rasulullah ﷺ.

Rasul bersabda

"Janganlah kalian memanggil dia Rahib (Pendeta), tetapi panggilah dia Fasiq."

Sebelum berangkat ke Mekah Abu Amir menemui Rasulullah dan bertanya,

"Agama apa yang engkau bawa ?"

Rasulullah bersabda,

"Aku datang dengan agama yang lurus (hanifiyah).

Agama Ibrahim."

Abu Amir berkata,

"Aku juga menganut agama Ibrahim."

Rasulullah bersabda,

"Engkau tidak menganut agama Ibrahim."

Abu Amir menjawab,

"Betul, aku menganut agama Ibrahim !"

"Wahai Muhammad, Engkau telah memasukkan hal-hal baru ke dalam agama yang lurus (hanifiyah) yang bukan merupakan bagian darinya."

Rasulullah bersabda,

"Aku tidak pernah melakukan itu semua.

Aku datang dengan agama Ibrahim dalam keadaan putih suci."

Abu Amir berkata,
"Seorang pendusta akan Allah matikan dalam keadaan terusir, terasing, dan sendirian."

Rasulullah bersabda,

"Benar !

Barangsiapa berdusta, Allah akan lakukan itu."

Demikianlah yang dilakukan musuh Allah, Abu Amir, ia beranjak ke Mekah.

Abdullah Bin Ubay

Abdullah Bin Ubay Bin Salul tetap terhormat pada pandangan kaumnya.

Hanya saja dia selalu ragu-ragu hingga ia dikalahkan Islam.

Dan dia masuk Islam secara terpaksa.

Suatu hari, Rasulullah ﷺ pergi menunggang keledai bersama Usamah bin Zaid bin Haritsah, di atas keledainya ada kain pelana yang di atasnya terdapat selimut asal Fadak yang diikat dengan serat palem.

Rasulullah berjalan melewati Abdullah Bin Ubay Bin Salul yang sedang bernaung di bawah benteng kecil yang bernama Muzahim.

Abdullah Bin Ubay Bin Salul sedang bersama beberapa orang dari kaumnya.

Tatkala Rasulullah melihat Abdullah Bin Ubay Bin Salul, Beliau ﷺ merasa malu melewatinya dengan mengendarai keledai, maka Rasulullah turun dari keledainya, dan mengucapkan salam lalu duduk sejenak.

Rasulullah membacakan Al Quran kepada Abdullah Bin Ubay Bin Salul, dan mengajaknya kepada agama Allah, mengingatkannya tentang Allah, memberi peringatan keras, memberi kabar gembira, dan ancaman padanya.

Abdullah Bin Ubay Bin Salul diam seribu bahasa.

Setelah Rasulullah selesai berbicara, Abdullah Bin Ubay Bin Salul berkata,

"Wahai Muhammad sesungguhnya tidak ada orang yang lebih baik perkatannya dari perkataanmu.

Apabila yang engkau katakan itu benar, duduk sajalah di rumahmu.

Siapa pun yang datang menemuimu, bicaralah engkau kepadanya.

Sedangkan orang yang tidak datang menemuimu, tidak usahlah engkau bersusah payah datang kepadanya dan mengatakan sesuatu yang orang itu tidak menyukainya."

Abdullah bin Rawahah yang sedang berada bersama beberapa dari kaum Muslimin berkata,

"Benar sekali, biarkan kami yang mengajaknya ke majelis-majelis, kampung dan rumah-rumah kami.

Demi Allah, inilah suatu hal yang kami sukai, sesuatu yang dengannya Allah jadikan kami mulia.

Dan Dia memberi petunjuk bagi kami padanya."

Ketika Abdullah Bin Ubay Bin Salul mendengar kaumnya menentang pendapatnya, ia bersyair :

"Kala tuanmu menjadi musuhmu.

Kau akan senantiasa hina dan lawanmu akan menjatuhkanmu.

Biasakah burung elang harus terbang tanpa sayapnya.

Jika suatu hari bulunya dicabut, ia kan jatuh."

Rasulullah beranjak dari tempat tersebut lalu pergi ke rumah Sa'ad Bin Ubadah.

Ucapan Abdullah Bin Ubay Bin Salul masih terbersit di wajah Rasulullah.

Sa'ad Bin Ubadah berkata,

"Wahai Rasulullah, aku melihat sesuatu terbersit di wajahmu, apakah Engkau baru mendengar hal yang tidak engkau sukai ?"

Rasulullah bersabda,

"Betul sekali."

Sa'ad Bin Ubadah berkata,

"Wahai Rasulullah, bersikap lemah lembutlah kepada Abdullah Bin Ubay Bin Salul.

Demi Allah ketika engkau datang kepada kami, kami telah mempersiapkan mahkota yang akan kami berikan padanya sebagai pemimpin.

Ia beranggapan Engkau telah merampas mahkota kepemimpinan itu darinya."

Bersambung...

May 25, 2026

KISAH RASULULLAH ﷺ Bagian 74



اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمد

Mengalihkan Kiblat ke Ka'bah


Orang-orang Yahudi pun mendatangi Rasulullah dan berkata,

"Muhammad, tentu sudah engkau ketahui bahwa semua nabi dan rasul sebelummu pergi ke Baitul Maqdis.

Di sanalah sebetulnya tempat tinggal mereka.

Jika engkau benar-benar seorang rasul, engkau pasti akan pergi ke sana, bukan ?

Anggap saja Madinah ini sebagai perantara hijrah kamu dan umatmu dari Mekah ke Baitul Maqdis !"

Namun, saat itu juga Rasulullah tahu bahwa mereka berusaha melakukan tipu daya kepada beliau.

Apalagi saat itu kiblat shalat kaum Muslimin adalah Baitul Maqdis, bukan Ka'bah di Mekah.

Namun, sekali lagi, pendapat orang-orang Yahudi tadi dipecahkan oleh firman Allah yang memerintahkan Rasulullah dan kaum Muslimin menghadap Ka'bah saat sedang shalat.

Saat itu, genap tujuh belas bulan Rasulullah berhijrah ke Madinah. Allah berfirman,

قَدْ نَرَىٰ تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ ۖ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا ۚ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۚ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ ۗ وَإِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ ۗ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ

Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai.

Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram.

Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya.

Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.

Surah Al-Baqarah (2:144)

Kaum Muslimin menyambut gembira peralihan kiblat ini.

Sementara itu, orang-orang Yahudi sangat menyesalkan keputusan ini.

Sekali lagi, mereka berusaha melakukan tipu daya dengan mengatakan,

"Kami akan menjadi pengikutmu Muhammad, apabila kamu berada kembali mengubah kiblat ke arah Baitul Maqdis !"

Kembali firman Allah turun membalas kata-kata berbisa ini :

سَيَقُولُ السُّفَهَاءُ مِنَ النَّاسِ مَا وَلَّاهُمْ عَنْ قِبْلَتِهِمُ الَّتِي كَانُوا عَلَيْهَا ۚ قُلْ لِلَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ ۚ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

Orang-orang yang kurang akalnya di antara manusia akan berkata :

Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblatnya (Baitul Maqdis) yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya ?

Katakanlah :

Kepunyaan Allah-lah timur dan barat;

Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus.

Surah Al-Baqarah (2:142)

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا ۗ وَمَا جَعَلْنَا الْقِبْلَةَ الَّتِي كُنْتَ عَلَيْهَا إِلَّا لِنَعْلَمَ مَنْ يَتَّبِعُ الرَّسُولَ مِمَّنْ يَنْقَلِبُ عَلَىٰ عَقِبَيْهِ ۚ وَإِنْ كَانَتْ لَكَبِيرَةً إِلَّا عَلَى الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ ۗ وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَانَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوفٌ رَحِيمٌ

Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.

Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot.

Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah;

dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu.

Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.

Surah Al-Baqarah (2:143)

Yahudi Mengejek Firman Allah

Di tengah pertentangan yang seru antara kaum Muslimin dan Yahudi di Madinah, datanglah delegasi Nasrani dari Najran.

Mereka mengendarai enam puluh buah kendaraan.

Dengan pakaian dari Yaman yang indah, memakai cincin emas dan selendang sutera, orang-orang Nasrani itu langsung menuju ke masjid dan mengerjakan shalat dengan menghadap ke Timur.

Beberapa sahabat hendak menegur, tetapi Rasulullah mengisyaratkan agar mereka dibiarkan.

Setelah shalat, orang-orang Nasrani menghadap Rasulullah dan memberi hadiah berupa permadani indah yang bergambar dan beberapa buah tikar dari bulu.

Rasulullah menolak permadani bergambar dan menerima tikar dari bulu.

Sebenarnya, tujuan orang-orang Nasrani ini adalah untuk menambah keributan antara kaum Muslimin dan orang Yahudi sehingga orang-orang Nasrani dapat diuntungkan.

Begitu bertemu Rasulullah, orang-orang Nasrani berusaha menjelaskan mengapa mereka menganggap Nabi Isa adalah anak Allah dan mengapa mereka menyembah tiga tuhan.

Satu per satu alasan itu dipatahkan Rasulullah.

Bahkan, Rasulullah berbalik mengajak mereka menyembah Allah Yang Maha Esa dan menjelaskan kerasulannya.

Namun, walau sudah demikian jelas Rasulullah menyampaikan kebenaran, para pendeta Nasrani itu terus bersikeras mendustakan beliau.

Mereka tetap mengatakan bahwa Nabi Isa adalah putra Allah dan Allah itu hanya salah satu dari tiga tuhan.

Akhirnya, atas perintah Allah, Rasulullah mengajak mereka ber-mubahalah dengan bersabda,

"Marilah, kami ajak anak-anak kami dan anak-anak kamu, wanita kami dan wanita kamu, diri-diri kami dan diri-diri kamu bersama sungguh-sungguh berdoa, lalu kita jadikan laknat Allah menimpa kepada siapa di antara kita yang berdusta."

Orang-orang Nasrani itu hendak menerima, namun Al Aqib, penasihat tertinggi mereka berkata,

"Sesungguhnya, Muhammad itu adalah nabi yang diutus dan kamu telah mengetahui itu dengan pasti.

Tidak ada suatu kaum yang ber-mubahalah dengan seorang nabi kecuali ia pasti hancur binasa."

Mendengar itu, orang-orang Nasrani memutuskan untuk menolak usul Rasulullah.

Mereka memilih untuk kembali ke Najran dengan tetap memeluk agama mereka.

Sepupu
Orang Arab dan Yahudi (Ibrani) bisa dikatakan merupakan sepupu.

Nenek moyang mereka adalah Nabi Ibrahim.

Putra sulung Nabi Ibrahim, yaitu Nabi Ismail ditempatkan di Mekah dan menjadi leluhur orang Arab.

Sementara itu, putra Nabi Ibrahim yang lain, yaitu Nabi Ishaq, menurunkan bangsa Yahudi.

Bersambung...

May 24, 2026

KISAH RASULULLAH ﷺ Bagian 73



اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمد

Orang-orang Yahudi Mengejek Rasulullah


Suatu saat, Rasulullah berdakwah kepada orang Yahudi.

Saat itu, beliau diiringi oleh beberapa orang sahabat.

Setelah Rasulullah berseru dengan panjang lebar, orang-orang Yahudi menyangkal dan tidak mempercayai beliau.

Maka dari itu, para sahabat maju dan berkata,

"Hai kaum Yahudi, hendaklah kamu sekalian takut kepada Allah !

Demi Allah, sesungguhnya beliau adalah utusan Allah.

Kamu dulu pernah menyebut-nyebut nama beliau kepada kami dan kamu dulu pernah juga menerangkan sifat-sifat beliau ini kepada kami, tetapi mengapa sekarang kamu ingkar ?"

Saat itu, seorang Yahudi bernama Wahab bin Yahudi menyahut,

"Kami sekali-kali belum pernah berkata begitu kepada kamu.

Dan Allah tidak akan menurunkan kitab lagi sesudah kitab Taurat dan tidak pula akan membangkitkan seorang utusan dan nabi lagi sesudah nabi Musa.

Perkataanmu seluruhnya bohong !

Begitu juga dengan seluruh perbuatan kamu, dan sahabatmu yang mengaku rasul itu ?"

Seketika itu juga, Allah menurunkan wahyu kepada Rasulullah yang berbunyi :

يَا أَهْلَ الْكِتَابِ قَدْ جَاءَكُمْ رَسُولُنَا يُبَيِّنُ لَكُمْ عَلَىٰ فَتْرَةٍ مِنَ الرُّسُلِ أَنْ تَقُولُوا مَا جَاءَنَا مِنْ بَشِيرٍ وَلَا نَذِيرٍ ۖ فَقَدْ جَاءَكُمْ بَشِيرٌ وَنَذِيرٌ ۗ وَاللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Hai Ahli Kitab,

Sesungguhnya telah datang kepada kamu Rasul Kami,

Menjelaskan (syari´at Kami) kepadamu ketika terputus (pengiriman) rasul-rasul agar kamu tidak mengatakan :

Tidak ada datang kepada kami baik seorang pembawa berita gembira maupun seorang pemberi peringatan.

Sesungguhnya telah datang kepadamu pembawa berita gembira dan pemberi peringatan.

Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Surah Al-Ma'idah (5:19)

Masih sangat banyak ejekan dan bantahan orang Yahudi terhadap dakwah Rasulullah beserta para sahabatnya.

Orang Yahudi mengatakan bahwa Allah itu fakir, sedangkan mereka kaya.

Ada yang meminta agar Allah menurunkan Al Qur'an dalam bentuk catatan dari langit dan minta agar Allah memancarkan beberapa sungai di tanah Arab untuk orang Yahudi.

Dengan mengejek dan menghina, mereka menyangka bisa merendahkan Islam dan utusan-Nya.

Mereka bahkan berharap kepercayaan kaum Muslimin kepada Rasulullah dan firman Allah bisa digoyah.

Namun, Rasulullah dan para pengikutnya tetap tegar.

Kedengkian orang-orang Yahudi tidak berhenti sampai di situ.

Mereka bahkan berani melakukan perbuatan yang sangat berbahaya bagi kaum Muslimin.

Merasa Lebih Tinggi

Keangkuhan orang Yahudi berasal dari kepercayaan mereka kepada Allah menjadikan mereka bangsa pilihan, bangsa yang lebih tinggi dari semua bangsa lain.

Sikap ini membuat orang Yahudi sangat sulit menyatu dengan masyarakat di setiap negeri yang mereka tinggali.

Yahudi Menghasut

Syas bin Qais adalah salah satu pemimpin Yahudi yang paling keras memusuhi Rasulullah.

Suatu hari, ia melewati tempat berkumpul kaum Muslimin.

Hatinya panas melihat para pemuda Anshar dari suku Aus dan Khazraj duduk bersama dalam persaudaraan yang erat.

Padahal, dahulu kedua suku itu bermusuhan.

Syas bin Qais berkata kepada kawan-kawannya,

"Orang-orang Bani Qaila (Aus dan Khazraj) sudah bersatu.

Demi Allah, kita tidak berarti apa-apa kalau para pemuka Aus dan Khazraj telah terikat persatuan."

Kemudian Syas mengirim seorang pemuda Yahudi yang berkawan karib dengan para pemuda Anshar.

Dengan halus dan licik, pemuda Yahudi itu menyinggung-nyinggung kembali Perang Buath yang dahsyat di masa saat itu, pihak Aus dapat mengalahkan Khazraj.

Ternyata, hal itu memang membangkitkan ingatan masa lampau yang pahit.

Para pemuda Anshar dan Aus dan Khazraj lalu bersitegang, saling membanggakan diri, dan hanyut dalam pertengkaran.

"Demi Allah !

Kalau kamu mau, mari kita hidupkan kembali peperangan hebat itu !"

Sahut salah satu pihak berteriak marah.

"Marilah kita lakukan !

Marilah kita lakukan !

Perjanjian kamu di Adh Dhahirah !

Senjata !

Senjata !

Sahut yang lain panas.

Dengan cepat peristiwa itu sampai ke telinga Rasulullah.

Segera saja beliau pergi menemui kedua kelompok itu bersama beberapa orang sahabat.

"Wahai kaum Muslimin !

ALLAH ! ALLAH !" demikian seru beliau.

"Apakah kamu menyerukan kembali ke masa jahiliah sedang saya masih ada di hadapan kamu ?

Setelah Allah memberi petunjuk Islam kepadamu ?

Dan setelah Allah memuliakan kamu dengan Agama ini ?

Dan Ia telah memutuskan dari kamu urusan-urusan jahiliah ?

Dan Ia telah menyelamatkan kamu dari kekafiran ?

Dan Ia telah mempersatukan dan menjinakkan hati-hati kamu dengan Islam ?"

Rasulullah mengingatkan mereka bahwa Islam telah mempersatukan dan membuat mereka benar-benar bersaudara, membuat semua saling mencintai.

Lalu, luruhlah segala kemarahan.

Di depan Rasulullah, mereka berpelukan sambil menangis.

Semuanya lalu beristighfar dan memohon semoga kiranya Allah mengampuni mereka.

Wujud Ukhuwah

Ukhuwah adalah persaudaraan.

Salah satu wujudnya dalam Islam adalah mengucapkan salam kepada sesama Muslim, menengok yang sakit, menghibur orang yang tertimpa musibah, bersama menolak kejahatan, berbagi kegembiraan, memaafkan orang yang bersalah, dan menghentikan gosip tentang tetangga, entah gosip itu baik atau buruk.

Bersambung...