adsense

February 14, 2026

PERSIAPAN PUADA RAMADAN

Terima kasih Semoga bermanfaat Dan menjadi ladang pahala Persiapan Ramadhan untuk Meraih Lailatul Qadar: Panduan Lengkap Berbasis Dalil

Persiapan Optimal Menyambut Ramadhan

Strategi Terpadu Meraih Kemuliaan Lailatul Qadar Berdasarkan Al-Qur'an, Hadis, dan Ijma' Ulama Salaf

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Ramadhan adalah bulan yang dinanti-nantikan oleh seluruh umat Islam di dunia. Bulan ini tidak hanya sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga merupakan ladang keampunan dan pintu menuju peningkatan derajat di sisi Allah subhanahu wa ta'ala. Puncak dari segala kemuliaan di bulan suci ini adalah hadirnya Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan [4].

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an:

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ
"Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan." (QS. Al-Qadr: 3) [4]

Meraih malam yang penuh berkah ini tidak bisa dilakukan secara instan. Diperlukan persiapan matang baik fisik, mental, spiritual, dan intelektual, agar kita benar-benar menjadi hamba yang siap menyambut dan mengisi Ramadhan dengan amalan-amalan terbaik. Artikel ini akan memaparkan secara komprehensif persiapan-persiapan tersebut berdasarkan tuntunan Al-Qur'an, Hadis sahih, serta pemahaman para ulama salaf yang saleh.

1. Persiapan Ruhiyah dan Fisik: Membangun Fondasi yang Kokoh

a. Perbanyak Puasa Sunnah di Bulan Sya‘ban

Salah satu persiapan paling utama yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ adalah memperbanyak puasa di bulan Sya‘ban. Ini bukan sekadar latihan fisik, tetapi juga bentuk kecintaan dan kerinduan kepada Ramadhan. 'Aisyah radhiyallahu 'anha meriwayatkan:

مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ قَطُّ إِلَّا رَمَضَانَ، وَمَا رَأَيْتُهُ فِي شَهْرٍ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ
"Aku tidak pernah melihat Rasulullah ﷺ berpuasa sebulan penuh secara sempurna selain di bulan Ramadhan, dan aku tidak pernah melihat beliau lebih banyak berpuasa dalam suatu bulan daripada di bulan Sya‘ban." (HR. Bukhari dan Muslim) [3]

Usamah bin Zaid radhiyallahu 'anhuma juga bertanya mengapa Rasulullah ﷺ sangat giat berpuasa di Sya'ban. Beliau menjawab:

ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ، وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ، فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ
"Itu adalah bulan yang sering dilalaikan oleh manusia, yaitu bulan antara Rajab dan Ramadhan. Bulan itu adalah bulan diangkatnya amal-amal kepada Tuhan semesta alam. Maka aku suka jika amalku diangkat sementara aku dalam keadaan berpuasa." (HR. An-Nasa'i dan Abu Daud, dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah) [3]

b. Menjaga Kesehatan dan Stamina Fisik

Rasulullah ﷺ mengingatkan pentingnya memanfaatkan kesehatan sebelum datang masa sakit. Dalam hadis riwayat Al-Hakim, beliau bersabda:

اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، وَغِنَاءَكَ قَبْلَ فَقْرِكَ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ
"Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara: masa mudamu sebelum masa tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, waktu luangmu sebelum waktu sibukmu, dan hidupmu sebelum matimu." (HR. Al-Hakim) [3]

Menjaga pola makan, istirahat cukup, dan berolahraga ringan menjelang Ramadhan adalah bagian dari ikhtiar agar ibadah di bulan suci, terutama di sepuluh malam terakhir, dapat dijalankan dengan prima dan penuh semangat [3].

c. Membersihkan Lingkungan dan Hati

Kebersihan adalah sebagian dari iman. Menyambut tamu agung (Ramadhan) tentu kita siapkan tempat yang bersih dan nyaman. Membersihkan rumah dan masjid dari kotoran fisik membantu menciptakan suasana khusyuk dalam beribadah, sebagaimana firman Allah tentang ciri orang beriman, "Yaitu orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya." (QS. Al-Mu'minun: 1-2) [3].

2. Persiapan Intelektual: Membekali Diri dengan Ilmu

Mempelajari Fikih Puasa dan Ibadah Ramadhan

Sebuah ibadah tidak akan diterima jika tidak dilakukan dengan benar sesuai tuntunan. Oleh karena itu, mempelajari ilmu tentang puasa, shalat tarawih, zakat fitrah, dan i'tikaf adalah kewajiban setiap muslim. Hal ini sejalan dengan sabda Nabi ﷺ:

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ
"Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, niscaya Dia akan memahamkannya dalam urusan agama." (HR. Bukhari dan Muslim) [3]

Dengan bekal ilmu, kita dapat membedakan mana yang rukun, sunah, serta hal-hal yang membatalkan puasa, sehingga ibadah yang dilakukan tidak sia-sia [3].

3. Persiapan Spiritual: Peningkatan Kualitas Ibadah Selama Ramadhan untuk Meraih Lailatul Qadar

Setelah memasuki bulan Ramadhan, persiapan selanjutnya adalah "eksekusi" amaliah. Tujuan utamanya adalah istiqamah dalam beribadah, dengan fokus utama pada sepuluh malam terakhir. Para ulama salaf sangat perhatian pada sepuluh malam ini. Al-Habib Mohammad bin Alawi al-Idrus dalam kitabnya menjelaskan beberapa amalan sunnah untuk menyongsong malam istimewa ini [8].

a. Meluruskan Niat dan Tekad (Iman dan Ihtisab)

Landasan pertama adalah niat yang ikhlas karena Allah dan penuh keimanan. Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
"Barangsiapa yang bangun (untuk beribadah) pada malam Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan keikhlasan (mengharap pahala), niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lampau." (HR. Bukhari dan Muslim) [8]

Tanpa niat yang benar, seseorang bisa saja sibuk beribadah tetapi kehilangan esensi Lailatul Qadar [8].

b. I'tikaf: Berdiam Diri di Masjid

I'tikaf adalah sunnah utama yang selalu dilakukan oleh Nabi ﷺ, terutama pada sepuluh hari terakhir Ramadhan. 'Aisyah radhiyallahu 'anha meriwayatkan:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ
"Nabi Muhammad ﷺ melakukan i'tikaf di sepuluh akhir bulan Ramadhan sampai beliau wafat." (HR. Muslim) [2]

Bahkan di tahun wafatnya, beliau beri'tikaf selama dua puluh hari [2]. I'tikaf adalah strategi ampuh untuk menjaga hawa nafsu dari perbuatan tidak baik dan memaksimalkan interaksi dengan Allah [2].

c. Memperbanyak Membaca Al-Qur'an (Tadarus)

Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Qur'an. Malaikat Jibril 'alaihissalam setiap malam di bulan Ramadhan selalu datang untuk tadarus Al-Qur'an dengan Nabi ﷺ [1]. Dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, beliau bersabda:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ أَجْوَدَ النَّاسِ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ، وَكَانَ جِبْرِيلُ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ...
"Rasulullah ﷺ adalah orang yang paling dermawan. Dan beliau lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan ketika Jibril menemuinya. Jibril menemuinya setiap malam di bulan Ramadhan untuk mengajarkan (tadarus) Al-Qur'an..." (HR. Bukhari dan Muslim) [1]

Imam An-Nakha'i, seorang ulama salaf, bahkan meningkatkan bacaannya di sepuluh malam terakhir dengan mengkhatamkan Al-Qur'an setiap dua malam sekali [8].

d. Memperbanyak Doa: "Allahumma Innaka 'Afuwwun..."

Doa adalah intisari ibadah. Di malam yang mulia ini, 'Aisyah radhiyallahu 'anha bertanya kepada Nabi ﷺ, "Wahai Rasulullah, jika aku mengetahui malam Lailatul Qadar, apa yang harus aku baca?" Beliau menjawab:

قُولِي: اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
"Bacalah: 'Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf dan menyukai permintaan maaf, maka maafkanlah aku'." (HR. Ahmad, Tirmidzi, Nasa'i, dan Ibnu Majah) [1]

e. Memperbanyak Sedekah dan Kebaikan Sosial

Kedermawanan Rasulullah ﷺ meningkat drastis di bulan Ramadhan, melebihi angin yang berembus [1]. Sedekah di bulan ini memiliki keutamaan berlipat ganda. Dalam sebuah riwayat dinyatakan:

الْعَمَلُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ وَالصَّدَقَةُ وَالصَّلَاةُ وَالزَّكَاةُ أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ
"Perbuatan baik seperti sedekah, salat, dan zakat yang dilakukan pada malam Lailatul Qadar lebih utama daripada perbuatan baik yang dilakukan selama seribu bulan." [8]

4. Kapan Lailatul Qadar Terjadi? Pandangan Ulama dan Ijma'

Hadis Petunjuk Waktu

Rasulullah ﷺ memberikan petunjuk yang jelas tentang waktu pencarian malam mulia ini:

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ
"Carilah Lailatul Qadar itu pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan." (HR. Bukhari dan Muslim) [6]

Dalam riwayat lain, beliau mengkhususkannya pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir [5].

Keberagaman Pendapat Ulama dan Ijma'

Para ulama berbeda pendapat tentang tanggal pastinya. Berikut adalah ringkasan pendapat dalam kitab-kitab klasik [6][9]:

  • Pendapat Mayoritas (Mazhab Syafi'i dan lainnya): Lailatul Qadar terjadi pada salah satu malam ganjil di sepuluh hari terakhir, dan tanggalnya tidak berpindah-pindah (tetap setiap tahunnya). Pendapat inilah yang dipegang oleh Imam Nawawi sebagai pendapat resmi mazhab Syafi'i [6].
  • Pendapat Lain: Ada yang mengatakan malam ke-17 (bertepatan dengan Perang Badar dan Nuzulul Qur'an versi sebagian ulama), malam ke-19, malam ke-21, malam ke-23, dan malam ke-27. Pendapat tentang malam ke-27 diperkuat oleh tafsir isyari dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma yang melihat isyarat jumlah huruf dan kata dalam surat Al-Qadr [9].

Terlepas dari perbedaan ini, yang terpenting adalah ijma' (konsensus) ulama bahwa Lailatul Qadar itu ada dan terjadi di bulan Ramadhan, serta anjuran untuk mencarinya dengan sungguh-sungguh di sepuluh malam terakhir. Perbedaan ini justru menjadi rahmat agar umat Islam bersemangat beribadah sepanjang sepuluh malam tersebut [5].

Kesimpulan dan Tabel Ringkasan Persiapan

Meraih Lailatul Qadar adalah impian setiap mukmin. Untuk mencapainya, kita tidak boleh hanya mengandalkan "keberuntungan", tetapi harus melalui persiapan sistematis yang diajarkan oleh syariat. Berikut ringkasan persiapan yang dapat kita lakukan:

Tahap Persiapan Dalil / Sumber
Pra-Ramadhan (Sya'ban) Memperbanyak puasa sunnah, menjaga kesehatan, membersihkan lingkungan HR. Bukhari Muslim, HR. Nasa'i, HR. Al-Hakim [3]
Awal Ramadhan Mempelajari fikih puasa dan ibadah Ramadhan HR. Bukhari Muslim [3]
Sepuluh Malam Terakhir Niat ikhlas, I'tikaf, Tadarus Al-Qur'an, Doa "Allahumma innaka 'afuwwun", Memperbanyak sedekah HR. Bukhari Muslim, HR. Muslim, HR. Tirmidzi [1][2][8]

Semoga Allah subhanahu wa ta'ala mempertemukan kita dengan Lailatul Qadar dan menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang diampuni dosanya. Aamiin ya Rabbal 'alamin.